Keelokan Seni Budaya Priangan Timur

Priangan Timur merupakah daerah yang tidak kalah kentalnya melekat dalam benak kita akan eksotis seni, budaya dan panorama yang disajikan oleh masyarakat dan alam sekitar. Melihat seni yang dihasilkan, budaya yang diperlihatkan dan panorama yang begitu saja bisa kita menikmati bersama menampakkan keindahannya sehingga kerap kali kita tersibak kekayaan dan keelokan wilayah-wilayah yang termasuk Priangan Timur.

Kota Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Banjar dan Pangandaran merupakan wilayah yang termasuk Priangan Timur dengan beragam kekayaan yang dimilikinya. Hal ini terlihat dari munculnya bordir, kampung naga, sandal klom, payung geulis dan masih banyak kerajinan, budaya dan panorama lainnya.

Kita sebagai generasi muda harus bisa mendukung keberhasilan seni dan budaya yang dihasilkan wilayah Priangan Timur dalam gerakan ekonomi kreatif agar terciptanya label yang jelas terhadap wilayah Priangan Timur sebagai wilayah eksotis dalam hal pesona yang tercipta di dalamnya.Sehingga dapat menjadi ajang berbagi antar pengusaha, sehingga produk kreatif mereka bisa di jual ke pasar di luar wilayah Priangan Timur.

Sumber : fotokita.net

Oleh : Lita Lestari Utami (IF’12)

Double E and D In Garut

“ Pernah ga sih kamu ngerasa peduli sama orang? “ ujar mJ’
menatapku penuh tanya.

     “ … Hmmm gimana yaaaaa? Aku sih merasa peduli sama orang itu. Tapi
aku ga tau, dia ngerasa aku peduliin atau nggak. Gitu sih ka. “

     “ Oooh gitu ya? … “ ucapnya seraya  mengangguk-angguk pelan.

     Entah ada angin apa di cafe biru malam itu. Kata PEDULI terasa
menggugah ingatan masa lalu mJ’. Dia teringat akan seorang ibu yang
sangat peduli padanya saat dia KKNM ( Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa ) di Desa Mandalasari Kadungora-Garut, tepat tiga tahun yang lalu. Memang, sering kali dia
membicarakan hal itu padaku. Dan aku tau, dia tak mampu lagi membendung
rasa rindunya pada seorang ibu yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya
sendiri.

     “ Hei, lagi ngomongin apa sih? “ seru Dickronez.

     “ Nih lagi ngomongin masalah peduli, eh jadi keingetan ama ibu yang
di Garut. Ga tau tuh … Hahaha …  “ jelas mJ’ berkomentar.

     Aku tertawa kecil dan merasa ikut terbawa akan suasana. Campur aduk.
Senang, sedih, terharu, lucu, rindu, gelisah, dan ambisi beradu dalam
pikiranku. Padahal aku hanya seorang pendengar yang biasanya menanggapi dan
setelah itu lupakan. Mungkin, sebagian orang akan berkata terlalu
berlebihan. Tapi, ya itulah aku. Aku adalah aku. Dan aku ingin selalu
berusaha jujur pada diriku sendiri. Meskipun kadang memang sangat sulit.

     “ Kita tengok ibu itu. Sabtu ini kita harus ke Garut. “ seru
Dickronez, semangat.

     ***

     Brownies coklat mengiringi kepergian kami waktu itu ( 12 Maret 2011
). Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke tempat jauh tanpa orang
tua. Perjalanan panjang yang sebelumnya belum pernah aku tempuh bersama
mereka pun terasa sangat mengesankan. Kamera handphone-ku tak bosan –
bosannya aku arahkan ke setiap sudut jalan. Yah, walaupun bisa dibilang
kurang kerjaan -kalau kata mJ’ sih GJB-. Hehe.

     Dua jam kemudian, Garut menyambut kami ber-empat dengan gema adzan
ashar yang berkumandang. Dan OMG … !!! Aku terkesima oleh hamparan sawah
yang seakan – akan mampu mengantarkan kami ke puncak gunung nirwana.
Sungguh aku ingin sekali mengabadikan momen indah itu. Tapi apa daya, hari
sudah menjelang malam. Hmm.

     Pertama aku melihat sosok seorang ibu Sri. Aku terdiam. Tersirat
jelas kehangatan beliau yang selalu memberikan senyumannya kepada kami. Ya,
tak salah lagi. Aku yang dulu hanya mengenal beliau dari cerita – cerita
mJ’, tak sangka akan bertatap muka langsung dengannya. Dalam hati aku
ingin menangis. Aku rindu pada ibu kandungku sendiri. Tawanya. Kasihnya.
Perhatiannya. Semuanya.

     “ Ayo dimakan singkong gorengnya de … “ kata ibu Sri dengan manisnya.

