Orasi Ilmiah di Sidang Senat Terbuka

 

“Membangun Karakter Bangsa Melalui Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Fungsi Kepolisian Proaktif dari Perspektif Ilmu Kepolisian”.

Disisi lain Yusef Wandy selaku ketua acara penyelenggara mengatakan sebelum acara puncak yang diisi oleh orasi ilmiah, ada juga serangkaian kegiatan yang melibatkan dosen dan mahasiswa yang dilakukan sebelum acara puncak terebut. “Diisi dengan berbagai kegiatan seperti lomba voli antar fakultas yang melibatkan dosen dan mahasiswa, kegiatan gerak jalan, kemudian juga diisi oleh lomba kegiatan kewirausahaan yang melibatkan mahasiswa setiap fakultas sebagai peserta lombanya,” katanya.

Yusef juga menambahkan dies natalis ini sebagai evaluasi diri bagi sivitas akademik UNLA kedepannya. “Digelarnya dies natalis ini sebagai sarana evaluasi bagi UNLA agar kedepannya bisa lebih baik lagi dan dapat meningkatkan kualitasnya, UNLA harus lebih baik lagi dan tentunya UNLA mampu bersaing dengan universitas lainnya yang terkemuka di Indonesia. Kita terus meningkatkan mutu dan kualitas baik dari tenaga pendidik maupun mahasiswanya sendiri, agar lulusan UNLA dapat bermanfaat dan berdaya saing di lingkungan masyarakat nantinya,” tambahnya.

Asep Johar, mahasiswa Fakultas Ekonomi menuturkan konsep dies natalis tahun ini lebih baik dari sebelumnya. “Biasanya dies natalis digelar diluar kampus tapi tahun ini diselenggarakan di kampus dengan konsep yang bagus, seru, tertata dengan sistematis dari mulai diisi kegiatan akademik dan non akademik. Berbagai lomba yang melibatkan mahasiswa dan dosen ini tentunya sangat baik dan mudah-mudahan UNLA bisa lebih baik, meningkatkan kualitasnya dan tidak kalah saing  dengan universitas lain di Indonesia serta menghasilkan lulusan yang berguna bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Penulis : Annisa, Mey, Iqbal (Tim Momentum)

Perlu adanya Perubahan

Sungguh miris, ketika kenyataan jauh dari harapan. Bertujuan mentecak generasi pejuang,pemikir dan pembaharu, tanpa memberikan fasilitas yang menunjang hal ini sudah jadi “PR” lama kampus hijau ini, terutama masalah fasilitas organisasi kemasiswaan, baik tingkat fakultas maupun universitas.

Tentu saja dengan kurangnya fasilitas, banyak mahasiswa dengan segudang bakat gemilangnya, terpaksa memangkas ekpresinya untuk berkarya. Jika ada wadah berekspresi yang menunjang, saya yakin, teman-teman mahasiswa tentunya akan sangat antusias untuk mengembangkan bakatnya dan berkarya atas nama kampus hijau ini.

Sadar atau memang pura-pura tidak sadar, sampai saat ini kampus begitu sepi. Entah kemana para calon pembaharu itu. Seakan mati suri, atau memang mereka sudah benar-benar punah? Keberadaan mahasiswa yang sepi ini, mengesankan bahwa mereka sudah tidak peduli dengan permasalahan dalam kampus.

Hal menyimbolkan kegagalan kampus dalam membina mahasiswa , yang “konon” katanya ingin mencetak mahasiswa pejuang, pemikir dan pembaharu. Seharusnya sebagai pengemban amanah dapat mengarahkan soft skill dalam lembaga kemahasiswaan yang ada di UNLA .

Apalagi, citra UNLA yang kurang memiliki jual tinggi didunia kerja. Sehingga keberadaan organisasi ini bisa menjadi suatu daya tarik perusahaan atau memiliki soft skill untuk membuat suatu usaha.

Disisi lain, organisasi ini bisa dijadikan suatu kendaraan untuk mencapai tridarma perguruan tinggi . dengan membuat suatu kegiatan yang dapat mengangkat reputasi UNLA dan kepercayaan masyarakat.

Begitu banyak organisasi kemahasiswaan yang mati atau masih hidup pun susah untuk berekspresi. Yang pada akhirnya kembali lagi permasalahan itu disebabkan pada fasilitas yang belum menunjang, sehingga tidak bisa memacu semangat kawan kawan mahasiswa untuk beraktifitas.

Dilihat dari segi bangunan saja, masih banyak organisasi yang tidak memiliki tempat tetap atau yang bisa dikatakan “no maden”. Keberadaan tempat atau sekre ini sangat penting, mengingat dalam sebuah organisasi dibutuhkan sarana untuk berekspresi, berdikusi dan berkumpul untuk bersilaturahim.Hal ini membuktikan dengan fasilitas yang ala kadarnya tidak efektif dan efisien.

Sebagai lembaga Pendidik tentunya UNLA harus dapat menjadi tauladan baik untuk para stakeholder khususnya mahasiswa sebagai calon penerus bangsa nantinya. Selain itu dari pihak fakultas dan universitas, seharusnya memberikan fasilitas yang menunjang untuk kegiatan akademik maupun kegiatan kemahasiswaan.

