G.W.F HEGEL

George Wilhelm Friedrich Hegel (27 Agustus 1770 – 14 November 1831) adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman barat daya.

Pengaruhnya sangat luas terhadap para penulis dari berbagai posisi, termasuk para pengagumnya (F. H. Bradley, Sartre, Hans Küng, Bruno Bauer, Max Stirner, Karl Marx) dan mereka yang menentangnya (Kierkegaard, Schopenhauer, Nietzsche, Heidegger, Schelling).

Dapat dikatakan bahwa dialah yang pertama kali memperkenalkan dalam filsafat, gagasan bahwa Sejarah dan hal yang konkret adalah penting untuk bisa keluar dari lingkaran philosophia perennis, yakni, masalah-masalah abadi dalam filsafat. Ia juga menekankan pentingnya Yang Lain dalam proses pencapaian kesadaran diri (lihat dialektika tuan-hamba).

Kehidupan dan Karya

Hegel dilahirkan di Stuttgart pada 27 Agustus 1770. Di masa kecilnya, ia lahap membaca literatur, surat kabar, esai filsafat, dan tlisan-tulisan tentang berbagai topik lainnya. Masa kanak-kanaknya yang rajin membaca sebagian disebabkan oleh ibunya yang luar biasa progresif yang aktif mengasuh perkembangan intelektual anak-anaknya.

Keluarga Hegel adalah sebuah keluarga kelas menengah yang mapan di Stuttgart. Ayahnya seorang pegawai negeri dalam administrasi pemerintahan di Württemberg. Hegel adalah seorang anak yang sakit-sakitan dan hampir meninggal dunia karena cacar sebelum mencapai usia enam tahun. Hubungannya dengan kakak perempuannya, Christiane, sangat erat, dan tetap akrab sepanjang hidupnya.

Metode Dialektika

Hegel dikenal sebagai filsuf yang menggunakan dialektika sebagai metode berfilsafat. Dialektika menurut Hegel adalah dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan, atau biasa dikenal dengan tesis (pengiyaan), antitesis (pengingkaran)dan sintesis (kesatuan kontradiksi).

Pengiyaan harus berupa konsep pengertian yang empris indrawi. Pengertian yang terkandung didalamnya berasal dari kata-kata sehari-hari, spontan, bukan reflektif, sehingga terkesan abstrak, umum, statis, dan konseptual. Pengertian tersebut diterangkan secara radikal agar dalam proses pemikirannya kehilangan ketegasan dan mencair.

Pengingkaran adalah konsep pengertian pertama (pengiyaan) dilawanartikan, sehingga muncul konsep pengertian kedua yang kosong, formal, tak tentu, dan tak terbatas. Menurut Hegel, dalam konsep kedua sesungguhnya tersimpan pengertian dari onsep yang pertama. Konsep pemikiran kedua ini juga diterangkan secara radikal agar kehilangan ketegasan dan mencair.

Kontradiksi merupakan motor dialektika (jalan menuju kebenaran) maka kontradiksi harus mampu membuat konsep yang bertahan dan saling mengevaluasi. Kesatuan kontradiksi menjadi alat untuk melengkapi dua konsep pengertian yang saling berlawanan agar tercipta konsep baru yang lebih ideal.

