Ketika Sains Meragukan Kehadiran Agama

Credit Photo : Devianart.com

Terciptanya makhluk hidup di bumi dikarenakan kehadirannya sebuah atom pencipta kehidupan. Sedangkan atom pembentuk kehidupan diciptakan karena kehadirannya sebuah peristiwa ledakan besar atau yang kita kenal dengan sebutan big bang. Peristiwa big bang sendiri tercipta karena sebuah titik dimana semua dibuktikan oleh kehadiran para ilmuwan yang dianggap gila karena teorinya yang berlebihan. Kenapa hal tersebut ada ? Bagaimana mereka membuktikannya sedangkan mereka tidak menyaksikan ketika berawalnya sebuah kehidupan. Hanya berasal dari sebuah coretan angka yang kemudian direka dan dibuktikan hasilnya. Maka jadilah teori yang diagungkan oleh umat semesta di dunia.

Isaac Newton (1727 M), menyusun sebuah teori yang dikenal dengan hukum determinisme mekanik. Dalam teori ini dijelaskan bahwa jagat raya ini dikendalikan oleh hukum mekanik, sehingga jagat raya dapat diibaratkan sebagai sebuah mesin raksasa yang beroperasi mengikuti hukum mekanika.

Keberadaan objek yang bisa dijangkau hingga objek yang tidak bisa dijangkau oleh seorang manusia seperti kita dimata Tuhan mampu membuktikan hal yang dulu tabu menjadi hal yang kini sudah jelas dimengerti keberadaannya. Ketika sebuah hadist menjelaskan tuhan menciptakan bumi. Maka dengan ilmu sains kita tahu bagaimana bumi terbentuk sedangkan kita belum hadir saat itu. Proses menerka dan sok tahu lah yang kita punya sebagai makhluk perasa dan egois.

Semua hal yang ada di bumi telah ditakdirkan dan telah dirangkai sedemikian indah dalam sebuah
kitab. Ketika kita mampu membuktikan bahwa apa yang tertera di kitab maka pembuktian kita adalah raja dari segala pemikiran dan keyakinan. Sains sebagai jawaban atas segalanya. Dalam pembuktiannya sains tidak membutuhkan agama karena kita mampu membuktikannya. Seberapa besar campur tangan Tuhan ketika semua pembuktian tidak memasukkan unsur Tuhan dalam pembuktiannya. Alam semesta yang begitu luas dan indahnya bisa kita jabarkan dalam pembuktian sebuah teori relativitas. Hal itu yang telah dilakukan para ilmuwan barat ketika berhasil mematahkan doktrin gereja atas teori geosentrisnya dengan teori heliosentris oleh seorang ilmuwan bernama Copernicus.

Mulai dari sinilah kaum ilmuwan mulai meragukan eksistensi agama termasuk kepercayaan akan adanya Tuhan yang merupakan fondasi dasar dari sebuah agama. Mereka menganggap agama hanya akan menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau dengan kata lain tidak ada hubungan organik antara agama dan ilmu pengetahuan. Implikasinya bisa ditebak, yaitu dengan bermunculannya ilmuwan-ilmuwan yang kemudian menjadi ateis. Mereka tidak percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta. Kalaupun di antara mereka ada yang percaya bahwa Tuhan itu ada dan menciptakan alam semesta, akan tetapi hanyalah sebatas sebagai pencipta saja, tidak dalam proses pengaturan alam semesta.

Meski sebagian besar ilmuwan barat menolak keberadaan Tuhan, namun penemuan modern dalam bidang ilmu pengetahuan malah membuktikan sebaliknya. Salah satunya adalah penemuan yang dilakukan oleh Heisenberg termasuk Einstein dalam bidang fisika kuantum. Dalam teori ini mengemukakan bahwa pada level subatom terjadi gerakan yang tidak teratur yang disebut dengan prinsip ketidakpastian. Dengan kata lain tidak ada sebab-akibat di sini. Teori ini juga merupakan “Tamparan Keras” buat teori mekaniknya Newton yang sebelumnya begitu mendominasi teori ilmu pengetahuan.

Ketika sains dapat menjelaskan sesuatu yang dianggap valid, tapi pada sisi lain ketika sesuatu yang tak tidak masuk akal secara ilmu pengetahuan kemudian dianggap tidak valid dan tidak logis maka di sanalah kepicikan dan kearoganan sains mulai menampak.

Mengutip apa yang Hawking sendiri pernah katakan, “Intelligence is the ability to adapt to change.” Tentu saja ia, dan kita juga, mesti mau untuk tidak selalu menutup sebelah mata tentang kemungkinan keberadaan Tuhan bahkan sebelum segala sesuatu itu ada. Sebelum segala sesuatu itu tercipta. Sebelum big bang itu melahirkan alam semesta. Karena apa? Karena GOD is certainly outside our concept of science and way of thinking. Jauh melampaui yang dapat kita cerna, kaji, dan telaah secara ilmu pengetahuan. Sains dan agama adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa sains adalah lumpuh, Sains tanpa agama adalah buta..

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS ; Al-Baqoroh : 164).

Sumber : Kertanegara, Mulayadi. 2005. The Philoshopers Dari Thales Hingga An-nafis. Hikmah : Jakarta.

Oleh : Lita Lestari Utami (IF’12)

Advertisements

4 comments on “Ketika Sains Meragukan Kehadiran Agama

  1. Pingback: Ketika Sains Meragukan Kehadiran Agama | Restoe's Blog

  2. Sejauh yang aku pelajari dan aku percaya sejarah penciptaan Manusia masih berkaitan dengan sejarah yang ditulis di Kitab – kitab Samawi yang sekarang ada; Taman Eden, Dosa Pertama, dll. Tetapi ada missing link Teori Darwin yang mengkategorikan Manusia sebagai Homo Sapien; penyempurnaan Kera dengan teori yang tertuang dalam ajaran Keagamaan. Aku juga sudah kumpulkan beberapa berkas & pemikiran yang bisa menarik benang merah antara Teori Darwin dengan ajaran Keagamaan tapi masih butuh kajian mendalam & agak sulit dibahas disini, termasuk teori ledakan Big Bang yang tadi dibahas di awal tulisan. (Mungkin bisa kita diskusikan setelah Lita selesai baca buku referensi yang kemarin aku kasih). Itu bisa menjadi jalan tengah dari science & agama yang kesannya bersebrangan.

    Pada hakikatnya, science dibuat untuk menopang dunia religius, begitupun dunia religius berjalan untuk tetap melibatkan science. Tetapi saat itu, di Abad Pertengahan, science dianggap terlalu cepat berkembang sehingga memaksa manusia berpikir tidak sesuai porsinya lagi. Gereja ataupun lembaga keagamaan lainnya tidak pernah berusaha memusuhi science karena secara tidak langsung lembaga keagamaan juga yang melahirkan science. Adapun keraguan mengenai pondasi keagamaan yang ada sekarang, itu kembali kepada kita; mau menghancurkan ajaran atau memperbaharuinya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s