MUSUHKU BERNAMA RUPIAH

Waktu serasa berhenti berputar. Beberapa pasang mata serasa menataptajam ke arahku. Kursi kelas serasa tak mau aku duduki. Akankah aku bertahan lebih lama di sini. Ataukah aku harus sadar akan segala kecurangan yang aku lakukan.

“ Reza Sasmita! “ seru salah satu petugas TU yang tiba – tiba masuk ke kelasku, “ ada yang namanya Reza Sasmita?? “

“ Ada pak! “ jawab salah satu siswa iseng yang duduk di sebelahku.

Huh … Sialan! Kini aku tak bisa berkutik. Aku tak bisa bersembunyi di bawah ketiak teman – teman baikku lagi.

“ Reza Sasmita! Sekarang juga kamu keluar dari sini !! “

“ Tapi pak, saya kan sedang ujian tengah semester. Apa bapak tega, saya nggak dapet nilai hanya gara – gara finansial saya kurang ??? “

“ Ah sudahlah, ini sudah menjadi ketetapan sekolah ! Sekarang juga, saya mohon kamu keluar dari sini !!! “

Angin malam di atap rumahku membuat suasana hatiku semakin kacau. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Keadaanku benar – benar sudah berantakan. Sejak ayahku di PHK dua bulan lalu, aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Ya, walaupun hanya untuk membiayai aku dan ayahku, tapi aku merasa berat kalu harus bekerja sambil sekolah. Ya, mau tidak mau aku jadi sering bolos sekolah.

“ Reza … kamu kenapa, nak?? “ tanya ayahku.

“ Aku, aku nggak mau sekolah lagi, yah. “ seruku, “ aku mau keluar aja ! “

“ Apa kamu bilang ??? Apa kamu mau ngecewain ayah ??? Apa kamu mau keluar gara – gara ayah ??? Apa kamu … “

“ Ayah … “ selaku, “ maaf ayah, ini bukan karena ayah, tapi ini karena keinginanku sendiri, yah. Maafin aku, aku nggak bisa terus kaya gini … “

Gelapnya malam tak mampu menyembunyikan raut kekecewaan ayah padaku. Namun, dia tak mampu pula berkata – kata lagi atau pun berusaha menghalangiku. Yamg ia tahu, ia harus mulai bekerja kembali semata – mata hanya untuk menghidupiku dan memutuskjkan niatku untuk tidak berkutat lagi dengan dunia pendidikan formal.

Sementara itu, aku benar – benar sudah menjadi orang asing di sekolahku sendiri. Aku layaknya manusia tak berguna dan terbuang di komunitasku sendiri. Di saat orang lain sibuk bergelut dengan ribuan kata – kata ilmiah, aku malah merasa benci, mual, dan marah dengan keadaan itu. Ingin rasanya aku membuang semua memoriku tentang ribuan kata itu ke dalam tong sampah. Seperti aku yang kini dibuang oleh sekolah ini.

“ Za, kamu nggak masuk kelas? “ tanya Arif  – sahabat dekatku –

“ Hmm, ntar aku nyusul Rif … “

Huh, sial … sial … sial … kenapa aku masih merasa tidak rela dengan kenyataan? Kenapa aku masih merasa tidak rela disisihkan? Ya, aku tidak rela kalau aku harus kalah oleh beberapa carik kertas yang bernama ‘RUPIAH’. Aku tidak boleh kalah. Aku harus berani menantang arus.

“ Permisi ! “ seruku, seraya masuk ke kelas dengan polosnya.

“ Hei, tunggu! Kamu Reza Sasmita kan? Mau kemana kamu? Bukannya kamu sudah tidak bisa lagi mengikuti UTS? Ada apa lagi kamu kesini ??!! “ tanya guru pengawasku, nyaring dengan mata bulatnya.

“ Saya mau ikut UTS pak. “ jawabku datar.

Tak menunggu waktu lama, guru itu langsung menyuruhku keluar dari ruang kelas. Uh … aku tak terima diperlakukan seperti ini. Aku sungguh tak terima.

“ Maaf pak! “ seru Arif, “ apa – apaan ini?? Apa befgini cara orang berpendidikan seperti Anda dalam menyelesaikan masalah?? “

“ Arif !!! Jangan kurang ajar, kamu !!! “

“ Sekali lagi, maaf pak ! Saya sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat tidak sopan pada Anda. Tapi perlakuan Anda benar – benar sudah memaksa saya !!! “ tegas Arif, “ maaf pak, saya lebih baik tidak mengikuti UTS daripada harus bahagia di atas penderitaan orang lain. Terima kasih pak. “

Pahitnya kehidupan yang kurasa semakin pahit, kini terpaksa harus kubagi dengan sahabat baikku. Tapi kenapa dia rela berbagi denganku. Sementara di lain pihak, ia masih bisa merasakan manisnya kehidupan.

“ Tinggalin aku, Rif !!! “ gumamku, agak tinggi.

“ Za … “

“ Please … Tinggalin aku Rif … “

“ Tapi Za … Kamu itu sahabat aku, aku nggak mau kamu … “

“ Stop !!! “ selaku, “ oke kalau kamu nggak mau pergi, biar aku aja yang pergi. “

Aku pun pergi meninggalkan orang yang seharusnya tidak kutinggalkan. Dalam waktu kuberpikir. Apa aku masih pantas disebut sahabat baik Arif? Bagaimana bisa aku mengabaikan arti sebuah persahabatan hanya demi egoku sendiri. Hanya demi perasaan maluku sendiri.

