“Secangkir Kopi”

To : night…

Malam ini tak ada lagi secangkir kopi hitam dan asap roko yang membuat sesak di ruangan ini. Entah sampai kapan akan bertahan. Heeem… aku kembali lagi, kembali untuk dunia imajinasi, yang kebanyakan orang mengatakan “dunia khayal”. Seperti orang yang waras. Terserah apa kata mereka. Meskipun saat ini makin banyak orang yang memiliki sarana untuk hidup, mereka tak memiliki makna untuk menjalani kehidupan. “kita tak akan pernah mampu untuk melarikan diri”, entah itu dari permasalahan, keadaan, ancaman, ketakutan, dan entah apalah itu. Mengapa aku sedih? Mengapa aku cemas? Mengapa aku tidak bisa mencintai?. Jawaban-jawabannya mungkin terletak jauh di bawah alam sadar pemikiran kita. Cermin, cermin itu yang aku letakkan tepat terletak di pinggir pintu kamar, yang akan aku lewati setiap saat, Aku pun berdiri depan cermin dan berkata “perjalanan itu tampak menakutkan, tapi penjelajahan yang layak dan harus dilakukan”. Pikiran itu sebagai upaya untuk mengungkapkan masalah kejiwaan yang sangat menarik dalam kehidupan. “Manusia itu akal, maka dari itu dia tidak akan puas selama pencariannya belum selesai (eksistensi) eksistensi mendahului esensi itulah manusia”. Itu yang pernah di katakan GONDRING. Eksistensi dalam sebuah cerita kehidupan, suka atau tidak, kita, manusia, terjebak dalam sebuah krisis makna yang permanen, sebuah ruang gelap dari mana kita tidak bisa bebas. Dimana kita harus menarik filosofi dari kehidupan modernisme dan meninggalkan kita dalam kehampaan eksistensial.

Oleh : Bono Icha (Pend. Akuntansi’09)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

One comment on ““Secangkir Kopi”

  1. catatan yg menarik, ringan tp so deep.

    dunia imajinasi penting, tanpa imajinasi kita tak akan pernah menghasilkan suatu apapun, apalagi utk sampai pd titik terakhir.

    imajinasi sejatinya adalah ‘space’ [ruang] bukan ‘room’ [ruangan], karena imajinasi sebagai ruang ‘psikokreatif’.

    seperti yg d katakan GONDRING, “Manusia itu akal, maka dari itu dia tidak akan puas selama pencariannya belum selesai (eksistensi) eksistensi mendahului esensi itulah manusia”, maka sebuah eksistensi membutuhkan suatu ruang, ruang berfikir – ruang kreatifitas – ruang diskursus, karena eksistensi lahir dari ‘needs’ bukan terjadi karena ‘decide’, eksistensi berarti ‘ruh’ dari jiwa yg butuh sebuah raga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s