     Lucu. Ibu Sri ternyata mempunyai seorang anak perempuan yang
ternyata seumuran dengan adikku. Aldi Fernando. Ya, nama gadis itu adalah
Lia. Dia dengan malu – malunya mendekati mJ’ yang dulu memang sangat
dekat dengannya. Bertanya tentang ini, bertanya tentang itu, dan masih
banyak lagi yang lainnya. Tak lama waktu yang aku butuhkan untuk ikut dekat
dengan Lia. Hmm, mungkin karena aku merasa Lia seperti adikku sendiri.
Walaupun berbeda.

     Aku, Driyan, Dickronez, dan Lia bercengkerama di ruang tamu depan,
sedangkan mJ’ mungkin mencoba bersilaturahmi dengan tetangga lainnya.
Ada saja yang kami bincangkan. Dan terakhir, kami pun memutuskan untuk
bermain tebak – tebakan. Suasana dingin pun sedikit terpecahkan. Gelak tawa
yang menang dan yang kalah serasa bercampur aduk melewati rasa canggung
yang sempat bergelambir di pikiranku sebelumnya.

     Semakin lama, semakin kami terlarut. Dan malam pun serasa menjemput
kami untuk segera pulang kembali ke Bandung. Kami pun satu – persatu
berpamitan kepada keluarga ibu Sri. Rasa haru yang dari tadi kupendam pun
tertumpahkan. Bukannya cengeng, tapi saat itu hanya itu yang bisa
kutujukkan. Aku sudah merasa dekat dengan anggota keluarga ini. Meski
beberapa jam bertemu. Tapi, memang sungguh berkesan di hati dan sanubari.

     Mengerti. Arti keluarga sebenarnya dapat kita temukan dimana pun dan
dalam kondisi yang tak terkira sama sekali. Dan aku menemukan kondisi itu
saat aku bertemu dengan keluarga mereka di Garut. Aku bahagia bisa belajar
dan mengenal mereka semua. Baik itu dari berbagai individu maupun
lingkungan. Tak akan aku hapus. Tak akan aku buang. Dan tentunya tak akan
aku lupakan. ( Elchrist, mJ’, Driyan, Dickronez )

Love you all …

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Catatan Kecil yang Tertinggal di Desa Mandalasari “PART 1”

Sangat sulit merampungkan tulisan ini padahal tidak ada kesulitan yang berarti. Seharusnya mudah saja, tinggal ku buka diary, menandai lembar demi lembar catatan tertanggal bulan Juli sampai Agustus 2009, merangkainya menjadi sebentuk cerita, dipublish di blog ini dan TAA.. DAAA.. kalian dapat membacanya.

Entah kenapa hal sederhana itu menjadi sulit. Entah disebabkan oleh kesibukan yang menyita waktuku beberapa bulan ini atau karena begitu banyak pengalaman tidak menyenangkan yang aku rasakan dalam kisah ini. Tapi bagaimanapun, kisah ini adalah sepotong puzzle dari hidupku. Dan mereka yang terlibat adalah sahabat-sahabat yang tanpa sadar, telah mempunyai ruang di hatiku. Maka.. mari kita nikmati bersama, sekelumit cerita yang aku alami ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Selamat mengapresiasi! 🙂

***

30 Juli 2009
22.12

Pelatihan Bhs. Inggris

Hari ini adalah hari pertama pelatihan Bahasa Inggris untuk anak-anak SD. Untuk kegiatan pelatihan ini, kami meminjam 2 ruangan kelas di SD 04 Mandalasari. Ada sekitar 100 anak yang kami ajar tadi sore. Karena begitu banyak peserta yang berminat, kami membagi pelatihan ini menjadi 2 kelas; A dan B.

Fiuuuuuhh.. mengajar itu ternyata melelahkan.. anak-anaknya sih lucu-lucu tapi tengil. Ketika mengajarkan huruf dan angka, semuanya mudah saja. Namun ketika menginjak sesi dialog, susahnya minta ampun. Mereka sulit sekali melapalkan kata-kata percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris. Kami bekerja keras menjabarkan modul yang kami buat dan membuat mereka berani bicara di depan kelas. Kami bahkan harus ekstra keras bekerja saat menghadapi kerusuhan setiap menitnya yang disebabkan oleh anak-anak supernakal.

Hendik (nama seorang teman) sebetulnya sudah ’greget’ dengan tingkah anak-anak tapi dia tetap semangat mengajar dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, haha.. Aku tidak sempat memantau kelas satunya yang dikomandoi Ilham (nama seorang teman) yang jumlah peserta didiknya lebih sedkit daripada di kelasku. Kelas anak-anak SMP belum dimulai karena peserta didiknya berhalangan hadir.

Kelas Pelatihan Komputer di Balai Desa ternyata lebih parah kondisinya, anak-anak peserta berebut menggunakan PC yang memang Cuma ada 4 unit sehingga waktu yang disediakan tidak cukup. Hal ini diperparah dengan daya listrik di Balai Desa yang tidak stabil sehingga sering anjlok dan membuat listrik padam. Hah.. kasian anak-anak peserta yang sudah mengantri lama untuk bisa ’ngoprek’ komputer.

