Puisi “Cinta” Untuk Sang Terkasih, Hati

‘Waktu telah membungkus rinduku dalam cakrawala yang berarak menghitung hari. Entah sudah berapa hari kuhabiskan waktuku dengan berbalut sepi yang menggigit. Tersia-sia atau tidak, aku juga belum menemukan tanda jawabnya. Yang kutahu, aku akan terus mengiring hari dengan satu cintaku, untukmu. Entah juga kapan akan menciumi titiki pengakhirannya. Aku percaya, tak pernah ada kata salah untuk mencintai cinta yang kuyakini.’

‘Aku ingin selalu berlari pulang kearahmu, kapan pun itu. Meski dera luka menguntit dibelakangmu dan jerat hampa mengucap salam pada rinduku. Apakah kau tahu? Aku tak akan pernah menyesal telah berjalan jauh mengejar negerimu. Bukan karena apa, hanya karena aku memilihmu. Kalau tak memilih, mungkin aku…………’

‘Apakah kau hanya desir, yang sekejap menampar wajahku? Apakah kau hanya getar, yang sekelebat hinggap didadaku? Apakah kau hanya ilusi yang merobek khayalku? Apakah kau benar-benar kau, yang menjungkirbalikan warasku? Kau hanya kau……apakah hanya apakah….kau hanya……hanya kau…ternyata…’

‘Bermalam-malam ku coba lari. Menafikan adamu dalam jiwaku. Mengusir segala rindu yang tak jua mati. Membunuh cinta yang kuyakini. Senyata matahari yang setia mengucap salam pada bumi, senyata itu pula cinta yang bersemayam dihatiku. Tak kuasa aku membunuhnya, menghanyutkan di laut lepas. Seperti matahari yang selalu kutemui ketika pagi menyapa, mengerjap-ngerjap dengan senyuman dan aku takluk luluh lagi dalam mata beningmu’.

‘Di beranda aku dikejutkan lagi oleh hadirmuyang tiba-tiba. Mengapa kau datang dan perlahan mengisap rinduku? Mungkin tidaklah salah, kini aku dinanar kangen. Ketika tak ada tatap dan sapa yang terekam di hikayat pagi, senja atau malam sekalipun. Aku gelisah dalam lebur mimpi tak berujung, saat tak kuasa kurenggut lembut halus jemarimu. Mengapa kemarin dan hari ini, hanya ada bilur senyummu yang samar merambah pada kaca cermin. Bagaimana dengan lusa?’

‘Mungkinkah sendiri akan jadi pelabuhan terakhirku? Tak dapat kubayangkan apa jadinya. Saat aku tak lagi mampu berharap. Saat tak ada lagi napas untuk mengeja namamu. Betapa duka akan menggantung di tiap ranting pepohonan. Menyatu bersama buih di pasar laut. Hanya mampu berdesis ketika desau angina menyapu. Hanya bisa basah ketika gerimis menghujam bumi……….’

‘Betapa agung karuia cinta, melelehkan pongah hati. Menyemaikan ruh nurani. Syukur padaMu Tuhan…..untuk setiap napas yang kau berikan, hingga aku masih bisa mengeja namaMu…damaikan aku….dalam rengkuhan……kasihMu……selamanya…..untuk segalanya Tuhan……aku mengucap syukur padaMu Tuhan….’

Advertisements

3 comments on “Puisi “Cinta” Untuk Sang Terkasih, Hati

  1. Puisinya sweet………… curahan isi hati dari si penulis………..
    Bisa dijadiin motivasi buat lisna supaya terus nulis puisi nih…………..
    Termasuk puisi cinta…………. Hhihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s