Karena dengan kondisi organisasi kemahasiswaan yang seperti ini, ditakutkan lambat laun membawa keterpurukan dan pada akhirnya punah.tentunya sangat diperlukan perubahan dan perbaikan secepatnya.

 

Oleh: Yana Junaidar (FE’08)

Pertama kalinya Unla gelar Wisuda di Luar Kampus

Sebanyak 800 mahasiswa dari 5 Fakultas di Universitas Langlangbuana (Unla) akan mengikuti wisuda di Bandung Convention Center (BCC), pada kamis (20/11) mendatang. Penyelenggaraan wisuda yang pertama kali digelar di luar kampus ini, menurut Rusli Nasution, dikarenakan kondisi kampus yang sedang dalam pembangunan sehingga tidak memungkinkan dalam hal kenyamanan serta daya tampung.

”Dalam rangka menghormati dan menjaga kenyamanan para wisudawan, ruangan kita kan masih berantakan karena dibangun disini, nanti tempat parkirkan gak ada. Para wisudawan dan undangan para orang tua itu kan perlu kita hormati jadi kita pilihlah diluar, yang boleh dikatakan biayanya sama saja,” ujar Rusli ditemui di ruangannya.

Tanggapan mahasiswa pun beragam, salah satunya Sisi Matahari mahasiswi Fakultas Teknik, ia mengaku tidak begitu mempermasalah dengan di gelarnya wisuda di luar kampus. ”Kalau untuk tempat wisuda diluar buat saya sih gak masalah, karena melihat alasannya juga kan memang sudah tidak menampung. Terbukti dari tahun sebelumnya, ketika dipaksakan tetap dikampus yang terjadi malah macet panjang dan akses jalan ditutup, sepertinya itu ga bagus. Kalau untuk biaya saya rasa belum ada perubahan 2 tahun kebelakang, dengan biaya segitu ya masih terjangkau,” katanya.

Senada dengan Sisi Matahari, Fariyani Rachmawati mahasiswi FISIP menuturkan, ”Saya setuju saja, dari segi kuantitas untuk tahun sekarang jumlah mahasiswa yang wisuda kan berbeda dengan tahun sebelumnya, dan berhubung kampus kita sedang direnovasi, lapangan yang tidak memungkinkan, juga wisma yang sudah tidak memadai untuk pelepasan jadi setuju-setuju aja sih kalau diadakan di luar kampus. Jadi ga ada lagi yang dibeda-bedain mahasiswa yang cumlaude di dalam dan yang tidak di luar juga,” tuturnya.

Penulis : Kartika (FH’14), Neng Fauziah (IKOM’14)

Proses Belajar Kurang Maksimal, Apa Solusinya?

Bagi mahasiswa baru, kegiatan perkuliahan Tahun Ajaran 2012 sudah bergulir sekitar 3 bulan lamanya. Banyak kesan yang didapat mahasiswa baru dalam perkenalannya dengan kampus Unla. Ya, selentingan komentar tentang sarana dan prasarana bukanlah hal yang baru di telinga kami, Pers Mahasiswa. Merupakan cerita lama ketika mahasiswa Unla berkicau tentang plus minusnya kampus ini. Ruangan yang gak ber-AC lah, kantin yang kurang luas lah, apalagi lahan parkirnya. Semua itu seolah tidak pernah tercari jawabannya.

Disamping itu semua, kegiatan belajar mengajar dosen-mahasiswa-aseisten dosen merupakan hal yang patut diberi sorotan penuh.  Bagaimana tidak, dalam sekilas mata dapat kita jumpai bagaimana proses kegiatan belajar mengajar di kampus ini. Apakah ada sesuatu yang salah, ketika jam perkuliahan berlangsung, kita menemui banyak mahasiswa yang bertengger di koridor kampus sembari menikmati cemilan? Ketika ditanya pun mereka hanya menjawab “ah, keun we lah kuliah mah. Nitip absen weh “. Atau ini “males kuliah ah, soalnya dosennya bikin ngantuk”. Ada apa ini? Adakah sesuatu yang salah di Unla ini?

Kegiatan belajar mengajar merupakan poros utama dalam perkuliahan. Untuk terciptanya kegiatan belajar mengajar yang baik, tidak hanya diperlukan peran aktif mahasiswa dan perangkat pendukung lainnya, baik itu dosen, bahan ajar ataupun alat peraga lainnya. Namun juga diperlukan semangat juang yang tinggi untuk ‘benar-benar kuliah’. Jangan jadikan kuliah sebagai alibi untuk meminta uang bekal, ataupun sekadar mengisi waktu luang. Ingatlah, banyak teman-teman di luar sana yang tidak seberuntung kita. Bersyukurlah, kawan.

