Link

DSC06729

Dani M. Iqbal (tengah atas) berfoto bersama ketua PB. Kodrat, M. Alfian Baharudin (tengah bawah) setelah pengalungan medali dalam Kejuaraan Tarung Derajat antar mahasiswa se-Jawa Baratyang dilaksanakan di Bale Santika, Unpad, 7-9 April 2017. Dani meraih medali emas dalam kategori tarung bebas putra kelas 52,1 – 55 kilogram. (taufik/momentum)

Minim Fasilitas, Kaya Prestasi

Bandung, (Momentum).- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tarung Derajat Universitas langlangbuana turut berpartisipasi dalam Pekan olahraga antar mahasiswa daerah (Pomda) se-Jawa barat yang diikuti oleh 99 petarung dari 18 Universitas se-Jawa Barat yang diselenggarakan dari tanggal 7 sampai 9 April 2017 di GOR Bale Santika, Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang.

Tarung Derajat Satlat Unla mengirimkan tujuh atlet, dengan satu orang petarung putri, dan enam orang petarung putra. Enam diantaranya lolos sampai babak semifinal sedangkan satu petarung gugur di awal pertandingan. Kendati demikian Unla mendapatkan enam medali yaitu dua emas, dua perak, dan dua perunggu, dengan begitu Unla menempati urutan 3 juara umum.

Salah satu petarung putri yang ikut dalam kelas 54-58 kilogram di Pomda kemarin, Lita Diana Nurul mendapat medali perunggu mengaku sedikit tidak puas atas performanya pada Pomda kemarin. “mungkin karena kurang fokus, latihan juga kurang fokus, banyak pikiran juga ya, jadi kurang puas aja,” kata Lita setelah selasai Latihan rutin di Lobi Unla,Kamis (13/4).

Namun, bukan hanya kali ini Unla berpartisipasi dalam kejuaraan Tarung Derajat, dari mulai tahun 2011 Unla selalu ikut serta dalam kejuaraan dan hasilnya cukup baik. Hal ini disampaikan pelatih Tarung Derajat Unla, Ilham Faturahman. “Alhamdulillah kita (Unla) kemarin juara 3 di Pomda, ini suatu hal yang sangat bagus, juga merupakan tiket kita untuk maju ke Pekan olahraga Mahasiswa Nasional (Pomnas) yang akan dilaksanakan di Makasar tahun ini”, ujar Ilham saat diwawancarai di Sekretariat Tarung derajat Unla.“Waktu tahun kemarin kita juga turut serta di Pomnas, Alhamdulillah kita dapat dua medali emas,” lanjut Ilham

Menurut Ilham, Tarung Derajat Unla memiliki citra baik di Bandung meski dengan fasilitas kampus yang minim tidak membatasi mereka untuk berprestasi. “Walaupun fasilitas kita terbatas, bahkan bisa dikatakan kurang, tapi kita bisa membuktikan dengan prestasi, Karena Tarung Derajat di Unla terkenal bagus, pertama di jurusan D3 Kepolisian wajib ada Tarung Derajat sebagai mata kuliah, lalu banyak mahasiswa di Bandung menjadikan Unla sebagai ‘kiblat’ Tarung Derajat, walaupun kurang ada perhatian dari Rektorat, juga fasilitasnya minim” tutup Ilham.

Ketika ditanya tentang ada tidaknya latihan tertentu yang dilakukan oleh para atlet sebelum bertarung, Alfian yang juga pelatih Tarung Derajat Unla mengatakan tidak ada latihan yang khusus menghadapi Pomda kemarin. “Semua Latihan kita ada S.O.P-nya dari perguruan pusat, salah satunya bagaimana latihan supaya pukulan menjadi efektif dan keras, itu sudah ada aturannya.Kalo disini (Tarung Derajat) yang paling banyak latihan pasti akan unggul, insyaallah,” jawab Alfian yang juga alumni D3 Kepolisian Angkatan ke-III tersebut.

Alfian juga menegaskan bahwa latihan yang ditekankan disini bukan hanya latihan fisik, tapi juga latihan mental. “kita lebih menekankan pada mental para atlet dan juga anggota, bagaimana caranya supaya tetap tenang saat bertarung dalam tekanan, kita juga mengajarkan kepada anggota supaya berani hidup, bukan berani mati, karena kematian itu pasti, tapi hidup tidak selalu pasti, itu salah satu filosofi dalam tarung derajat,” pungkasnya.

