LetsPlaY : Cerita dari Selat Sunda

LetsPlaY

LetsPlaY

Ternyata, di balik terbentuknya band Letsplay, terdapat beberapa cerita lucu. Hal tersebut diungkapkan para personil Letsplay saat menjalani sesi wawancara dengan sejumlah wartawan media cetak dan online di kantor NAGASWARA di Jalan Johar, 4U, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Januari 2011.

“Kita ini temenen dan suka main musik. Tapi, keputusan untuk membentuk band bersama itu baru muncul saat kita berada di atas kapal penyebrangan dari Merak – Bakahueni. Pokoknya tepat di tengah Selat Sunda,” ungkap Indra, vokalis Letsplay.

Para personil band dengan hits single “Jika Kau Jadi Aku” ini memang berasal dari Lampung. Persahabatan di antara Indra (vokal), (drum), Adis (basis audisional), dan Angga (gitar audisional), ditambah kesukaan yang sama pada musik, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah band.

Dygta

Dygta

Selain Letsplay, sesi ramah tamah dengan wartawan sore itu juga diikuti oleh banda asal Bandung, Dygta dan solois cewek cantik, Dilla. Dygta adalah salah satu band yang sudah cukup dikenal di industri musik Tanah Air. Bergabung dengan NAGASWARA, Dygta baru saja merilis album ke-6 mereka, “Sixth Sense” dengan single jagoan “Kumerindukanmu.”

Adilla

Adilla

Sementara, Dilla, satu-satunya artis cewe yang hadir, dikenal berkat single “Narsis”. Sebelum terjun sebagai penyanyi, Dilla lebih dulu menekuni dunia model. Dara yang kini menetap di kota Bogor, Jawa Barat itu juga sempat menekuni dunia sinetron.

Sumber : NAGASWARA MUSIC CORP

GTO (Great Teacher Onizuka)

Eikichi Onizuka a.k.a Takashi Sorimachi

Eikichi Onizuka a.k.a Takashi Sorimachi

Eikichi Onizuka, 25 tahun, adalah mantan pemimpin geng bermotor yang tidak tahu apa yang dilakukan dalam hidupnya. Dia bertemu seorang gadis yang mengobarkan keinginannya untuk menjadi seorang guru.

Onizuka berhasil menjadi guru di kemudian hari, namun Onizuka tidaklah sama dengan guru-guru yang sudah ada. Wataknya keras karena dia pernah menjadi anggota geng. Dia juga memiliki sifat sangat cuek dan tidak memperdulikan tatakrama yang ada. Dengan perilaku semacam itu, dia memecahkan berbagai permasalahan hubungan antar murid di kelasnya dangan cara yang tidak biasa, seperti mengancam murid yang sok jagoan dengan ancaman akan menjatuhkannya dari atas gedung.

Dengan wataknya yang tidak biasa itu, dia dibenci hampir semua orang di sekolah. Akan tetapi, pada akhirnya, banyak yang menyadari bahwa Onizuka adalah orang yang berjiwa bersih dan bisa mengatasi setiap permasalahan yang dialami murid maupun rekan sejawatnya.

Episode 1 – 2 :
Keinginan Onizuka Eikichi adalah menjadi seorang guru, siapa sangka cita-citanya tercapai ketika ia menendang seorang guru Uchiyamada yang semena-mena terhadap muridnya di sebuah sekolah. Pandangannya yang nyentrik tentang profesi guru membuat Kepala Sekolah Akira Sakurai tertarik dan menariknya.

Keputusan itu sudah tentu ditentang oleh Uchiyamada yang tak lain adalah wakil kepala sekolah, namun ia tidak berdaya. Di hari pertamanya Onizuka langsung ditugaskan untuk menangani kelas 2-4 yang sudah terkenal dengan kenakalannya. Terkesan melihat para muridnya terkesan alim (kecuali dua orang yang sempat dikenalnya), pria itu tidak sadar dirinya dijebak.

