Keberadaan Air sebagai Basis Kehidupan Kini

Mendeteksi Kehidupan
Pencarian air (H2O) dalam basis kehidupan yang kita kenal saat ini sangatlah penting. Pencarian terhadap air sudah sering dilakukan dan dikaji secara teori oleh beberapa ilmuwan khususnya geologi yang kini tergabung dalam ilmu multidisiplin salah satunya kita kenal dengan kajian ilmu astrobiologi. Astrobiologi adalah ilmu multidisiplin untuk memahami asal kehidupan di Bumi dan menentukan potensi kehidupan di tempat lain di alam semesta. Pertanyaan yang sering diajukan beberapa ilmuwan adalah bagaimana kehidupan dimulai dan berkembang, jika telah ditemukan bentuk kehidupan di tempat lain dari kosmos, bagaimana masa depan untuk kehidupan di planet kita. Meskipun pertanyaan-pertanyaan ini menggoda para ilmuwan untuk memiliki imajinasi mengenai kehidupan di tempat lain, peneliti sekarang baru mampu secara sistematis menyelidiki subjek dari berbagai perspektif, termasuk mikrobiologi, astrokimia, evolusi planet, genomik, atmosfer kimia, geobiologi, dan masih banyak lagi.

Dilihat dari luar angkasa, daratan di bumi muncul dan terlihat sebagai pulau kecil dalam lautan luas. Meskipun ada air di planet dan satelit lain, tetapi belum ditemukan planet dengan permukan lautan seperti bumi. Ukuran planet, jaraknya dari matahari dan geologi yang terbentuk seakan semua saling berinteraksi menghasilkan hamparan besar air yang kita temukan disini dan hari ini.

Diketahui air dalam bentuk cair begitu penting bagi semua bentuk kehidupan, maka pencarian kehidupan lain di alam semesta berpusat pada pencarian air. Beberapa ahli geologi berpikir bahwa gunung berapi meletus akan menghasilkan uap air dan gas-gas lainnya yang kemudian membentuk awal lautan di bumi kita. Beberapa ahli geologi lain mempercayakan bahwa setidaknya beberapa dari lautan yang ada di bumi berasal dari komet dan meteorit yang mengandung air pada saat planet dalam usia muda. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah meteorit yang ditemukan di Texas yang mengandung sejumlah air yang terkandung dalam Kristal halit. Kandungan yang seperti ini dipercaya hadir sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu ketika sistem tata surya sedang dalam tahap pembentukkan. Dalam kristal tersebut dtemukan beberapa bakteri tua yang tertangkap diantaranya.

Para ilmuwan yang mempelajari meteorit, terutama yang kaya akan karbon menemukan bahwa terdapat kandungan air sebesar 20% dari sampel yang mereka miliki. Bukti ini menunjukkan bahwa kemungkinan air terlebih dahulu hadir sebelum bumi terbentuk dan berasal dari benda luar angkasa. Bagaimanapun asalnya, air pertama yang hadir di bumi dalam bentuk uap yang tergantung bebas di atas permukaan planet yang masih panas. Setelah kerak bumi mulai mendingin, uap air mulai terkondensasi menjadi hujan dan kemudian berbaliklah sebuah planet yang tandus kini menjadi apa yang para astronot lihat yaitu planet biru.

Saat ini kita bisa menemukan banyak air di Bumi. Tetapi sebagian besar sekitar 97% adalah air tanpa pengolahan dalam artian tidak untuk diminum atau dipakai karena 2% air terkunci dalam es (air bawah tanah, sungai, danau , dan gunung es yang ada di kutub Bumi). Air dalam bentuk es dapat ditemukan di satelit Jupiter yaitu Europa yang diyakini memilki kandungan air lebih banyak daripada bumi.

Air adalah senyawa dengan dua bagian hidrogen dan satu bagian oksigen. Tidak seperti beberapa planet besar seperti Jupiter (Hidrogen berlimpah), massa gravitasi Bumi tidak cukup untuk menahan hidrogen. Sebagian besar dari itu melarikan diri ke ruang angkasa. Sebagai elemen paling ringan, hidrogen membutuhkan elemen berat untuk menangkap dan menahan sebagai jangkar. Oksigen, belerang, dan karbon semua bertindak sebagai jangkar tersebut. Ketika dua atom hidrogen dihubungkan dengan atom oksigen, mereka berbagi elektron dan hasilnya adalah air. Molekul airpun cukup ringan untuk menjadi udara dan dengan demikian menguap dan beredar di atmosfer.

Matahari, bulan, rotasi bumi semua dalam keadaan tetap sedangkan air terus bergerak, beredar melalui lautan dan atmosfer kita. Hampir satu triliun ton air terus menguap setiap harinya karena akibat reaksi dari panas matahari. Kemudian uap tersebut mengembun dan jatuh lagi sebagai hujan air, hujan es, dan salju. Meskipun jumlah air di bumi terlihat konstan secara angka tapi keberadaannya tidaklah merata. Air mengalir di sungai, mengendap di tanaman, dan merayap melalui tanah menjadi akuifer yang luas di bawah permukaan bumi kita. Para ilmuwan memperkirakan bahwa 75% dari 99% air di bumi di simpan dalam akuifer yang luas di bawah permukaan bumi. 75% merupakan gabungan dari anak sungai, sungai dan danau jika di gabungkan. Tetapi di banyak tempat seperti afrika air merupakan komoditi yang langka. Baru dapat ditemukan di daerah lapisan bahwa tanah batuan yang berpori, seperti batu berpasir, dimana air terjebak di antara partikel. Cadangan air seperti ini bisa di jadikan sebagai sumber yang mampu mencakup ribuan kilometer persegi mata air dan sumur di seluruh dunia.

Oleh : Lita Lestari Utami (Teknik Informatika’12)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s