Link

1477290047632

Sejumlah warga Unla sedang menjalankan salat jum’at di mesjid sampai ke area koridor Fakultas, Unla, Bandung (21/10). Hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya fasilitas mesjid serta tidak memadainya kapasitas mesjid untuk menampung jamaah.

FOTO: Juansyah, Reva/Momentum

ALIH FUNGSI KORIDOR

Sudah selayaknya setiap kampus menyediakan fasilitas penunjang kegiatan mahasiswa apakah itu fasilitas penunjang dari segi jasmani ataupun rohani. Di Universitas Langlangbuana sendiri beberapa fasilitas penunjang tersebut bisa dikatakan masih dalam lingkaran permasalahan. Seperti halnya lapangan yang kenyataannya diperuntukan sebagai sarana  kegiatan olahraga tapi dialih fungsikan sebagai lahan parkir. Lingkaran permasalahan ini pun ikut menerpa fasilitas peribadatan.

Sering kita lihat di hari jumat kaum laki-laki melakukan shalat jumat hingga ke lorong-lorong Fakultas yang ada di Unla. Permasalahan ini terjadi secara terus menerus dari tahun ketahun. Beberapa pihak menilai hal ini terjadi dikarenakan mahasiswa yang terus meningkat dari tahun ketahun tanpa diimbangi dengan peningkatan kapasitas mesjid. Karena selain mahasiswa Unla tak jarang warga sekitar dan karyawan-karyawan perusahaan yang ada di sekitaran kampus ikut shalat jumat di mesjid Al-Ihklas.

Dilihat dari kapasitas mesjid yang kurang memadai tersebut, semestinya setiap pelaksanaan shalat jumat bisa dipindahkan ke tempat yang bisa menampung semua jamaah shalat jumat, seperti Wisma Buana yang kita tahu sangat luas dan bisa menampung semua jamaah. Karena kenyamanan beribadah adalah hal penting untuk meningkatkan kekhusyukan suatu ibadah.

Disisi lain di hari-hari biasapun banyak desas-desus mengenai kurangnya keamanan di mesjid Al-Ikhlas yang tak jarang banyak mahasiswa yang mengeluh barangnya hilang saat dirinya sedang melakukan ibadah, seperti laptop, tas dan lain sebagainya. Bisa saja dengan memasang CCTV untuk meminimalisir terjadinya pencurian ini, menjadi salah satu solusi yang kongkrit untuk memecahkan masalah-masalah dan keresahan warga sivitas akademik Unla yang ingin melaksanakan ibadah di mesjid Al-Ikhlas.

Reza Padjriana / Momentum

Link

img_6577

Doc. Momentum

LAPANGAN TIDAK ADA, UKM TIDAK BERNYAWA

Universitas Langlangbuana hingga kini tak henti bergelut dengan permasalahan kekurangan lahan parkir kendaraan bermotor. Hal ini mengakibatkan sarana penunjang kegiatan mahasiswa dikorbankan untuk menampung sebagian besar kendaraan bermotor, yang nyatanya memang tidak tertampung oleh parkiran utama. Pengalihan fungsi lapangan olahraga ini dikeluhkan oleh beberapa UKM yang memang kegiatannya bergantung pada lapangan.

Stefan salah satu perwakilan UKM basket beranggapan bahwa pengalihan fungsi lapangan olahraga akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan UKM, terutama UKM yang kegiatanya menggunakan lapangan. “Kalau misalnya tidak ada lapangan, kita berlatih dimana? Bagaimana kita mau berprestasi kalau lapanganya tidak ada atau dukungan dari universitasnya tidak ada,” ujarnya. Tambah Stefan, walaupun dengan kondisi seperti ini kami UKM basket tetap berusaha untuk berlatih dengan melakukan perubahan jadwal. “Setiap latihan kami mengambil hari sabtu dan minggu, karena pada hari tersebut hanya sedikit mahasiswa yang kuliah paling juga ditambah dengan mahasiswa kelas karyawan. Tapi biasanya sebelum latihan kami memindahkan motor yang sudah terparkir terlebih dahulu,” tambahnya.

Foto: Iqbal F. R.

Mahasiwa Fakultas Ekonomi ini juga mengungkapkan harapan untuk kedepannya. “Pihak universitas bisa menanggulangi permasalahan lapangan ini, setidaknya untuk beberapa hari lapangan tersebut dapat dipakai oleh UKM. Jadi kita juga bisa memberikan prestasi untuk Unla, kan yang bangga tidak hanya UKM tapi kita juga bawa nama kampus,” tegasnya, Kamis (13/10/2016).