Malamnya, seorang siswi bernama Nanako berusaha menggoda Onizuka dengan melepas pakaian luarnya. Semua itu ternyata rencana dua siswa bandel yang berusaha memeras guru barunya, namun mereka ternyata salah memilih mangsa karena Onizuka ternyata adalah pemimpin gang bermotor yang memiliki banyak anak buah.

Kehebatan Onizuka lolos dari hukuman pemecatan membuat Nanako kagum dan menaruh simpati padanya, namun siasat pria itu diketahui oleh rekannya sesama guru Azusa Fuyutsuki yang marah karena sikap Onizuka tidak pantas diteladani. Belakangan, Onizuka malah terlibat masalah baru ketika Akira yang dikira hilang dari rumah ternyata menginap di kediamannya.

Keruan saja, kedua orang tua Nanako marah besar apalagi ketika keesokan harinya anak gadisnya itu kembali tidak pulang. Uchiyamada dan Fuyutsuki (yang mengantar Nanako pulang) tak henti-hentinya minta maaf, namun tidak demikian dengan Onizuka yang muncul belakangan.

Sambil membawa palu besar, ia membobol tembok pembatas ruang tidur ayah dan ibu Nanako. Mengira kejadian itu bakal membuat Onizuka keluar dari sekolah, Uchiyamada kembali kecele karena yang terjadi malah sebaliknya : kedua orang tua murid perempuannya itu berterima kasih pada si guru nyentrik.

Baru saja keadaan mulai reda, Onizuka yang baru saja bersuka cita karena berhasil mengajak kencan ibu guru Fuyutsuki yang mulai bersimpati padanya mendadak ditampar oleh gadis itu. Rupanya, di buletin sekolah terdapat foto Onizuka dalam pose tidak senonoh.

Karena tidak punya bukti kuat siapa pelakunya, kali ini Onizuka tidak berkutik. Di tengah kemarahan rekan-rekan guru, ia diminta untuk datang ke rumah ke salah satu siswa yang jago komputer Kikuchi yang mogok sekolah. Karena gagal, akhirnya Fuyutsuki yang diminta untuk ganti memberi nasehat.

Rupanya Kikuchi beranggapan kalau sekolah hanyalah batu loncatan, akibatnya ia memandang semua orang yang tidak sepintar dirinya. Ia baru kena batunya ketika bertemu dengan segerombolan priua bertubuh besar, Onizuka yang dimintai tolong menolak dan membiarkan muridnya itu babak-belur dipukuli.

Kejadian itu berakibat fatal : Kikuchi menolak masuk ke sekolah, dan itu berarti Onizuka untuk kedua kalinya terancam dipecat. Berusaha membujuk muridnya itu dengan bantuan Nanako dan dua rekannya, Onizuka yang berpidato panjang-lebar di tengah hujan deras (yang sebenarnya berasal dari selang air yang disemprotkan) mengurungkan niatnya meski ucapannya nyaris membuat Kikuchi tersentuh.

Paginya, Uchiyamada mengumumkan pengunduran diri Onizuka didepan para siswa kelas 2-4 akibat kegagalannya membujuk Kikuchi kembali bersekolah. Dasar apes, niatnya kembali gagal karena pemuda yang dimaksud muncul di saat-saat terakhir. Tidak hanya itu, Kikuchi mengatakan pada dua rekannya kalau dirinya tidak mau lagi ikut dalam rencana mencelakai Onizuka.

‘Ceramah’ Onizuka ternyata tidak hanya mengena ke Kikuchi, Fuyutsuki pun mulai menikmati profesinya sebagai seorang guru. Baru saja mau mengucapkan terima kasih, gadis itu mendapati Onizuka kembali berulah dengan menempelkan wajahnya ke foto sejumlah wanita tanpa busana. Bisa ditebak, Fuyutsuki langsung mengamuk.