Malam ini, aku terpaksa tidur agak larut untuk membuat modul untuk bahan ajar besok bersama si Cumi (panggilan seorang teman). Mudah-mudahan kegiatan belajar mengajar besok kelas tidak serusuh tadi.

14 Agustus 2009
21.15
Aku hampir tidak percaya kegiatan hari ini terlaksana. Dengan tubuh yang kurang fit, mempersiapkan sebuah talkshow interaktif anti penyalahgunaan alkohol dan narkoba bukanlah perkara mudah. Apalagi, persiapan talkshow ini tergolong ngebut; 1 minggu. Hari ini, taksiranku persiapan acara baru 80 %, belum optimal. Kemarin, pin dibuat mendadak di ’D Ink’ dan konsumsi pun baru dibeli pagi tadi.

Tujuan dilaksanakannya talkshow ini adalah memberikan pemahaman akan akibat penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Mandalasari. Kejadian tidak menyenangkan dialami oleh ade Mus (nama seorang teman) ketika berkendara di jalanan Mandalasari. Ketika itu beberapa pemuda yang dipastikan sedang mabuk mencoba mengganggunya tanpa alasan yang jelas. Dari kejadian itu, kami berinisiatif untuk memberikan penyuluhan untuk mereduksi dampak negatif akibat alkohol dan narkoba.

Sedari awal talkshow, ketidaksiapan panitia sudah terlihat. Waktu pembukaan molor hingga 1 jam. Narasumber datang terlambat, peserta belum memenuhi target. Pembukaan baru dilaksanakan ketika waktu sudah menjelang ashar.

Di tengah-tengah acara, si Hendik (lagi-lagi) ditumbalkan sebagai narasumber dadakan karena 1 narasumber berhalangan hadir. Untung Hendik punya kemampuan akting yang lumayan sehingga peran pencandu narkoba bisa dilakoni dengan baik. heu.. Syalma dan Ilham juga sukses sebagai MC dan membuat talkshow ini berjalan dengan meriah hingga akhir.

Doorprice jam tangan yang telah disiapkan ternyata didapatkan oleh Bu RW (lupa RW berapa). Aku sempat terharu dengan pernyataannya yang akan terus memakai jam tangan itu supaya tetap ingat dengan para peserta KKN. 🙂

Meskipun dengan persiapan kurang optimal, ternyata talkshow ini bisa memberikan kesan mendalam di hati para peserta terutama para orang-tua. Mereka yang mempunyai anak yang bermasalah dengan alkohol dan narkoba sedikitnya telah mendapatkan cara yang lebih efektif menyikapi anak-anak mereka.

18 Agustus 2009
21.15

Keceriaan pagi tadi masih begitu terasa. Dengan bermodal spanduk beslogan ’Segalanya untuk Desaku, Mandalasari’, tank baja dan pesawat tempur mini, kami berjalan berarak-arakan dari Cilincing Bumi; dusun terujung di Desa Mandalasari menuju Lapangan Kecamatan Kadungora, Garut. Suara Buumm… buumm… menggelegar berkali lipat lebih ’edan’ dari suara petasan. Suara yang memekakkan telinga itu keluar dari selongsong-selongsong bambu yang diisi karbit, seringkali kami namakan ’lodom’. Anak-anak kecil kurang kerjaan memfungsikan lodom-lodom itu sehingga aku dan beberapa orang lainnya lari kocar-kacir keluar dari barisan.

Tidak hanya kami yang ikut dalam arak-arakan itu, ada juga murid SD, tim marcing band, peserta lomba gerak jalan, Pak Kades dan rengrengan, ibu-ibu PKK, bahkan ondel-ondel dan banci ’jadi-jadian’ pun turut serta.
Kurang lebih dua jam kami mengikuti arak-arakan. Kaki keram, banjir keringat dan sesak napas menjadi sahabat di siang tadi. Setibanya di lapang Kadungora, tank baja dan pesawat tempur mini yang kami buat sampai pagi berubah menjadi rongsokan sampah. Tapi tak apalah. Keceriaan yang kami rasa sudah cukup membayar kelelahan kami mempersiapkan pernak-pernik itu.

Di tengah-tengah prosesi upacara, sebagian dari kami mengendap-endap pulang. Yang tersisa mengikuti upacara hanyalah Pak Ketua kelompok dan Aji (nama seorang teman). Sialnya, kami terpaksa pulang naik angkot karena mobil hendik sudah dijejali masyarakat Mandalasari yang juga berniat pulang. :p

Jam sembilan malam, kami sambung keceriaan siang tadi dengan nonton bareng (Nobar). Beberapa film bertema kepahlawanan dan edukasi telah disiapkan. Namun acara nobar mendadak ’garing’ ketika film Laskar Pelangi diputar maka kami lekas menggantinya dengan film Setannya Ko Beneran?, penonton seperti kegirangan dan tidak beranjak dari tempat duduk hingga larut malam. Uhh.. Cuape dehh.. Ternyata di momen seperti ini kurang tepat untuk memutar film edukasi seperti Laskar Pelangi.

(Bersambung)
Oleh : Dessy Andriyani (Ilmu Pemerintahan’06)