Double E and D In Garut

“ Pernah ga sih kamu ngerasa peduli sama orang? “ ujar mJ’
menatapku penuh tanya.

     “ … Hmmm gimana yaaaaa? Aku sih merasa peduli sama orang itu. Tapi
aku ga tau, dia ngerasa aku peduliin atau nggak. Gitu sih ka. “

     “ Oooh gitu ya? … “ ucapnya seraya  mengangguk-angguk pelan.

     Entah ada angin apa di cafe biru malam itu. Kata PEDULI terasa
menggugah ingatan masa lalu mJ’. Dia teringat akan seorang ibu yang
sangat peduli padanya saat dia KKNM ( Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa ) di Desa Mandalasari Kadungora-Garut, tepat tiga tahun yang lalu. Memang, sering kali dia
membicarakan hal itu padaku. Dan aku tau, dia tak mampu lagi membendung
rasa rindunya pada seorang ibu yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya
sendiri.

     “ Hei, lagi ngomongin apa sih? “ seru Dickronez.

     “ Nih lagi ngomongin masalah peduli, eh jadi keingetan ama ibu yang
di Garut. Ga tau tuh … Hahaha …  “ jelas mJ’ berkomentar.

     Aku tertawa kecil dan merasa ikut terbawa akan suasana. Campur aduk.
Senang, sedih, terharu, lucu, rindu, gelisah, dan ambisi beradu dalam
pikiranku. Padahal aku hanya seorang pendengar yang biasanya menanggapi dan
setelah itu lupakan. Mungkin, sebagian orang akan berkata terlalu
berlebihan. Tapi, ya itulah aku. Aku adalah aku. Dan aku ingin selalu
berusaha jujur pada diriku sendiri. Meskipun kadang memang sangat sulit.

     “ Kita tengok ibu itu. Sabtu ini kita harus ke Garut. “ seru
Dickronez, semangat.

     ***

     Brownies coklat mengiringi kepergian kami waktu itu ( 12 Maret 2011
). Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku pergi ke tempat jauh tanpa orang
tua. Perjalanan panjang yang sebelumnya belum pernah aku tempuh bersama
mereka pun terasa sangat mengesankan. Kamera handphone-ku tak bosan –
bosannya aku arahkan ke setiap sudut jalan. Yah, walaupun bisa dibilang
kurang kerjaan -kalau kata mJ’ sih GJB-. Hehe.

     Dua jam kemudian, Garut menyambut kami ber-empat dengan gema adzan
ashar yang berkumandang. Dan OMG … !!! Aku terkesima oleh hamparan sawah
yang seakan – akan mampu mengantarkan kami ke puncak gunung nirwana.
Sungguh aku ingin sekali mengabadikan momen indah itu. Tapi apa daya, hari
sudah menjelang malam. Hmm.

     Pertama aku melihat sosok seorang ibu Sri. Aku terdiam. Tersirat
jelas kehangatan beliau yang selalu memberikan senyumannya kepada kami. Ya,
tak salah lagi. Aku yang dulu hanya mengenal beliau dari cerita – cerita
mJ’, tak sangka akan bertatap muka langsung dengannya. Dalam hati aku
ingin menangis. Aku rindu pada ibu kandungku sendiri. Tawanya. Kasihnya.
Perhatiannya. Semuanya.

     “ Ayo dimakan singkong gorengnya de … “ kata ibu Sri dengan manisnya.

     Lucu. Ibu Sri ternyata mempunyai seorang anak perempuan yang
ternyata seumuran dengan adikku. Aldi Fernando. Ya, nama gadis itu adalah
Lia. Dia dengan malu – malunya mendekati mJ’ yang dulu memang sangat
dekat dengannya. Bertanya tentang ini, bertanya tentang itu, dan masih
banyak lagi yang lainnya. Tak lama waktu yang aku butuhkan untuk ikut dekat
dengan Lia. Hmm, mungkin karena aku merasa Lia seperti adikku sendiri.
Walaupun berbeda.

     Aku, Driyan, Dickronez, dan Lia bercengkerama di ruang tamu depan,
sedangkan mJ’ mungkin mencoba bersilaturahmi dengan tetangga lainnya.
Ada saja yang kami bincangkan. Dan terakhir, kami pun memutuskan untuk
bermain tebak – tebakan. Suasana dingin pun sedikit terpecahkan. Gelak tawa
yang menang dan yang kalah serasa bercampur aduk melewati rasa canggung
yang sempat bergelambir di pikiranku sebelumnya.

     Semakin lama, semakin kami terlarut. Dan malam pun serasa menjemput
kami untuk segera pulang kembali ke Bandung. Kami pun satu – persatu
berpamitan kepada keluarga ibu Sri. Rasa haru yang dari tadi kupendam pun
tertumpahkan. Bukannya cengeng, tapi saat itu hanya itu yang bisa
kutujukkan. Aku sudah merasa dekat dengan anggota keluarga ini. Meski
beberapa jam bertemu. Tapi, memang sungguh berkesan di hati dan sanubari.

     Mengerti. Arti keluarga sebenarnya dapat kita temukan dimana pun dan
dalam kondisi yang tak terkira sama sekali. Dan aku menemukan kondisi itu
saat aku bertemu dengan keluarga mereka di Garut. Aku bahagia bisa belajar
dan mengenal mereka semua. Baik itu dari berbagai individu maupun
lingkungan. Tak akan aku hapus. Tak akan aku buang. Dan tentunya tak akan
aku lupakan. ( Elchrist, mJ’, Driyan, Dickronez )

Love you all …

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

One comment on “Double E and D In Garut

  1. ‎”Arti keluarga sebenarnya dapat kita temukan dimana pun dan dalam kondisi yang tak terkira sama sekali.” ~ Lisna Kristianti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s