Buruh Ku Kau dan Kita

Posisi manusia dalam mengarungi kehidupan didunia ini adalah setara, sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dihadapan Tuhan, yaitu untuk memakmurkan serta mendayagunakan  seluruh potensi dan kekayaan alam yang diciptakan-Nya. Tidak terkecuali kaum buruh sebagai agen-agen penentu bagi kelanggengan sebuah perusahaan. Tapi sungguh nasib buruh kini sangat mencemaskan, karena banyak perusahaan besar yang hengkang dari Indonesia untuk mencari tempat yang lebih aman. Oleh karena itu banyak buruh yang terkena PHK.

Terlepas dari persoalan itu, posisi buruh di Indonesia memang sangat lemah. Disamping upah buruh sangat kecil mereka juga rentan dengan pemecatan. Jika terjadi salah paham dengan perusahaan maka hampir dipastikan buruhlah yang dikalahkan. Di Indonesia, membicarakan buruh identik dengan membicarakan kaum dhuafa. Sedangkan membicarakan kaum dhuafa identik dengan membicarakan kaum miskin yang jumlahnya mayoritas. Jika melihat konteks tersebut persoalan perburuhan tidak terlepas dari dimensi sosial politik dan moral keagamaan.

Secara sosial-politik, siapapun yang memimpin negeri harus mampu menyelesaikan masalah buruh, minimal mengurangi pengangguran. Selain itu yang menyedihkan lagi adalah nasib tenaga kerja Indonesia diluar negeri, seperti di Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, Malaysia dan lainnya. TKI tidak dianggap seperti tenaga kerja negara lain, sungguh-sungguh dianggap sampah. Tapi anehnya, kita sebagai salah satu komponen bangsa tidak sanggup untuk membela saudara-saudara kita yang teraniaya. Bahkan contoh ketidakpekaan bangsa ini ditunjukan oleh Gubernur Sumut, Rizal Nurdin, yang secara terang-terangan menolak kehadiran TKI yang teraniaya di Malaysia dengan alasan diwilayahnya telah banyak pengungsi dari Aceh.

Penyadaran tidak hanya harus dilakukan kepada para penguasa tetapi diberikan juga kepada kaum buruh secara mendalam. Bagi kaum buruh, dengan adanya penyadaran bagi dirinya maka mereka akan mempertanyakan proses demokrasi Negeri ini dengan membangun kekuatan gerakan kaum buruh, Sehingga berkembangnya organisasi buruh dapat memberikan aspirasi yang menyangkut hak-hak dasar untuk hidup dan mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah. Kebangkitan kaum buruh ini diharapkan dapat menjadi sebuah kekuatan politik yang mampu menunjukan bahwa bangsa Indonesia ini tidak lemah. Kahlil Gibran pernah mengatakan “Bangsa yang lemah adalah bangsa yang menghormati bangsa lain tetapi menindas bangsa sendiri”.

Sumber : Lita Lestari Utami (IF ’12)

Advertisements

2 comments on “Buruh Ku Kau dan Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s