Karya utama

Phenomenology of Spirit (Phänomenologie des Geistes Kadang-kadang diterjemahkan sebagai Phenomenology of Mind) 1807 (Ini adalah contoh masalahnya: Para penerjemah Inggris dari buku Phänomenologie des Geistes tidak pasti apakah mereka harus menerjemahkan “Geist” dengan “Roh” atau “Pikiran”, meskipun istilah “Roh” dan “Pikiran” sangat berbeda dalam bahasa Inggris.)
•  Science of Logic (Wissenschaft der Logik) 1812–1816 (edisi terakhir dari bagian pertama 1831)
•  Encyclopedia of the Philosophical Sciences (Enzyklopaedie der philosophischen Wissenschaften) 1817–1830
•  Elements of the Philosophy of Right (Grundlinien der Philosophie des Rechts) 1821
•  Kuliah tentang Estetika
•  Kuliah tentang Filsafat Sejarah (juga diterjemahkan menjadi Kuliah tentang Filsafat Sejarah Dunia) 1830
•  Kuliah tentang Filsafat Agama
•  Kuliah tentang Sejarah Filsafat
Literatur sekunder
•  Theodor W. Adorno, 1994. Hegel: Three Studies. MIT Press. Terjemahan oleh Shierry M. Nicholsen, dengan pengantar oleh Nicholsen dan Jeremy J. Shapiro, ISBN 0-262-51080-4. Esai tentang konsep Hegel tentang roh/pikiran, konsep Hegel tentang pengalaman, dan mengapa Hegel sulit dibaca.
•  Avineri, Shlomo, 1974. Hegel’s Theory of the Modern State. Cambridge University Press. Pengantar terbaik ke dalam filsafat politik Hegel.
•  Frederick C. Beiser, ed., 1993. The Cambridge Companion to Hegel. Cambridge University Press. ISBN 0-521-38711-6. The Cambridge Companions adalah cara yang baik untuk mulai belajar tentang seorang filsuf tertentu; termasuk buku ini.
•  Frederick C. Beiser, 2005. Hegel. Routledge. Salah satu pengantar terbaik dalam segala aspek tentang filsafat Hegel, dalam, jelas dan menyeluruh.
•  R.G. Collingwood, 1946. The Idea of History. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-285306-6. Pernyataan yang kuat tentang kasus bahwa Hegel mengizinkan suatu negara yang terlalu kuat, artinya bahwa filsafatnya adalah lawan yang berbahaya bagi kemerdekaan individu. (Isaiah Berlin mengusulkan argumen serupa dalam bukunya Two Concepts of Liberty.)
•  Desmond, William, 2003. Hegel’s God: A Counterfeit Double?. Ashgate. ISBN 0-7546-0565-5
•  Laurence Dickey, 1987. Hegel: Religion, Economics, and the Politics of Spirit, 1770–1807. Cambridge University Press. ISBN 0-521-33035-1. Pembahasan menarik tentang bagaimana “Hegel menjadi Hegel”, dengan menggunakan hipotesis pembimbing bahaw Hegel “pada dasarnya adalah seorang teolog manqué”.
•  John N. Findlay, 1958. Hegel: A Re-examination. Oxford University Press. ISBN 0-19-519879-4
•  Forster, Michael, 1989. Hegel and Skepticism. Harvard University Press. ISBN 0-674-38707-4
•  ——, 1998. Hegel’s Idea of a Phenomenology of Spirit. University of Chicago Press. ISBN 0-226-25742-8. Komentar terbaik dalam bahasa Inggris tentang karya Hegel terpenting.
•  Harris, H. S., Hegel: Phenomenology and System. Intisari dari karya besar si pengarang Hegel’s Ladder, kini komentar standar tentang Fenomenologi.
•  Justus Hartnack, 1998. An Introduction to Hegel’s Logic. Indianapolis: Hackett. ISBN 0-87220-424-3
•  Martin Heidegger, 1988. Hegel’s Phenomenology of Spirit. Bloomington: Indiana University Press. ISBN 0-253-32766-0
•  Jean Hyppolite, 1979. Genesis and Structure of “Hegel’s Phenomenology of Spirit.” Northwestern University Press. ISBN 0-8101-0594-2
•  Kadvany, John, 2001, Imre Lakatos and the Guises of Reason. Duke University Press. ISBN 0-8223-2659-0
•  Kainz, Howard P., 1996, G. W. F. Hegel. Ohio University Press. ISBN 0-8214-1231-0.
•  Kainz, Howard P.,1994, Hegel’s Phenomenology of Spirit: Selections Terjemahan dan anotasi oleh Howard P. Kainz. The Pennsylvania State University Press. ISBN 0-271-01076-2.
•  Alexandre Kojeve, Introduction to the Reading of Hegel: Lectures on the Phenomenology of Spirit. ISBN 0-8014-9203-3 Penafsiran Eropa yang berpengaruh tentang Hegel.
•  Herbert Marcuse, 1941. Reason and Revolution: Hegel and the Rise of Social Theory. Pengantar filsafat Hegel, ditujukan untuk membantah konsepsi bahwa karya Hegel mencakup in nuce totalitarianisme Fasis oleh Sosialisme Nasional; negasi filsafat melalui materialisme historis.
•  Muller, Jerry Z., 2002. The Mind and the Market: Capitalism in Western Thought. Anchor Books. Chpt. 6 devoted to Hegel and the market economy.
•  O’Regan, Cyril, 1994. The Heterodox Hegel. State University of New York Press, Albany. ISBN 0-7914-2006-X Karya yang paling otoritatif tentang filsafat agama Hegel.
•  Pinkard, Terry P., 2000. Hegel: a biography. Cambridge University Press. ISBN 0-521-49679-9. Oleh seorang pakar Hegel Amerika terkemuka; menolak miskonsepsi populer tentang pemikiran Hegel.
•  Robert B. Pippin, 1989. Hegel’s Idealism: the Satisfactions of Self-Consciousness. Cambridge University Press. ISBN 0-521-37923-7. Membela kesinambungan yang lebih kuat antara idealisme Hegel dan Kant.
•  Ritter, Joachim, 1984. Hegel and the French Revolution. MIT Press.
•  Tom Rockmore, 1993. Before & After Hegel: A Historical Introduction to Hegel’s Thought. Hackett. ISBN 0-87220-648-3.
•  Stern, Robert, 2002, “Hegel and the Phenomenology of Spirit” Routledge. ISBN 0-415-21788-1
•  Stewart, Jon, ed., 1996. The Hegel Myths and Legends. Northwestern Univ. Press.
•  George Lukács, The Young Hegel. ISBN 0-262-12070-4
•  Westphal, Kenneth R., 2003. Hegel’s Epistemology: A Philosophical Introduction to the Phenomenology of Spirit. Indianapolis: Hackett. ISBN 0-87220-645-9
•  Charles Taylor, 1975. Hegel. Cambridge University Press. ISBN 0-521-29199-2. Studi yang komprehensif dan eksposisi yang sangat jelas oleh filsuf Kanada tentang pemikiran Hegel dan dampaknya terhadap masalah-masalah intelektual dan spiritual utama pada masanya dan masa kita.
•  Wallace, Robert M., 2005. Hegel’s Philosophy of Reality, Freedom, and God. Cambridge University Press. ISBN 0-521-84484-3. Berargumen bahwa posisi-posisi utama Hegel dalam metafisika, epistemologi, etika, dan filsafat pikiran dan kehendak, kenyataannya mungkin dan dapat dipertahankan, dan mempertahankannya terhadap kritik-kritik berpengaruh antara lain oleh Feuerbach, Marx, Kierkegaard, Heidegger, dan Charles Taylor.