Episode 3 – 4 :
Ketika dikonfrontir didepan kelas, Noboru berbohong dengan mengatakan kalau tidak ada yang mengerjainya karena takut pada ancaman Miyabi dan Kunio. Siapa sangka, problema nyaris serupa dialami oleh seorang guru senior Fujitomi, yang ditindas oleh gerombolan 2-4.

Jengkel karena muridnya itu bertingkah pengecut saat kembali dikerjai oleh Miyabi diatap gedung, Onizuka mengambil tindakan nekat yang nyaris saja mencelakakan dua muridnya sekaligus : Noboru dan Miyabi. Meski diancam akan diadukan ke Kepala Guru, Onizuka dengan cueknya mengatakan tidak takut dan menegaskan bahwa kalau memang pemberani, gadis itu seharusnya tidak menekan yang lemah.

Miyabi ternyata serius dengan ancamannya, ia menghadap Uchiyamada untuk mengadukan Onizuka dan mengancam akan memperkarakan masalah itu kalau sang guru tidak mau berlutut didepan murid-murid kelas 2-4 untuk minta maaf.

Onizuka rupanya tidak kalah keras kepala, ia bangkit berdiri dan mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Tergerak oleh sang guru, Noboru naik ke atas panggung, menanggalkan pakaian dan menunjukkan memar bekas pukulan Miyabi dan gerombolannya. Bisa ditebak apa yang terjadi : Onizuka tidak jadi dipecat dan Miyabi harus menjalani hukuman.

Penasaran dengan sang guru yang dianggapnya kurang ajar, Miyabi bersiasat menggunakan rekannya Tomoko untuk memfitnah Onizuka. Namun yang terjadi malah sebaliknya, ‘surat cinta’ Tomoko nyasar ke Nakamura yang tak lain adalah tangan kanan Uchiyamada.

Jengkel karena siasatnya gagal, Miyabi dan kelompoknya balik memusuhi Tomoko, seorang gadis yang memiliki kepercayaan diri rendah dan merasa dirinya tidak berharga. Padahal, murid kelas 2-4 ini diam-diam memiliki kemampuan tersembunyi yaitu mahir membuat boneka.

Demi membangkitkan rasa percaya dirinya, Onizuka dan Fuyutsuki mengikutsertakan Tomoko ke sebuah kontes pencari bakat. Sudah membayangkan bakal meraup uang banyak, Onizuka harus bekerja keras membuat Tomoko supaya berani mengungkapkan diri.

Saat kontes dimulai, Miyabi yang ternyata juga ikut berpesan supaya mantan sahabatnya itu tidak membuang-buang waktu dan pulang. Terpukul oleh ucapan Miyabi yang diidolakannya, di atas panggung Tomoko tergagap-gagap sampai Onizuka melempar boneka tangan kesayangannya.

Cara nyentrik gurunya itu sukses membuat Tomoko berbicara diatas panggung, ia mengungkapkan kebahagiaannya bisa berteman dengan gadis sepopuler Miyabi. Dari jauh Onizuka tersenyum, ia berhasil mengubah si itik buruk rupa menjadi seorang putri raja.

Meski tidak menang, keberanian Tomoko tampil di ajang kontes membuatnya menjadi pembicaraan di sekolah. Tidak hanya itu, para siswa berebut membeli foto-foto gadis itu dalam berbagai pose. Yang menjualnya, siapa lagi kalau bukan Onizuka yang mendapat ide cara cepat mengumpulkan uang untuk menyambut libur musim panas yang segera tiba.

Episode 5 – 6 :
Asuza tidak sadar bahwa diam-diam Teshigawara memendam perasaan padanya, bahkan saking fanatiknya mempunyai sebuah kamar khusus untuk memajang foto-foto gadis itu. Namun, belakangan ia malah menerima tawaran kencan sang rekan karena kesal dengan Onizuka.