Ingatlah, tiada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Jikalau ini terjadi dalam proses belajar, misalnya dosen tidak piawai dalam menyampaikan materi, janganlah berputus asa. Manfaatkanlah sarana yang ada. Mengunjungi perpustakaan untuk menambah referesnsi misalnya, ataupun searching di internet. Tidaklah sulit, bukan? Buatlah keadaan kelas senyaman mungkin demi menunjangnya proses belajar yang kita jalani. Janganlah menyerah dalam menggapai cita-citamu.

Selamat meniti jembatan ilmu di kampus Unla 🙂

 

Oleh : Rahma. Zahra. A/ amazahraa (FKIP)

SESUATU YANG BEDA

“ Hah!! Sudah jam sebelas malam?!! “ teriakku dalam hati ketika
melihat penunjuk waktu di handphone orange kesayanganku.

     Ya, aku dan mJ’ masih berada di sebuah warnet yang berada tepat di
depan kampus kami. Tak ada yang beda, sekedar buka facebook, buka twitter,
buka blog LPM -Lembaga Pers Mahasiswa- , buka email, dan pastinya asalkan
jangan buka baju ya … Hahaha.

     “ Aaaahh masih ada angkot ga ya?! “ kataku resah karena kostan-ku
lumayan cukup jauh dari lingkungan kampus -sekitar Jl. Jakarta-

     “ Tenang aja, angkot Kalapa-Cicaheum tuh 24 jam kok. “ jelas mJ’
menegaskan.

     “ Ah lama, ya udah mau jalan kaki aja deh. “ usilku seraya berjalan
iseng.

     “ Ya sok aja, palingan juga ntar balik lagi, ga berani. “

     Benar saja. Tapi rasanya sudah terlalu lama aku berdiri di bawah
pohon besar depan kampusku. Dan itu hanya untuk menunggu sang supir angkot
menjemputku. Hmm, serasa mangkal mencari mangsa saja. Hahaha.

     Angkot sasaran tak kunjung datang. Kami memutuskan untuk berjalan
ke-arah Kebon Kalapa. Nah, dari sinilah aku menemukan sesuatu yang beda
itu. Sebuah lampu penerangan jalan yang terletak di Jl. Karapitan, tepat di
samping kampus kami. Lha, ada apa gerangan???

     “ Liat ya, lampunya nyala kan?? “ selanya seraya terus berjalan, “
kalau kita lewat pasti mati.!! “

     “ Hahh!! Masa iya bisa gitu?! Boong banget ah, ga mungkin … “

     “ Ehh liat ya … “

     Aduh ada-ada saja. Masa lampu bisa disuruh mati atau hidup sama dia.
Ya, kecuali kalau dia jadi operator lampu penerangan jalan sih percaya
saja. Atau kalau dia bisa bahasa lampu sih bisa jadi. Tapi masalahnya dia
belajar bahasa lampu di mana coba, kalau bener ada, aku juga mau daftar deh.

     Kami berjalan dengan tenangnya seraya tidak sabar ingin membuktikan
ucapan mJ’ padaku. Dan, lewat …

     “ Mati … !!! “ ujar mJ’.

     “ Nah lho, kok bisa pas banget?! “ ucapku sedikit takut. “ Aaahh ini
pasti cuma kebetulan aja yaaa … “

     Jujur, aku sempat merasa takut saat itu. Tapi pikirku, mungkin itu
hanya kebetulan yang memberi  kesempatan. Dan untuk kedua, ketiga, keempat
atau pun seterusnya, mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Namun
pendapatku terpatahkan ketika kami seringkali melewati jalan yang sama, jam
yang hampir sama, dan tentunya lampu yang sama pula. Kalau lampu itu
menyala, pasti langsung mati. Sebaliknya, kalau lampu itu mati, pasti
langsung menyala. Aku hanya bisa tersenyum dengan kejadian konyol yang
selalu berulang-ulang ini.

     Pernah suatu kali, pada situasi yang hampir sama. Aku bermaksud
mengantar temanku, panggil saja Ujan -bukan nama asli- untuk membeli
simcard CDMA di counter dekat mini market. Dan untuk kesana, kami harus
melewati lampu itu. Satu, dua, tiga … Lewat …

     “ Lha kok ga mati??? “ seruku keras, kaget, dan heran.

     “ Apanya yang mati sih? “ ujar Ujan mengerutkan dahi.

     “ Hehehe … Gak kok Jan, ini lampu kok ga mati ya??? “

     “ Hahh!!! Hahhaha … “ Ujan tertawa terbahak-bahak. “ Ya iya lah, masa
harus mati atau idup pas kita lewat sih, ada-ada aja kamu … !!! “
meneruskan tawanya.

     Bodoh. Mungkin bagi orang lain, ini terlihat konyol dan bodoh. Tapi
menurutku ini adalah sesuatu yang beda. Entah rahasia apa di balik semua
yang ku alami, yang jelas ini kenyataan dan bukan sesuatu yang konyol,
apalagi bodoh. Lucunya, aku tak pernah tau kalau sesuatu yang beda ini akan
sangat melekat di otakku sehingga aku dan mJ’ ingin mengabadikannya ke
dalam sebuah tulisan. SESUATU YANG BEDA.

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Posted with WordPress for BlackBerry.