Sumber : Wikipedia

MUSIK UNDERGROUND TERNYATA TIDAK SELALU ’NEGATIF’

Matahari di langit Kota Cimahi bersinar begitu terik. Suara growl dan dentuman musik meraung-raung dari sound system berkekuatan 12.000 volt. Demon’s Damn mulai ‘menggeber’ lagu kedua mereka. Gebukan snare drum yang rapat dan distorsi yang menggila membuat ratusan metalhead semakin kegirangan. Di muka panggung, mereka berlarian, berguling-guling, jumpalitan bahkan ada yang nekad meloncat dari panggung ke arah kerumunan. Momen kali ini sayang untuk tidak diabadikan. Kamera digitalku yang cuma dilengkapi 3x optical zoom memaksaku untuk mengambil gambar lebih dekat. Aku terus melangkah, menembus kerumunan hingga ku rasakan sesak karena tubuhku semakin terhimpit. Barulah aku tersadar bahwa aku terjebak di antara ratusan metalhead yang menggila. Arrrrgghh.. tidaaaakk.. keluarkan aku dari sini!!.

 

Tujuh jam sebelumnya.

 

Breafing terakhir panitia baru saja usai. Aku ditugasi untuk mengamankan backstage. Kenyataannya di lapangan, aku tidak hanya bertugas mengamankan backstage tapi merangkap juga sebagai penjaga tiket, petugas patroli, seksi dokumentasi hingga asisten artis. Halah.. halah.. eksisnya aku ini. 😛 .

 

Mengadakan pagelaran musik amal underground bukanlah perkara gampang. Kendala yang paling besar adalah perijinan. Seperti halnya hari ini, pagelaran musik yang seharusnya berlangsung di Lapangan Kubang-Kerkof malah terselenggara di Lapangan Pusdikjas ; Pusat Pendidikan Jasmani dan Militer. Pihak panitia terpaksa memindahkan tempatnya secara mendadak seminggu yang lalu karena ijin yang tidak kunjung diterima. Padahal acara ini adalah sebuah pagelaran musik amal. Charity. Mengapa begitu sulit untuk mendapatkan selembar surat ijin saja?.

 

Ku amati sekali lagi list pengisi acara hari ini; Dining Out, Jeruji, Power Punk, Rosemary, Art to Murder, Demon’s Damn, United Neighbourhood dan sembilan band peserta lainnya. Perlengkapan ’manggung’ sudah mulai diangkut ke backstage. Beberapa personil band nampak sudah menempati bangku-bangku yang disediakan. Diantara mereka, ada yang duduk santai sambil merokok, ada yang mengecek kesiapan alat-alat, ada juga yang pemanasan sembari melemaskan sendi. Tapi yang paling penting, prosesi berdoa tidak lupa dilakukan. Semuanya berharap seluruh rangkaian acara ini bisa terlaksana dengan baik sampai akhir.