Terkesan dengan Teshigawara yang mempunyai sejumlah kemiripan dengannya, Asuza mulai membanding-bandingkan pria itu dengan Onizuka yang dibencinya. Malamnya saat kembali berpapasan dengan Teshigawara dalam keadaan hujan deras, Asuza tidak menampik ketika diajak mampir ke apartemen rekannya itu.

Secara kebetulan, Onizuka yang bekerja sambilan sebagai satpam sekolah membongkar laci para guru, dan kaget ketika mendapati satu album penuh berisi foto Asuza di dalam laci Teshigawara. Benar saja, di apartemennya guru berkacamata itu berhasil memasukkan obat tidur ke minuman Azusa sehingga gadis itu tidak sadarkan diri.

Belum sempat menuntaskan niatnya, Onizuka mendadak muncul dan, sambil membopong Asuza keluar, melontarkan pernyataan yang benar-benar memukul Teshigawa. Ternyata pria itu bukanlah satu-satunya korban Onizuka malam itu, Asuza yang belakangan sadar diingatkan bahwa yang terpenting dalam cinta bukanlah status.

‘Perdamaian’ keduanya tidak berlangsung lama, keesokan harinya Onizuka kembali bertengkar dengan Asuza yang jengkel karena pria itu nampak santai meski telah diancam pemecatan. Namun Onizuka memang beruntung, ia malah berhasil berkenalan dengan Tsubasa yang tak lain adalah ibu Murai.

Kedekatan Onizuka dan Tsubasa kembali membuat Asuza terbakar cemburu, sehingga ia mencari jalan dengan mendekati rekannya Hakamata, yang berusaha adu kemampuan dengan Murai namun malah kalah memalukan, untuk ganti membuat Onizuka cemburu. Siapa sangka, pria itu malah tenang-tenang saja.

Tidak terima sang ibu sering menemui Onizuka, Murai langsung melabrak sang guru wali kelas namun malah ditantang untuk menguji keberanian. Permainan berubah menjadi bencana ketika rem truk yang dikemudikan Tsubasa tidak berfungsi, beruntung Onizuka dan Murai berhasil lolos. Yang membuat Murai tersentuh, Onizuka langsung bergerak cepat menolong sang ibu.

Meski di atas angin, Onizuka memberi kesempatan bagi Murai untuk bercerita soal sahabatnya yang meninggal di lain kesempatan. Yang marah-marah justru Hakamata, ia tidak terima ketika dikatai guru munafik dan menghajar Murai hingga babak-belur.

Kejadian tersebut membuat pemuda itu makin sadar kalau Onizuka berbeda dengan rekan-rekan gurunya, namun di pihak lain ia tidak ingin membuat rekannya Miyabi marah. Lawan Onizuka bertambah satu lagi, selain Teshigawa kini ia juga dimusuhi Hakamata yang merasa pamornya dilewati.

Episode 7 – 8 :
Akhirnya terungkap apa yang membuat Miyabi dan Murai begitu membenci para guru, semua itu berkaitan dengan rekan keduanya Takeshi yang dikeluarkan dari sekolah akibat konspirasi sekolah dan belakangan tewas karena kecelakaan. Karena itu juga, Miyabi menekan teman-teman sekelas terutama dua sahabatnya Chikakop dan Erika untuk tidak menuruti Onizuka.

Ketiganya sempat melakukan hal nekat : menggoda pria lewat kencan di telepon dan saat bertemu, menguras uang para pria itu. Dasar apes, Chikako malah mendapat pasangan Onizuka, yang secara kebetulan berniat mencari uang dengan cara yang nyaris serupa.

Mengira dirinya bakal diapa-apakan oleh sang guru, Chikako malah mendapat nasehat berharga. Saat keluar dari hotel, keduanya terlihat oleh Nakamata orang kepercayaan Uchiyamada, yang langsung melapor ke atasannya. Bisa ditebak, skandal itu kembali membuat Onizuka terancam dikeluarkan.

