Tiga Kategori Dalam Memaknai Hidup

Banyak arti dalam kata hidup, kalau saja sedikit direnungi arti hidup memang luas. Bagaikan bertualang, menyebrang jalan raya, atau bahkan monoton (kegiatan yang berulang-ulang). Tak hanya itu sebenarnya hidup ini indah bagi orang tanpa beban, tanpa tagihan utang, tapi jarang kita temukan orang tanpa hutang meski seratus perak, tapi utang bukan hanya berbentuk uang, ada juga dalam bentuk jasa karena sering kita dengar utang jasa dari si A ke si B, atau bahkan sebaliknya. Tentu saja tidak, bisa dikatakan hidup ini indah bagi orang yang bisa mengikhlaskan apa yang telah didapatnya selama ini.

Dalam waktu yang sama kita bisa melihat banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh seluruh insan di muka bumi ini. Misalnya saja jam 1 Siang, ada yang sedang belanja, memasak, berada di angkot, mengendarai motor, dalam pesawat, sedang berjualan baju/ hp/ accesories, bersiap pergi ke tempat kerja, sedang makan, masih banyak sebenarnya aktivitas yang dilakukan di muka bumi ini dalam waktu yang bersamaan. Itu sebatas aktivitas tapi apakah mereka termasuk kategori yang bertualang, menyebrang jalan, atau monoton.

Di bawah ini ada tiga kategori dalam memaknai hidup, diantaranya sebagai berikut :
Hidup Monoton
Sangat merugikan diri sendiri dan orang lain katakanlah parasitisme. Bangun ketika ada makan, setelah itu kembali tidur. Besoknya itu lagi, aktivitasnya nonton tv, bergosip, berkelahi, main kartu. Tak ada variasi dalam hidupnya, sangat melelahkan baginya bila disuruh cari uang, karena dalam pikirannya uang hanya bisa diperoleh dengan cara meminta pada orang tuanya atau orang terdekatnya dengan menghalalkan segala cara mungkin saja UNIKO (Usaha Nipu Kolot).

Bertualang
Bagi mereka yang senang bertualang hidupnya selalu ingin bervariasi, penuh tantangan, yang tak bisa diam, selalu mencari tempat mana yang akan dituju begitu seterusnya, tak pernah puas. Baginya hidup terasa lebih nyaman. Ini semua menjadikan orang tersebut dapat memahami karakter orang yang suka marah-marah, cerewet, pendiam, bahkan sampai pada karakter orang yang sulit dipahami pun orang seperti ini bisa mengendalikan dan menghadapinya.

Menyebrang Jalan raya
Mulai rada meningkat, memaknai hidup bagaikan menyebrang jalan raya, bagi sebagian orang menyebrang jalan begitu mudahnya, tapi berbeda di sini terdapat banyaknya kendaraan seperti beca, mobil, truk terutama motor yang ngebut, membuat orang yang akan menyebrang ikut deg-degan dibuatnya. Ibarat tantangan, cobaan atau ujian dalam hidup. Diperlukan sikap yang waspada penuh kehati-hatian, tanpa sikap tersebut maka takutnya jebreeed na’udzubillahimindzalik terjadi hal yang tidak diinginkan. Takut dan berdiam diri menunggu bantuan orang justru aneh rasanya kecuali memang darurat, jika hal itu terjadi maka hidupnya ketergantungan pada orang lain. Jangan menganggap enteng, terdapat ilmu dalam menyebrang jalan contohnya saja sebelum melangkahkan kaki haruslah melihat kanan dan kiri, beberapa pertanyaan ini mewakili keadaan sebenarnya : “mengapa harus menyebrang? kapan saatnya menyebrang? apa perlu menyebrang? berapa banyak kendaraan di kiri dan kanan? kemungkinannya bagaimana apabila menyebrang? dimana pantasnya agar selamat dalam penyebrangan? siapa saja yang akan menyebrang?”
Hal yang sederhana ini bila diperluas dalam kehidupan maka ada pertanyaan “mengapa hidup ini ada cobaan atau ujian?” Tentu saja, namanya juga hidup, untuk mencapai sesuatu yang lebih atau naiknya jabatan, gaji, persiapan dalam pernikahan, khitanan, atau hajatan lainnya pasti akan menghadapi cobaan atau ujian, sudah menjadi lumrah.

Kemudian “kapan saatnya menyebrang?” bisa diartikan “kapan saatnya memecahkan masalah? Tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi, bagaimana menyikapinya, maka diperlukannya waspada dan kehati-hatian penuh dengan ilmu, tapi jangan salah melangkah dalam pencarian solusi seperti permainan catur, jika pemain catur membuat jebakan untuk lawan mainnya, secara hati-hati melangkah untuk mengambil keputusan namun ketika salah ambil dan salah melangkah maka jebakan untuk lawan mainnya akan membalik arah pada dirinya sendiri. Oleh karena itu keputusan harus disegerakan namun tidak sembrono.