(Meri, Taufik, Simon/Momentum)

Link

UKM Sepak Bola Kesulitan Mendapat Lapangan Berlatih

Bandung, (Momentum).- Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Langlangbuana khususnya Sepak bola, butuh dorongan lebih dari pihak Universitas. Mengingat fasilitas lapangan yang kurang memadai, serta ditambah kesulitannya mendapat sewa tempat untuk berlatih.

Menurut Yadi selaku ketua UKM Sepak bola, kesulitan untuk menjalankan rutinitas berlatih, menjadi hambatan tersendiri bagi UKM Sepak bola. Hal ini terjadi dikarnakan sulitnya mendapat lapangan sewa, khusunya di Bandung dengan fasilitas yang layak dan harga yang terjangkau. “Untuk kegiatan rutinitas berlatih kami belum bisa dikatakan rutin, dikarnakan tempat kami berlatih sulit didapatkan. Terakhir kami bisa menggelar latihan di lapangan Lodaya. itu pun terhambat lagi, karena biaya sewa lapangan Lodaya itu sendiri naik. Belum lagi, sulitnya menemukan tempat berlatih lapangan sepak bola dengan harga yang terjangkau dan layak untuk dipakai,” jelasnya saat ditemui tim Momentum, Kamis (13/4)

UKM sepak bola sendiri, sedang mempersiapkan untuk mengikuti kejuaraan Liga Sepak Bola Mahasiswa se-Jawa Barat (Lismajab). Kejuaraan yang di gelar dibawah naungan PSSI itu bertujuan untuk membina sepak bola maupun futsal tingkat Universitas se-Jawa Barat. Hal ini perlu menjadi perhatian lebih untuk pihak universitas, dikarnakan UKM sepak bola sendiri membawa nama universitas langsung untuk kejuaraan ini. Prestasi yang didapat oleh UKM sepak bola sendiri pun telah membuktikan kiprahnya di kancah kejuaraan ini, dengan hampir masuk ke divisi utama tahun lalu. “Untuk kejuaraan yang diikuti masih belum, tapi kami sedang mempersiapkan untuk kejuaraan Lismajab, kejuaraan yang selalu kami ikuti tiap tahunnya. Bahkan terakhir kami mengikuti kejuaraan ini hampir masuk ke divisi utama. Untuk prestasi yang baru kami dapatkan sebelumnya, dengan mendapatkan runner up di kejuaraan kopertis, yang bertempat di Itenas,” ungkap Yadi.

Yadi berharap UKM sepak bola mendapat dorongan maupun dukungan langsung dari universitas, mengingat nama yang dibawa oleh UKM Sepak bola adalah nama universitas itu sendiri. Selain untuk UKM sepak bola, Yadi pun berharap UKM – UKM lainya harus mendapat perhatian juga khususnya ruangan UKM yang terbilang masih belum memadai. “Harapan kami pihak universitas lebih memperhatikan fasilitas sepak bola kita. Jujur saja, untuk lapangan sewa yang layak pakai saat ini, sulit kami dapatkan. serta untuk kedepannya semoga mendapat dukungan penuh langsung dari universitas, mengingat nama yang dibawa oleh kami adalah nama universitas. Jika kami berprestasi pun, pihak universitas yang akan bangga dan harum namanya. Selain itu, kami juga berharap untuk perhatian lebihnya daripada ukm-ukm lain juga dari segi fasilitas tempat ruangan yang dirasa oleh kami, sangat belum memadai,” harap Yadi.

(Fajar R., Nursyifa, Dara/Momentum)

Link

DSC_0235.JPGKepala Biro Administrasi Kemahasiswaan (BAK) universitas Langlangbuana, Ganjar Turesna melakukan prosesi pelepasan tanda pelatih dan penyematan salijo kepada peserta diklatsar di lapangan basket universitas Langlangbuana, senin (6/3). (taufik/momentum)

 

Diklatsar XXVI Mapela Tanpa Hambatan

Mapela Punya S.O.P yang Jelas

 

Tragedi kematian terhadap mahasiswa mapala UI tidak berpengaruh terhadap kegiatan Mahasiswa pecinta alam Universitas Langlangbuana (MAPELA). Hal ini dibuktikan dengan berlangsungnya Diklatsar XXVI 2017 yang dilaksanakan di berbagai tempat yaitu di Citatah kabupaten Bandung Barat, yang dilanjut ke Situ Ciburuy, dan kabupaten Purwakarta.