Selain mahasiswa yang tergabung dalam UKM basket, UKM Tarung Derajat pun merasakan dampak dari pengalihan fungsi Lapangan ini. Ketua UKM Tarung Derajat Agung Purnama menuturkan. “Jadwal rutinitas latihan kami sangat terganggu. Sedangkan UKM kami sendiri sangat mengandalkan dari hasil latihan, jadi bagaimana prestasi kami bisa membaik, jika tempat latihan pun tidak ada. Kami berharap semoga lahan parkir tersebut dapat dijadikan lapangan yang semestinya. Jadi UKM yang lainnya pun juga bisa pakai,” tegasnya.

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Langlangbuana yang diwakili oleh Kreesna Swandhika mengungkapkan bahwa pihak BEM sudah mengajukan solusi untuk mengatasi permasalahan lapangan parkir ini. “Beberapa cara sudah pernah dilakukan seperti penyewaan lahan parkir. Tapi susah direalisasikannya,” ungkap Kreesna Jumat (14/10/2016).

Dzulfhah, Wahyu, Revy, Rio / Momentum

Link

img_0479

Pandji Santosa selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, sedang memberikan sambutan keapada mahasiswa baru yang mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa di Wisma Buana, jumat (14/10). Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 Oktober 2016 di Batu Kuda, Gunung Manglayang, Cileunyi Kab. Bandung.

LIKA LIKU LDKM FISIP 2016



Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menyelengarakan kegiatan latihan dasar kepempimpinan mahasiswa (LDKM) di Batu Kuda, jumat (14/10/2016). Menurut Zahidin selaku ketua BEM FISIP menjelaskan kegiatan ini sebagai sarana mahasiswa agar mampu berkontribusi dan berdedikasi dalam kelembagaan di Universitas Langlangbuana. “Tujuan pertama dari BEM yaitu ingin menjadikan kegiatan LDKM ini sebagai agenda wajib tiap tahun dimasing–masing fakultas terutama FISIP. Jadi tujuan LDKM ini bagaimana kami membangun kader-kader mahasiswa FISIP agar mereka mampu berkontribusi, berdedikasi dalam kelembagaan dimana mahasiswa itu di bentuk menjadi mahasiswa yang aktif, kritis dalam kelembagaan,“ ujar Zahidin.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan ini juga menambahkan dalam mempersiapkan kegiatan ini mengalami beberapa hambatan diantaranya seperti persiapan yang mepet dan pembentukan panitia yang singkat serta dalam pembiayaan pun sempat naik dikarena dana kegiatan yang kurang. “Keluhan pasti ada ya, misalnya persiapan kita mepet hanya satu minggu dan membentuk panitia juga bukan hal yang gampang. kita juga dari segi pendanaan ada kekuranggan sehingga kita menaikan harga LDKM yang semula 150.000 menjadi 175.000 per-orang,” terangnya.

Disamping itu, Difa Alfian Putra selaku ketua pelaksana LDKM FISIP 2016 menjelaskan tempat penyelengaraan LDKM sempat mengalami perubahan dikarenakan tempat yang tidak memadai dan waktu yang sempit. “Kami sempat mengganti tempat penyelenggaran yang awalnya di Ranca Upas, Ciwidey menjadi di Batu Kuda, Ujung Berung. Hal ini terjadi karena  Ranca Upas tempatnya tidak memadai dan banjir serta udaranya pun sedang tidak baik selain itu juga waktu persiapan yang sempit sehingga kami mengambil langkah yang cepat dengan pindah tempat,”  ujarnya.

Dari tahun sebelumnya jumlah mahasiswa yang mengikuti LDKM 2016 meningkat. “Alhamdulillah tahun sekarang peserta yang mengikuti LDKM meningkat, tahun kemarin hanya 60 mahasiswa sekarang menjadi 156 mahasiswa yang menjadi peserta,” tambahnya.

Disisi lain Ahmad Renaldi selaku peserta LDKM mengungkapkan bahwa dirinya sempat tidak setuju dengan kenaikan harga untuk kegiatan LDKM ini. Apalagi  barang bawaan yang di bebankan juga cukup banyak. “Saya berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan tentu bermanfaat bagi saya dan peserta lainya. Serta acara ini bisa lebih baik lagi untuk tahun depan,“ harapnya.

Reza, Gina, Galih (Tim Momentum)