Bukannya menanggapi serius, ketika rapat dimulai Onizuka malah asyik bertaruh pacuan kuda sehingga cuma bisa membuat Asuza geleng-geleng kepala. Namun dibalik semua itu, pria satu ini berhasil memberi pelajaran penting tentang arti sekolah pada dua muridnya Chikako dan Erika.

Keadaan semakin parah ketika Miyabi menggunakan pengaruh ibunya yang ketua persatuan orang tua sekolah untuk mengusir Onizuka dan dua sahabatnya Chikako-Erika yang dianggap berkhianat. Namun bukan Onizuka namanya kalau tidak berulah : ia malah dengan tenangnya membawa dua muridnya itu ke dalam kelas dan mulai mengajar.

Dalam kemarahannya, Uchiyamada mengancam bakal menskors murid manapun yang menuruti Onizuka. Hal itu kontan membuat reaksi orang tua dan murid berbalik, dan Onizuka kembali mengajar. Masih punya kartu as karena berdasarkan perjanjian dengan Direktur Sakurai semua murid kelas 2-4 harus masuk kalau tidak ingin Onizuka dipecat, Uchiyamada kembali gagal mengusir musuh besarnya itu.

Episode 9 – 10 :
Ragu-ragu akibat niatnya itu ditentang oleh kedua orang tua dan guru-guru, Tomoko diingatkan oleh Onizuka akan ucapannya saat kontes bakat : keinginan supaya bisa bangga pada diri sendiri. Dasar nekat, ia malah memaksa Tomoko untuk keluar dari rumah dan pergi mengejar mimpinya.

Keruan saja, hal itu mengundang protes dari kedua orang tua Tomoko, yang meminta Onizuka dihukum. Sadar kalau gadis itu ada di rumah Onizuka, Asuza kembali dibuat kesal ketika seorang gadis (yang ternyata adalah anak Uchiyamada) muncul dan mengaku kabur karena bertengkar dengan sang ayah. Belakangan, sang ibu malah ikut menyusul dan ikut tinggal di tempat Onizuka.

Setelah bertemu Miyabi, Tomoko memutuskan untuk melanjutkan sekolah. Siapa sangka, kehadirannya malah ditolak Onizuka yang langsung mengusirnya keluar dari kelas. Dalam keadaan berlinang air mata, gadis malang itu dibantu oleh Asuza pergi ke bandara untuk mengurus keberangkatannya ke kota lain demi mengejar mimpi sebagai artis terkenal.

Rupanya Onizuka tidak sekejam itu, ia melakukannya demi Tomoko. Terbukti ketika belakangan guru nyentrik itu muncul lengkap dengan seisi kelas 2-4 (minus Miyabi, yang hanya memperhatikan dari tempat tersembunyi) untuk memberi dorongan semangat. Sebelum pergi, gadis itu berpesan supaya Onizuka tidak memusuhi dan mau menjaga Miyabi yang kesepian.

Untuk menjatuhkan Onizuka, Uchiyamada mempunyai siasat baru : pria itu diminta untuk mengikuti sebuah tes demi membuktikan kapasitasnya sebagai guru. Sadar kalau Onizuka jauh dari cerdas, Asuza langsung menarik rekannya itu untuk menginap di apartemennya dan belajar dengan keras.

Bersamaan dengan itu, Miyabi bertemu dengan siswa dari sekolah lain Shinichi yang wajahnya mirip dengan kekasihnya Takeshi yang telah mati. Saking berbunga-bunga, ia tidak sadar kalau pemuda itu memiliki niat buruk. Murai berusaha memperingati, namun Miyabi mengacuhkan dan mengusir rekan yang diam-diam mencintainya itu dengan dingin.