 

Sebulan yang lalu, perasaan was-was sempat hinggap ketika seorang teman mengajakku untuk terlibat di kepanitiaan acara musik underground. Selain karena aku yang begitu jazzy , pagelaran musik seperti ini seringkali menyisakan bencana. Aku teringat ’tragedi Braga’ setahun silam. Konser tunggal band metal Beside yang digelar di Asia-Africa Conferention Center (AACC) berakhir ricuh dan menelan sepuluh korban jiwa. Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Tapi atas dasar loyalitas terhadap teman dan dibarengi rasa penasaran, akhirnya ku sanggupi tawaran itu.

 

Satu per satu, metalhead mulai berdatangan. Mereka datang dengan ciri-ciri yang sangat khas. Baju lusuh yang bahkan sobek disana-sini, celana jeans yang sudah sangat beladus, rambut mohawk berpotongan ala feathercut yang diwarnai dengan warna terang, rantai dan spike (aksesori berjeruji) dan satu lagi yang tak terlupa; ukulele. Setelah melalui pos tiket dan dipastikan mereka tidak membawa benda tajam, minuman keras atau drugs, mereka diijinkan masuk. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah melihat penampilan mereka yang terkesan ’aneh’ itu.

 

Pementasan dimulai. Tiga band peserta pertama membawakan musik dengan ’garing’ karena sepi penonton. Terlihat hanya beberapa kepala yang celingukan di muka panggung. Hal ini sungguh sangat berbeda dengan penampilan puncak Jeruji Band yang diwarnai kegilaan ratusan metalhead. Para metalhead lebih memilih menyimpan energi mereka untuk diluapkan pada acara puncak; saat Jeruji menggetarkan tanah dengan performa mereka.

 

Energi yang meletup-letup begitu terasa sedari sore ketika beberapa artis pengisi acara mulai menguasai panggung.  Beberapa personil band sempat melempar puluhan CD, sticker dan air mineral gelas ke arah penonton. Para metalhead semakin bersemangat ketika dilempar dengan air mineral walaupun air yang disiramkan ke muka mereka tidak semewah air yang disemprotkan dari blambir pemadam kebakaran.

 

Acara usai tepat jam tujuh malam. Kami bersyukur karena tidak ada yang pingsan apalagi luka berat yang membutuhkan penanganan medis. Pengorbanan panitia yang membuat konsep acara begitu matang tidak sia-sia.

 

Ternyata pagelaran musik underground tidak seseram yang ku bayangkan. Mereka bermain musik dengan santun bahkan yang terkesan lucu, beberapa band menutup pementasan dengan berucap ‘Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh’. Sopan sekali bukan?. Ratusan metalhead pun mengikuti acara dengan damai, tanpa acara pukul-pukulan, drugs, minuman keras bahkan tanpa ritual bakar ban atau sengaja melekatkan logo band pada bendera merah-putih seperti yang sering terjadi pada konser musik lain.

 

Pepatah lama mengatakan, don’t judge a book by its cover. Kali ini, aku sepakat dengan itu. Stigma negatif pasti timbul setelah melihat penampilan luar para metalhead. Tapi di balik kemasan sangar dan terkesan jorok itu, terdapat sosok-sosok yang begitu loyal pada  musik underground; sebuah genre musik yang mereka yakini sebagai media eksistensi. Dan di balik dentuman musik keras yang menghentak telinga, ternyata terselip lirik-lirik yang menggugah sisi kemanusiaan tapi tidak semua orang mau memaknainya lebih dari sekedar lirik.

 

Sebuah Pagelaran Musik amal telah rampung dilaksanakan. Semoga dengan banyaknya kegiatan sosial seperti ini, bukan hanya hiburan semata yang kita dapat. Namun juga fasilitas bagi anak-anak negeri untuk terus berkarya sembari melakoni aktivitas sosial ; membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam segi financial untuk bisa terus hidup dan bersekolah.

 

Jika berbicara masalah sosial, kita berjuang atas nama kemanusiaan, terlepas apa pun aliran musik yang kita usung. Ternyata aku yang penikmat musik jazz ini bisa juga belajar memaknai nilai-nilai positif dari musik underground. Jadi, marilah kita berangkulan. Niscaya, dalam mengamalkan nilai-nilai sosial, tidak akan ada yang mampu berjalan sendiri. Bangsa ini butuh agen-agen sosial lain yang mau menginvestasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk perbaikan taraf kualitas hidup. Setelah ini, siapa lagi yang akan menggelar pagelaran musik amal?.