Selanjutnya “apa perlu menyebrang?” Artinya “apa perlu hidup?” Hidup ini indah bagi yang menerima apa adanya, mengapa harus bertanya lagi? Bukankah selama ini telah menghirup udara secara gratisan. Tak ada kata sertifikat hak milik udara kan! Ingat, Tuhan telah memberikan kenikmatan, jangan diartikan kenikmatan adalah uang saja yang membuat tidak akan pernah kenyang harta. Akan tetapi justru ketampanan, kecantikan, kepintaran, yang pasti kesempurnaan body adalah kenikmatan luar biasa. Bersyukurlah jika telah memahaminya. Dan hiduplah dengan benar, sewajarnya, nikmatilah indahnya hidup, tapi jangan sia-sia kan hidup.

Pertanyaan lain “berapa banyak kendaraan di kiri dan kanan? Maksudnya “berapa banyak tantangan yang dihadapi?” jangan beranggapan hanya anda yang punya tantangan cobaan atau ujian, boleh jadi selama ini semut dipinggir pantai kelihatan sementara gajah dipelupuk mata tak terlihat. Jangan hanya memecahkan masalah orang lain, sementara masalah sendiri terabaikan begitu saja, lama kelamaan masalah tersebut akan menjadi besar bila tak cepat dibuat solusinya.

Kemudian “kemungkinannya bagaimana apabila menyebrang? Arti sederhananya “kemungkinannya bagaimana apabila menyebrang?” Sudah pasti selamatlah dalam pencapaian tujuan, tersenyumlah semaksimal mungkin, bahagialah, tanpa disadari masalah tersebut dapat teratasi dengan baik.

Ada lagi “dimana pantasnya agar selamat dalam penyebrangan?” dapat diartikan seperti ini “dimana solusi yang pantas bisa didapat dengan selamat?” ada guyonan dalam sebuah percakapan si A bertanya ke si B, “B dimana beli bala-bala?” si B menjawab “ya di warung yang jual bala-bala dong, masa di toko besi” sedikit percakapan tersebut bisa mewakili dalam pertanyaan “dimana solusi yang pantas bisa didapat dengan selamat? Maka cari solusinya disesuaikan dengan masalah tersebut, jangan sampai ngaler ngidul malah bakal jadi masalah baru lagi.

Nah pertanyaan terakhir siapa saja yang akan menyebrang?” sedikit diartikan “Siapa saja yang punya masalah yang sama?” ini semua akan menjadi penguat dalam pencapaian solusi. Jika saja menyebrang sama-sama maka berpikir akan cepat dan selamat. Berbeda yang menyebrang hanya sendiri berpikirnya pun sendiri. Akan tetapi jika dalam menyebrang tidak melihat seorang pun yang ikut menyebrang, maka menyebranglah dengan cara sendiri. Hal ini untuk pendewasaan diri dalam hidup yang indah, dalam sebuah masalah cobalah dimengerti, dipahami, carilah solusi yang baik dengan cara yang baik pula.

Ketiga Kategori ini saya dapatkan dari renungan pribadi, yang tak bisa dipungkiri terinspirasi dari keadaan di jagat raya ini. Sebenarnya jika dijabarkan tidak hanya tiga tapi malah bisa lebih, tapi sampai saat ini untuk globalnya saya rasa tiga kategori inilah orang-orang memaknai hidup. Untuk itu marilah lebih ceria, jalani hidup penuh arti, jangan merugi, tetap senangi. Menurut saya jadilah orang yang cageur, bageur, bener, pinter, singer, maksudnya jadi orang sadar, baik, bener, pinter, singer disini bukan penyanyi tapi segala bisa. Tapi 5r ini jangan sampai ada satu yang hilang, 5r ini saling berkaitan.

Jangan sampai merasa gagal dalam menjalani hidup. Malah karena gagal kita bisa hidup. Buktikan pada diri sebenarnya lebih baik dari orang lain. Kita tidak bisa menjadi Doraemon yang dalam kantongnya terdapat banyak alat untuk hidup bertahan, tapi kita bisa menjadi Doraemon yang dalam pikiran kita mendapatkan ide-ide cemerlang untuk bertahan hidup dengan cara baik dan benar.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan yang selintas tergambar dari pikiran ini.
Tak lupa saya minta kritik dan saran. Terima kasih.
Oleh : Suwarliah (Ekonomi/Akuntansi’12)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s