Ketika ditanya perihal peran kampus dalam keberlangsungan diklatsar , kepala biro administrasi kemahasiswaan, Ganjar Turesna yang juga menjadi inspektur upacara dalam penutupan diklatsar mengatakan bahwa pihaknya sudah memberikan bantuan fasilitas dan monitoring, antara lain monitoring persiapan kegiatan dan monitoring pelaksanaan kegiatan.

“tentu ada, kita monitoring di tahap persiapan, konsultasi dengan MAPELA tentang kurikulum kegiatannya, itu kita monitoring terus. Dan saya kira pihak MAPELA sudah punya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baik tentang pelaksanaan latihan ini,” Ujarnya.

Peserta yang telah mengikuti pendidikan diharapkan dapat melaksanakan peranya secara penuh dan baik sebagai anggota mapela, maupun menjadi mahasiswa, “harapan saya mereka bisa menjadi anggota yang baik, melaksanakan kegiatan yang dibebankan, juga IPKnya tinggi dan lulus tepat waktu. Karena stigma yang sering disematkan bahwa mahasiswa pecinta alam lulusnya lama, mudah-mudahan mereka bisa membuktikan stigma itu tidak benar,” tutupnya.

Diklatsar berlangsung selama 10 hari, dimulai dari dilaksanakanya upacara pembukaan, jumat (24/2) hingga upacara penutupan, senin (6/3) dengan peserta diklatsar berjumlah 8 orang dari mahasiswa berbagai jurusan.

Dalam pelaksanaanya, tidak ada kendala yang berarti dalam kegiatan diklatsar. hal ini disampaikan oleh Adam Hasby selaku penanggung jawab umum. “ kita selalu antisipasi, kita bekerja sama dengan tim kesehatan dari STIKes Dharma Husada, misalkan ada siswa yang kurang sehat, disitu tim kesehatan masuk, tapi alhamdulillah selama diklatsar tidak ada peserta yang sakit” ujarnya.

“ Perizinan dan lain-lain dari pihak kampus sendiri, itu berjalan lancar. Perihal dana, Alhamdulillah ada dari pihak kampus meskipun tidak sepenuhnya dan jauh dari harapan, tapi setidaknya dapat membantu sedikit-sedikit” sambung Adam ketika ditanya soal peran kampus dalam berlangsungnya diklatsar ini.

Adam juga menyampaikan harapan kepada peserta untuk dapat aktif dalam kegiatan keseluruhan yang dilakukan oleh Mapela, “saya harap mereka (peserta) tidak hanya mengikuti diklatsar saja, setelah ini masih banyak tahapan-tahapan yang harus mereka lewati, mulai dari pola pembinaan, pengembaraan, dan kursus pelatih. Karena di pendidikan ini mereka hanya dapat dasar”. tutupnya.

(taufik/momentum)

Link

Pribadi Ideal Mahasiswa FKIP

img_20161021_133927

Melihat mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang dirasa kurang sesuai dengan paradigma dan cara berpikir kognitif, Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP menggelar seminar pendidikan di Wisma Buana Unla, Bandung, Jum’at (21/10/16).

Menurut Regin Wiragana selaku ketua BEM FKIP, mahasiswa sekarang  memiliki kepribadian yang kurang tepat untuk beradaptasi difakultasnya terlebih khusus FKIP. “Mahasiswa hari ini secara attitude, dari kepribadiannya kurang begitu tepat untuk menyesuaikan dengan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan itu sendiri. Karena saya bandingkan dengan yang lain, FKIP masih kurang dalam paradigma dan cara berpikir kognitifnya itu.” Jelasnya.

Regin juga mengatakan bahwa seminar yang bertemakan Membentuk Pribadi yang Ideal Melalui Performance ini sebagai pengetahuan tambahan diluar dari materi perkuliahan. “selain materi dari perkuliahan dan sebagai doping untuk bisa bersaing di kelas. Secara individu maupun kelompok, berguna dalam keorganisasian dan berkecimpung di masyarakat apalagi sebagai guru,  serta seminar pendidikan ini sangat penting untuk diikuti, mengingat bahwa guru adalah pencetak kader bangsa.” Ujarnya.