Apa yang ditakutkan Murai akhirnya terjadi, Miyabi dibawa ke sebuah taman hiburan dan setelah dicium, Shinichi langsung menyodorkan gadis itu pada rekan-rekannya untuk digilir. Murai yang berusaha menolong dibuat babak-belur, namun di saat terakhir Onizuka muncul dan menghajar gerombolan siswa cerdas namun berhati jahat itu.

Ditolong sedemikian rupa, Miyabi akhirnya takluk terutama setelah tahu Onizuka lebih memilih menolongnya mencari kalung kesayangan walau di saat bersamaan pria itu harus menjalani ujian. Onizuka sendiri berhasil sampai ke tempat ujian tepat waktu, namun meski sudah belajar dengan keras, ia tidak mengisi satu pun jawaban dari soal yang diberikan. Ada apa?

Episode 11 – 12 (Final) :
Keadaan semakin parah setelah media massa mengetahui kasus tersebut lewat faks yang dikirim Shinichi, keruan saja Uchiyamada jadi bulan-bulanan Toudo senior yang memiliki jabatan penting di Kementrian Pendidikan.

Belakangan, Toudo berhasil merayu Uchiyamada dengan jabatan Kepala Sekolah bila berhasil menghukum Onizuka. Ia tidak sadar bahwa pria itu punya rencana lain : menghancurkan sekolah Seirin dan menjadikannya bagian dari Jinan. Berkat jebakan yang dirancangnya bersama para guru yang memihak, Direktur Sakurai berhasil dilengserkan dari jabatannya.

Dalam rapat orang tua yang juga diwarnai pengkhianatan ibu Miyabi itu, Onizuka mendadak muncul tanpa memperdulikan lukanya. Kejadian itu membuat murid-murid satu sekolah bersimpati padanya, dan memilih memboikot tidak mau masuk sekolah. Panas dengan sikap para guru yang egois, Asuza yang sudah tidak tahan lagi akhirnya memutuskan mundur sebagai guru.

Begitu tahu sekolah akan dihancurkan, Uchiyamada dan anak buahnya langsung lemas dan saling menyalahkan. Ketika keluar dari rumahnya, Shinichi dicegat oleh tiga murid Seirin : Murai, Miyabi dan Kikuchi yang langsung menyembah sambil meminta pemuda itu menarik tuntutannya terhadap Onizuka.

Dipecat dari pekerjaan yang dicintainya, Onizuka dengan tanpa beban melakukan berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup. Kunjungan para siswa kelas 2-4 membuatnya sadar betapa pentingnya menjadi seorang guru, ia langsung bertindak dan mencegat buldozer yang hendak merobohkan sekolah Seirin dan bersama para murid kesayangannya, masuk ke dalam gedung sekolah.

Kejadian itu langsung menjadi perhatian media, dua orang reporter berhasil menyelinap ke dalam sekolah untuk melihat apa yang dilakukan Onizuka dan terkejut melihat sang guru beserta para muridnya asyik menonton kaset berisi rekaman Tomoko di tempat barunya.

Berhasil diwawancara (lengkap dengan ulah konyolnya) dan disiarkan langsung, tindakan Onizuka itu membuat Toudo dan Kamimura kepala sekolah Jinan makin geram. Belakangan, Uchiyamada dan para guru yang sadar tindakan mereka salah (berkat nasehat guru senior Fujitomi) ikut bergabung. Tapi Onizuka rupanya punya rencana kejutan lain.

Setelah mengakui perasaannya pada Asuza, bersama para muridnya Onizuka ternyata telah menyiapkan pesta berjudul Festival Sekolah Seirin untuk merayakan hari jadi yang ke-22. Keruan saja melihat para guru dan murid masuk ke dalam sekolah untuk berpesta, semua rencana Toudo dan Hamimura otomatis gagal, sekolah Seirin kembali ke pemilik aslinya.