Sekilas aku melihat ke sudut rumahku. Kulihat ayah dengan mata berbinar sedang menengadahkan kepalanya seraya mengucap syukur berulang – ulang. Ada apa ini …

“ Reza … Reza … Sini nak !!! “

“ Ada apa ini, yah?? “ tanyaku heran.

Hah … apa aku tidak salah lihat? Beberapa carik kertas yang bernama ‘RUPIAH’ itu, kini ada di depan mataku. Setidaknya, itu cukup untuk membayar setengah dari tunggakanku di sekolah. Dan kupikir, ini bisa membuatku merasa tidak diasingkan lagi. ya, walaupun hanya untuk sementara.

“ Ayah, tolong jujur sama Reza !!! ini semua dari mana yah ??? “

“ Ini uang Za, ini uang !!! Dan ini pasti cukup untuk membiayai sekolah kamu. “ seru ayah sumringah.

“ Iya aku tahu itu uang. Tapi masalahnya, dari mana ayah mendapatkan semua ini ??? Ayah tidak melakukan hal – hal yang aneh kan??? Ayah tidak mencuri kan??? Ini bukan uang haram kan, yah??? Yah, jawab yah, jawab !!! … “ desakku mengebu – gebu.

“ Tidak nak, tidak … Ayah tidak melakukan semua yang kamu katakan tadi. “ sela ayah, “ hmm, ayah, ayah dapet pinjaman dari tetangga sebelah kita nak. “

“ Please, ayah jangan bohong !!! Jangan dikira aku ini anak kecil yang bisa dibohongin sama hal – hal penting seperti ini !!! Terus, jangan dikira kalau aku tidak tahu tabiat tetangga – tetangga kita, yah !!! Aku tahu semuanya, aku tahu !!! “

Satu hal yang kuingat saat itu. Ayah tak mampu berbicara apa – apa. Ayah tak mampu membalas cercaanku. Ayah tak mampu menatap mataku. Ya, tak mampu.

Hari ini kulihat semuanya berubah drastis. Aku bukan orang yang terbuang lagi. semua orang di sekitarku tak mampu lagi menatap tajam padaku. Ternyata uang memang bisa mengubah segalanya. Sekeras apapun itu, sesulit apapun itu, setajam apapun itu.

“ Eh, nak Reza … “ sapa salah satu guruku, tersipu malu. “ Silakan duduk Za, kamu mau UTS kan? “

“ Hmm … Bapak sadar mengatakan itu pada saya? “ sambutku mengernyit.

“ Maksud kamu apa? “

“ Bukannya selama ini Anda selalu mengusir saya? “

“ Nak Reza, sudahlah … Cepat duduk! UTS sudah mau dimulai … “

“ Maaf pak! “ selaku. “ Saya tidak bisa mengikuti UTS Anda! Saya harus pergi! Sekali lagi maaf, maaf pak … “

Hatiku ini sudah beku. Aku tak peduli lagi dengan semua yang mereka katakan. Aku tak peduli lagi dengan masa depan pendidikanku. Aku muak melihat sandiwara ini. Sandiwara indah yang membuatku sangat sakit hati. Sangat sangat sakit hati. Dan aku tak mau lagi menjadi bagian dari sandiwara itu.

“ Reza  !!!!!! Reza !!!!!! “ teriak Pak Beni – salah satu kerabat ayahku – seraya berlari mendekatiku.

Dengan nafas yang terengah – engah, dia berbicara sesuatu yang tidak jelas sambil menatapku sayu.

“ Reza … Ayahmu Za … Ayahmu … “

“ Apa yang terjadi pak ??? Ayah kenapa ??? “ selaku, tidak sabar.

“ Ayahmu … Ayahmu jatuh dari lantai dua … Beliau tidak sadarkan diri, Za !!! “

“ Apaaaaaaa ??!!!!!!! “

Sontak mulut dan hatiku bagai terkunci. Aku tak mampu berkata – kata dan tak mampu berpikir apapun. Aku hanya bisa berlari dan berlari. Dan mungkin hanya itulah yang saat itu ada dibenakku.

“ Ada apa ini ? Om ? Tante ? “ teriakku ketika melihat ayah yang terbujur kaku tertutup kain yang masih berlumuran darah. Namun semua orang diam seribu bahasa.

“ Ayah … Apa yang terjadi, yah ?? Kenapa jadi begini, yah ?? Kenapa ?? “

“ Nak Reza, sudahlah ! “ ujar pak Beni seraya mengusap pundakku, “ kamu nggak sendiri, Za. Kamu masih punya bapak, kamu masih punya kita. Sudahlah ikhlaskan kepergian ayahmu, nak … “

“ Tapi … Tapi kenapa pak ? Kenapa harus seperti ini ? “

Ingin rasanya aku menghilang ke ujung dunia daripada aku harus melihat ayahku terhimpit oleh tanah merah. Dan parahnya lagi, itu semua terjadi karena aku. Sebab ayah menginginkanku menjadi seseorang yang terpelajar serta dihormati oleh semua orang. Beliau rela berjuang sekuat tenaga menjadi seorang kuli bangunan hanya untuk membiayai sekolahku. Bodohnya lagi, aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. Dan lucunya, hari ini aku telah menyia-nyiakan pengorbanan ayahku hanya karena egoku. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku sungguh tak tahu diri. Huh!!!

Di saat yang sama. Di saat aku berpikir. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Karena aku adalah ayahku. Aku hidup karena ayahku. Dan aku tak mau ayah kecewa karena aku untuk yang kedua kalinya. Ya, aku berjanji.

 

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s