Puji Budilestari yang merupakan satu-satunya pemateri di seminar pendidikan tersebut menyadari betapa pentingnya membentuk mahasiswa agar kelak menjadi figur yang patut dicontoh. “Tujuan dari materi yang saya sampaikan itu untuk membentuk mahasiswa yang berpolafikir interdependent, dimana mereka saling bergantung satu sama lain namun dalam hal kreatif. Terutama Fakultas Keguruan yang harus tahu bagaimana menghadapi siswa dan lain sebagainya, maka dari itu seminar ini sangat dibutuhkan.” Jelasnya.

Senada dengan Regin, Ira Melani Asmara selaku ketua pelaksana memiliki tujuan sama yaitu agar mahasiswa FKIP itu sendiri lebih tahu bagaimana membentuk pribadinya menjadi seorang guru. “Tujuan dari seminar ini untuk berbagi ilmu kepada mahasiswa lain dan membantu para mahasiswa khususnya FKIP dalam membentuk pribadinya. Tidak hanya dari segi akademik tetapi juga penampilannya menjadi seorang guru,” Tuturnya.

Astri Gita Mentari selaku peserta seminar, merasakan manfaat dari materi yang disampaikan dalam seminar terebut. “Sangat menginspirasi, menambah wawasan dan kita sebagai calon guru harus memperhatikan penampilan dan performance kita ketika kelak nanti dilapangan.” Ujarnya.

Iqbal/Momentum

Link

img_6577

Doc. Momentum

LAPANGAN TIDAK ADA, UKM TIDAK BERNYAWA

Universitas Langlangbuana hingga kini tak henti bergelut dengan permasalahan kekurangan lahan parkir kendaraan bermotor. Hal ini mengakibatkan sarana penunjang kegiatan mahasiswa dikorbankan untuk menampung sebagian besar kendaraan bermotor, yang nyatanya memang tidak tertampung oleh parkiran utama. Pengalihan fungsi lapangan olahraga ini dikeluhkan oleh beberapa UKM yang memang kegiatannya bergantung pada lapangan.

Stefan salah satu perwakilan UKM basket beranggapan bahwa pengalihan fungsi lapangan olahraga akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan UKM, terutama UKM yang kegiatanya menggunakan lapangan. “Kalau misalnya tidak ada lapangan, kita berlatih dimana? Bagaimana kita mau berprestasi kalau lapanganya tidak ada atau dukungan dari universitasnya tidak ada,” ujarnya. Tambah Stefan, walaupun dengan kondisi seperti ini kami UKM basket tetap berusaha untuk berlatih dengan melakukan perubahan jadwal. “Setiap latihan kami mengambil hari sabtu dan minggu, karena pada hari tersebut hanya sedikit mahasiswa yang kuliah paling juga ditambah dengan mahasiswa kelas karyawan. Tapi biasanya sebelum latihan kami memindahkan motor yang sudah terparkir terlebih dahulu,” tambahnya.

Foto: Iqbal F. R.

Mahasiwa Fakultas Ekonomi ini juga mengungkapkan harapan untuk kedepannya. “Pihak universitas bisa menanggulangi permasalahan lapangan ini, setidaknya untuk beberapa hari lapangan tersebut dapat dipakai oleh UKM. Jadi kita juga bisa memberikan prestasi untuk Unla, kan yang bangga tidak hanya UKM tapi kita juga bawa nama kampus,” tegasnya, Kamis (13/10/2016).

Selain mahasiswa yang tergabung dalam UKM basket, UKM Tarung Derajat pun merasakan dampak dari pengalihan fungsi Lapangan ini. Ketua UKM Tarung Derajat Agung Purnama menuturkan. “Jadwal rutinitas latihan kami sangat terganggu. Sedangkan UKM kami sendiri sangat mengandalkan dari hasil latihan, jadi bagaimana prestasi kami bisa membaik, jika tempat latihan pun tidak ada. Kami berharap semoga lahan parkir tersebut dapat dijadikan lapangan yang semestinya. Jadi UKM yang lainnya pun juga bisa pakai,” tegasnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Langlangbuana yang diwakili oleh Kreesna Swandhika mengungkapkan bahwa pihak BEM sudah mengajukan solusi untuk mengatasi permasalahan lapangan parkir ini. “Beberapa cara sudah pernah dilakukan seperti penyewaan lahan parkir. Tapi susah direalisasikannya,” ungkap Kreesna Jumat (14/10/2016).

Dzulfhah, Wahyu, Revy, Rio / Momentum