 

Sumber : driyan natha’s blog

Sejarah Singkat dan Perkembangan Universitas Langlangbuana

Dimulai pada awal tahun 1980 atas prakarsa beberapa purnawirawan Polri yang peduli terhadap pendidikan yang berdomisili di Bandung dan beberapa cendikiawan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) serta direstui oleh Kadapol VIII Langlangbuana Jabar (sekarang Polda Jabar) pada Tahun 1982, didirikanlah Universitas Langlanghuana. Secara formal Universitas Langlangbuana didirikan oleh Yayasan Pendidikan Tri Bhakti (disingkat YPTB) dimana Kadapol VIII Langlangbuana Jabar duduk sebagai Pelindung. Susunan Pengurus Yayasan Pendidikan Tri Bhakti tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ketua Umum : Brigjen.Pol.Purn. H. Soelaeman Djajoesman
  2. Ketua I : Kol.Pol.Purn.Drs. Soehardjo Widjaja Amiarsa
  3. Ketua II : Kol.Pol.Purn. Waras *)
  4. Ketua III : Drs.Ek. Utang Rukmana Warmana
  5. Sekretanis I : Drs.Ek. Tisna Sendjaja
  6. Sekretaris II : Letkol.Pol.Purn. H. Arief Arnin *)
  7. Bendahara : Letkol.Pol.Purn. H. Arias Wiradinata

Adapun para Pendiri Universitas Langlangbuana adalah sebagai berikut:

  1. Mayjen.Pol. Drs. Affandi Herman Soedjanadiwirja *)
  2. Brigjen. Pol.Drs. Dudung Abubakar
  3. Letkol. Pol. Doddy Soetarly *)
  4. Mayjen. Pol. Purn. R.H. Tachya *)
  5. Brigjen.Pol.Purn. H. Soelaeman Djajoesman *)
  6. Kol. Pol. Purn. Waras *)
  7. Letkol. Pol. Purn. H. Muchtar, S.H. *)
  8. Letkol.Pol.Purn.H. Arief Amin *)
  9. Kol.Pol.Purn Drs. Soehardjo Widjaja Amiarsa *)
  10. Drs. Ek. Utang Rukmana Warmana, Dosen Unpad
  11. Drs. Ek. Tisna Sendjaja. Dosen Unpad
  12. Umar Srijadi, S.H., Dosen Unpad *)
  13. Mayjen. Pol. Purn. Drs. R.H. Soebroto Brotodiredjo,S.H. *)

*) saat ini telah almarhum

Universitas Langlangbuana diselenggarakan melalui Izin Operasional dari Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah III Jabar berdasarkan Surat Keputusan No. Skep/031/1982 Tanggal 14 April 1982 kepada YPTB. Kampus UNLA berlokasi di Jalan Karapitan No. 116 Bandung.
Rektor Pertama adalah Bapak Mayjen.Pol.Purn. Drs. H. Soebroto Brotodiredjo, SH., Rektor Kedua adalah Bapak Brigjen.Pol.Purn. H. Herman S. Sastrawidjaja, Drs.,S.H. dan Rektor Ketiga adalah Bapak Mayjen.Pol.Purn. H. Ali Hanafiah, Drs.,M.M.

Pada tahun 1982, untuk pertama didirikan tiga fakultas, adalah:

  1. Fakultas Hukum
  2. Fakultas Ekonomi
  3. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Selanjutnya pada tahun 1983, dibuka dua fakultas:

  1. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
  2. Fakultas Teknik

Hingga saat ini Unla memiliki lima fakultas dengan membina 14 Program Studi (S1) dengan 13 Program Studi terakreditasi BAN-PT sedangkan 1 Program Studi (D-3 Kepolisian) yang dibuka pada tahun 2009 dengan ijin Penyelenggaraan dari Dikti.

Pada tahun 2002 dibuka program Pasca Sarjana dengan Program Studi Ilmu Pemerintahan, kemudian tahun 2005 dibuka Program Studi Magister Ilmu Hukum dan Tahun 2006 dibuka pula Program Studi Magister Manajemen serta Program Magister Teknik Informatika.
Para alumni tersebar di dalam negeri maupun di luar negeri dan telah mempunyai kedudukan yang penting, baik di dalam lembaga pemerintah maupun swasta.

Kerjasama telah dirintis sejak berdiri sampai sekarang dengan:

  1. Perguruan Tinggi Negeri sebagai Perguruan Tinggi Pembina seperti:
    • Universitas Padjadjaran;
    • Universitas Pendidikan Indonesia; dan
    • Institut Teknologi Bandung
  2. Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat dan Propinsi lainnya di Indonesia.
  3. Pemda Kabupaten / Kota di Propinsi Jawa Barat.
  4. Organisasi Swasta dan organisasi profesi lainnya.