Tidak hanya itu, keduanya juga harus berurusan dengan polisi berkat laporan Shinichi. Keadaan akhirnya kembali normal. Setelah menunggu bertahun-tahun, Uchiyamada akhirnya ditunjuk sebagai Kepala Sekolah oleh direktur Sakurai. Yang harus gigit jari justru Nakamaru, karena yang terpilih untuk mengisi jabatan Kepala Guru justru Fujitomi.

Bagaimana dengan Onizuka sendiri? Karena terbukti tidak bersalah, otomatis ia kembali menjadi guru (ditugaskan di sekolah lain) dan berkat bujukannya yang unik, Asuza tidak jadi meneruskan pelatihan pramugarinya dan kembali menjadi guru di sekolah Seirin.

..TAMAT..

Suatu tanggung jawab akan menghasilkan sebuah perubahan dalam kehidupan diri kita, kerabat dekat maupun orang lain. ~mJ_JBWKZ~

LetsPlaY – Jika Kau Jadi Aku

Jika Kau Jadi Aku
Letsplay (Nagaswara)
Cipt : Angga (Letsplay)

Song *
Sedih hati ini Kau tinggalkanku
Slu ku tangisi Kau jauh dariku

Bridge :
Ingin memiliki kamu
Seutuhnya namun ku tak berdaya

Reff :
Kau tak tau apa rasanya di tinggal pergi
jika saja kau rasakan….
Kau tak kan mampu Menahan sakit seperti ini
Jika saja kau menjadi aku

Song **
Coba lupakanmu
Namun ku tak bisa
Dan tlah ku pastikan
Ku harus menunggu

Bridge :
Ingin memiliki kamu
Seutuhnya namun ku tak berdaya…
(Back to Reff)


Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

FISIP ON THE ROAD

Berawal dari sebuah kepedulian terhadap anak – anak jalanan dan para tunawisma yang ada di sekitar kota Bandung, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Langlangbuana ( FISIP UNLA -red- ) melaksanakan sebuah kegiatan sosial bernama FISIP ON THE ROAD pada tanggal 01 Januari 2011. 

Rizky Firdaus

Rizky Firdaus

“ Tujuan dari kegiatan ini agar seluruh mahasiswa UNLA pada umumnya dapat saling berbagi kepada sesama manusia yang membutuhkan, serta mengerti akan pentingnya tindakan sosial sekarang ini. “ seru Rizky – Ketua Pelaksana FISIP ON THE ROAD sekaligus mahasiswa UNLA jurusan Ilmu Pemerintahan 2008. Terlepas dari itu, kita sebagai makhluk sosial yang secara alamiah saling membutuhkan satu sama lain, tentu tidak harus selalu mengesampingkan kaum marginal. Kaum marginal di sini adalah mereka yang berada pada strata sosial kelas menengah bawah. Dan mahasiswa sebagai Agent of Change sebisa mungkin harus menghilangkan batas yang timbul di antaranya.

Bulan Desember, mahasiswa FISIP mencoba mengumpulkan dana sosial dari seluruh mahasiswa UNLA. Mulai dari lembaga – lembaga, ukm – ukm, dan fakultas – fakultas yang ada di kampus tercinta. Tak ada rasa malu ataupun rendah diri bagi mereka yang turun ke lapangan. Yang terpenting adalah terciptanya rasa kekeluargaan dan terselenggaranya kegiatan ON THE ROAD dengan baik dan benar. “ Tidak terlalu penting, berapa nominal yang kami berikan, yang penting kita dapat belajar berbagi. “ seru Rizky, menggebu – gebu.

Perjalanan malam itu dimulai pada pukul 19.00 WIB. Perwakilan mahasiswa – mahasiswa FISIP berangkat menuju beberapa lokasi. Diantaranya Alun – alun, Dago, dan Soekarno Hatta. Realisasi arti sebuah kebersamaan benar – benar tergambar. Mahasiswa dan masyarakat bersatu padu dalam kegiatan ini. Dinginnya angin malam dan rasa letih yang menjalar, seketika hilang dalam benak.