Sambil menunggu pelaksanaan UU RI Tentang Yayasan dan UU RI Tentang BHP, untuk sementara dibentuk Badan Penyelenggara PTS Universitas Langiangbuana, berdasarkan Akte Notaris R. Soegito, S.H.,Sp.1 Nomor: 09 Tahun 2002 Tanggal 21 Mei 2002, yang merupakan kesepakatan antara para Pendiri dan Yayasan Brata Bhakti Polri Daerah Jabar dimana Kapolda dan Wakapolda Jabar duduk sebagai Ketua dan Wakil Ketua Ex. Officio, Sedangkan untuk kegiatan sehari-hari dibentuk Pengurus Harian.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 9 Tahun 2009, tentang BHP pasal 8 ayat (3), menyatakan bahwa Badan Hukum Pendidikan Penyelenggara (BHPP) adalah Yayasan yang telah menyelenggarakan Satuan Pendidikan sebelum Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan diundangkan yaitu Yayasan Pendidikan Tri Bhakti dan telah mendapat izin Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Surat Keputusan No.AHU-4860.AH.01.02 Tahun 2008 Tanggal 10 Desember 2008, sesuai dengan Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 jo. No. 28 Tahun 2004, Tentang Yayasan.

Sumber : Situs Resmi | Universitas Langlangbuana

MUSUHKU BERNAMA RUPIAH

Waktu serasa berhenti berputar. Beberapa pasang mata serasa menataptajam ke arahku. Kursi kelas serasa tak mau aku duduki. Akankah aku bertahan lebih lama di sini. Ataukah aku harus sadar akan segala kecurangan yang aku lakukan.

“ Reza Sasmita! “ seru salah satu petugas TU yang tiba – tiba masuk ke kelasku, “ ada yang namanya Reza Sasmita?? “

“ Ada pak! “ jawab salah satu siswa iseng yang duduk di sebelahku.

Huh … Sialan! Kini aku tak bisa berkutik. Aku tak bisa bersembunyi di bawah ketiak teman – teman baikku lagi.

“ Reza Sasmita! Sekarang juga kamu keluar dari sini !! “

“ Tapi pak, saya kan sedang ujian tengah semester. Apa bapak tega, saya nggak dapet nilai hanya gara – gara finansial saya kurang ??? “

“ Ah sudahlah, ini sudah menjadi ketetapan sekolah ! Sekarang juga, saya mohon kamu keluar dari sini !!! “

Angin malam di atap rumahku membuat suasana hatiku semakin kacau. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Keadaanku benar – benar sudah berantakan. Sejak ayahku di PHK dua bulan lalu, aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Ya, walaupun hanya untuk membiayai aku dan ayahku, tapi aku merasa berat kalu harus bekerja sambil sekolah. Ya, mau tidak mau aku jadi sering bolos sekolah.

“ Reza … kamu kenapa, nak?? “ tanya ayahku.

“ Aku, aku nggak mau sekolah lagi, yah. “ seruku, “ aku mau keluar aja ! “

“ Apa kamu bilang ??? Apa kamu mau ngecewain ayah ??? Apa kamu mau keluar gara – gara ayah ??? Apa kamu … “

“ Ayah … “ selaku, “ maaf ayah, ini bukan karena ayah, tapi ini karena keinginanku sendiri, yah. Maafin aku, aku nggak bisa terus kaya gini … “

Gelapnya malam tak mampu menyembunyikan raut kekecewaan ayah padaku. Namun, dia tak mampu pula berkata – kata lagi atau pun berusaha menghalangiku. Yamg ia tahu, ia harus mulai bekerja kembali semata – mata hanya untuk menghidupiku dan memutuskjkan niatku untuk tidak berkutat lagi dengan dunia pendidikan formal.

Sementara itu, aku benar – benar sudah menjadi orang asing di sekolahku sendiri. Aku layaknya manusia tak berguna dan terbuang di komunitasku sendiri. Di saat orang lain sibuk bergelut dengan ribuan kata – kata ilmiah, aku malah merasa benci, mual, dan marah dengan keadaan itu. Ingin rasanya aku membuang semua memoriku tentang ribuan kata itu ke dalam tong sampah. Seperti aku yang kini dibuang oleh sekolah ini.

“ Za, kamu nggak masuk kelas? “ tanya Arif  – sahabat dekatku –

“ Hmm, ntar aku nyusul Rif … “

Huh, sial … sial … sial … kenapa aku masih merasa tidak rela dengan kenyataan? Kenapa aku masih merasa tidak rela disisihkan? Ya, aku tidak rela kalau aku harus kalah oleh beberapa carik kertas yang bernama ‘RUPIAH’. Aku tidak boleh kalah. Aku harus berani menantang arus.

“ Permisi ! “ seruku, seraya masuk ke kelas dengan polosnya.

“ Hei, tunggu! Kamu Reza Sasmita kan? Mau kemana kamu? Bukannya kamu sudah tidak bisa lagi mengikuti UTS? Ada apa lagi kamu kesini ??!! “ tanya guru pengawasku, nyaring dengan mata bulatnya.

“ Saya mau ikut UTS pak. “ jawabku datar.

Tak menunggu waktu lama, guru itu langsung menyuruhku keluar dari ruang kelas. Uh … aku tak terima diperlakukan seperti ini. Aku sungguh tak terima.

“ Maaf pak! “ seru Arif, “ apa – apaan ini?? Apa befgini cara orang berpendidikan seperti Anda dalam menyelesaikan masalah?? “

“ Arif !!! Jangan kurang ajar, kamu !!! “

“ Sekali lagi, maaf pak ! Saya sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat tidak sopan pada Anda. Tapi perlakuan Anda benar – benar sudah memaksa saya !!! “ tegas Arif, “ maaf pak, saya lebih baik tidak mengikuti UTS daripada harus bahagia di atas penderitaan orang lain. Terima kasih pak. “

Pahitnya kehidupan yang kurasa semakin pahit, kini terpaksa harus kubagi dengan sahabat baikku. Tapi kenapa dia rela berbagi denganku. Sementara di lain pihak, ia masih bisa merasakan manisnya kehidupan.

“ Tinggalin aku, Rif !!! “ gumamku, agak tinggi.

“ Za … “

“ Please … Tinggalin aku Rif … “

“ Tapi Za … Kamu itu sahabat aku, aku nggak mau kamu … “

“ Stop !!! “ selaku, “ oke kalau kamu nggak mau pergi, biar aku aja yang pergi. “

Aku pun pergi meninggalkan orang yang seharusnya tidak kutinggalkan. Dalam waktu kuberpikir. Apa aku masih pantas disebut sahabat baik Arif? Bagaimana bisa aku mengabaikan arti sebuah persahabatan hanya demi egoku sendiri. Hanya demi perasaan maluku sendiri.

Sekilas aku melihat ke sudut rumahku. Kulihat ayah dengan mata berbinar sedang menengadahkan kepalanya seraya mengucap syukur berulang – ulang. Ada apa ini …

“ Reza … Reza … Sini nak !!! “

“ Ada apa ini, yah?? “ tanyaku heran.

Hah … apa aku tidak salah lihat? Beberapa carik kertas yang bernama ‘RUPIAH’ itu, kini ada di depan mataku. Setidaknya, itu cukup untuk membayar setengah dari tunggakanku di sekolah. Dan kupikir, ini bisa membuatku merasa tidak diasingkan lagi. ya, walaupun hanya untuk sementara.

“ Ayah, tolong jujur sama Reza !!! ini semua dari mana yah ??? “

“ Ini uang Za, ini uang !!! Dan ini pasti cukup untuk membiayai sekolah kamu. “ seru ayah sumringah.

“ Iya aku tahu itu uang. Tapi masalahnya, dari mana ayah mendapatkan semua ini ??? Ayah tidak melakukan hal – hal yang aneh kan??? Ayah tidak mencuri kan??? Ini bukan uang haram kan, yah??? Yah, jawab yah, jawab !!! … “ desakku mengebu – gebu.

“ Tidak nak, tidak … Ayah tidak melakukan semua yang kamu katakan tadi. “ sela ayah, “ hmm, ayah, ayah dapet pinjaman dari tetangga sebelah kita nak. “

“ Please, ayah jangan bohong !!! Jangan dikira aku ini anak kecil yang bisa dibohongin sama hal – hal penting seperti ini !!! Terus, jangan dikira kalau aku tidak tahu tabiat tetangga – tetangga kita, yah !!! Aku tahu semuanya, aku tahu !!! “

Satu hal yang kuingat saat itu. Ayah tak mampu berbicara apa – apa. Ayah tak mampu membalas cercaanku. Ayah tak mampu menatap mataku. Ya, tak mampu.

Hari ini kulihat semuanya berubah drastis. Aku bukan orang yang terbuang lagi. semua orang di sekitarku tak mampu lagi menatap tajam padaku. Ternyata uang memang bisa mengubah segalanya. Sekeras apapun itu, sesulit apapun itu, setajam apapun itu.

“ Eh, nak Reza … “ sapa salah satu guruku, tersipu malu. “ Silakan duduk Za, kamu mau UTS kan? “

“ Hmm … Bapak sadar mengatakan itu pada saya? “ sambutku mengernyit.

“ Maksud kamu apa? “

“ Bukannya selama ini Anda selalu mengusir saya? “

“ Nak Reza, sudahlah … Cepat duduk! UTS sudah mau dimulai … “

“ Maaf pak! “ selaku. “ Saya tidak bisa mengikuti UTS Anda! Saya harus pergi! Sekali lagi maaf, maaf pak … “

Hatiku ini sudah beku. Aku tak peduli lagi dengan semua yang mereka katakan. Aku tak peduli lagi dengan masa depan pendidikanku. Aku muak melihat sandiwara ini. Sandiwara indah yang membuatku sangat sakit hati. Sangat sangat sakit hati. Dan aku tak mau lagi menjadi bagian dari sandiwara itu.

“ Reza  !!!!!! Reza !!!!!! “ teriak Pak Beni – salah satu kerabat ayahku – seraya berlari mendekatiku.

Dengan nafas yang terengah – engah, dia berbicara sesuatu yang tidak jelas sambil menatapku sayu.

“ Reza … Ayahmu Za … Ayahmu … “

“ Apa yang terjadi pak ??? Ayah kenapa ??? “ selaku, tidak sabar.

“ Ayahmu … Ayahmu jatuh dari lantai dua … Beliau tidak sadarkan diri, Za !!! “

“ Apaaaaaaa ??!!!!!!! “

Sontak mulut dan hatiku bagai terkunci. Aku tak mampu berkata – kata dan tak mampu berpikir apapun. Aku hanya bisa berlari dan berlari. Dan mungkin hanya itulah yang saat itu ada dibenakku.

“ Ada apa ini ? Om ? Tante ? “ teriakku ketika melihat ayah yang terbujur kaku tertutup kain yang masih berlumuran darah. Namun semua orang diam seribu bahasa.

“ Ayah … Apa yang terjadi, yah ?? Kenapa jadi begini, yah ?? Kenapa ?? “

“ Nak Reza, sudahlah ! “ ujar pak Beni seraya mengusap pundakku, “ kamu nggak sendiri, Za. Kamu masih punya bapak, kamu masih punya kita. Sudahlah ikhlaskan kepergian ayahmu, nak … “

“ Tapi … Tapi kenapa pak ? Kenapa harus seperti ini ? “

Ingin rasanya aku menghilang ke ujung dunia daripada aku harus melihat ayahku terhimpit oleh tanah merah. Dan parahnya lagi, itu semua terjadi karena aku. Sebab ayah menginginkanku menjadi seseorang yang terpelajar serta dihormati oleh semua orang. Beliau rela berjuang sekuat tenaga menjadi seorang kuli bangunan hanya untuk membiayai sekolahku. Bodohnya lagi, aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. Dan lucunya, hari ini aku telah menyia-nyiakan pengorbanan ayahku hanya karena egoku. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Aku sungguh tak tahu diri. Huh!!!

Di saat yang sama. Di saat aku berpikir. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini. Karena aku adalah ayahku. Aku hidup karena ayahku. Dan aku tak mau ayah kecewa karena aku untuk yang kedua kalinya. Ya, aku berjanji.

 

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Akal Terganti

Satu dua orang bebas

Menyeringai tanpa dosa

Bangga akan kepalsuan

Sandiwara insani

Heh, Tidakkah kau sadar?

 

Helaian kertas menutup akal

Jutaan raga terpasung

Terasing

Terbebani

Terbodohi

 

Apa mereka nyata?

Saat mereka bergantung pada angka

Saat mereka terjajah oleh diri

Tak sadarkah?

 

Ya

Mereka tak ayal seperti tikus percobaan

Bahan alasan pertemuan besar

Bahan eksperimen globalisasi

Dan ketika gagal

Dengan gampangnya mereka dibuang

Tak berharga

 

Hei anak muda!

Apa ini yang disebut revolusi?

Apa ini yang disebut peradaban baru?

Tentu saja bukan!

 

Semarak anak muda!

Gunakan akalmu

Gunakan otakmu

Gunakan hatimu

Gunakan seluruh jiwa ragamu

Dan semua akan berubah

Dan semua akan berdiri

Dan semua akan terganti

 

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)