FISIP ON THE ROAD ini bukanlah akhir dari berbagai kegiatan sosial yang telah berhasil dilaksanakan oleh mahasiswa FISIP. Namun, awal dari berbagai kegiatan – kegiatan positif lainnya yang belum terkondisikan. Bukan hanya dari FISIP, tapi juga dari fakultas – fakultas lain di UNLA. Untuk para mahasiswa – mahasiswi UNLA, tekadkan hati dengan semangat kebersamaan untuk satu tujuan yang sama. Kemajuan UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG. Semangat. !!!

Oleh : Faryani Rachmawati & Lisna Kristianti (IKOM’10)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Angka Sakral Tanggal 26

HARI ini ADALAH hari ESOK yang kita cemaskan hari KEMARIN, The Seven Habits of Highly Effective Teens

Hari ini, tanggal 13 Januari 2011 pukul 07.50. Duduk sejenak sambil melihat rintikan hujan, angin yang cukup kencang hingga merusuk tulang dan tidak lupa didampingi secangkir torabika susu hangat dan 1 batang rokok djarum super agar suhu tubuh tetap stabil. Teringat sejenak dengan tsunami dan gempa besar yang terjadi di Serambi Mekkah Aceh menjelang akhir tahun Desember 2004, entah mengapa dalam fikiranku ini terngiang dengan peristiwa tersebut. Atau mengkin setelah melihat beberapa Timeline di Twitter mengenai GEMPA !!, entah lah..:(

Hhhmm..Memang bencana alam tersebut sangat sulit untuk di prediksi, mungkin hanya orang – orang tertentu yang diberikan kemampuan lebih seperti halnya almarhum mbah Maridjan. Aku hanya bisa berdoa kepada sang maha penciptan “ya allah, mudah2an jangan sampai terjadi lagi musibah atau bencana di negriku tercinta ini, amin ya rabbal alaamin..”. Mungkin hanya itu saja yang bisa aku lakukan. Memang, kita hanya manusia biasa dan tidak akan mungkin mengetahui apa yang terjadi di masa yang akan datang, selain Allah SWT.

Peristiwa itu ditetapkan oleh pemerintah sebagai bencana nasional yang menelan lebih dari 200.000 korban jiwa. Namun ternyata peristiwa itu bukanlah satu-satunya tragedi mengenaskan yang menghiasi tanggal 26.

Beberapa catatan tentang “sakralnya” tanggal 26 adalah sebagai berikut :

  • tanggal 26 Agustus 1883 gunung Krakatau meletus dan menelan korban jiwa sebanyak 36.000.
  • 26 Juli 1976 sebuah gempa bumi paling mematikan dalam sejarah umat manusia terjadi di China dengan korban jiwa lebih dari 255.000.
  • 26 Januari 1951 gempa bumi di Portugal menewaskan lebih dari 30.000 jiwa.

Dan yang lebih spesifik, tanggal dan bulan persis dengan tragedi di Aceh, adalah sebagai berikut :

  • 26 Desember 1972, gempa bumi di distrik Kansu, China menelan korban jiwa lebih dari 70.000 jiwa.
  • 26 Desember 1939, gempa bumi di Erzincan, Turki dengan korban jiwa lebih dari 41. 000 jiwa.
  • 26 Desember 1996, bencana greg storm di Sabah, Malaysia menewaskan lebih dari 1.000 orang.
  • 26 Desember 2003, gempa bumi “super” di Bam, Iran mengguncang dan menelan korban lebih dari 60.000 jiwa.

Sangat pedih memang melihat statistik tersebut, akan tetapi tidak ada kutukan di tanggal 26. Sama seperti apa yang aku rasakan pada saat ini, detik ini, hari ini yaitu tanggal 13+13=26 dan rata – rata menyebutnya sebagai angka SIAL. Aku percaya, bahwa sang Maha Mengetahui tidak akan pernah lupa sedetik pun mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini. Dan selalu memberikan jalan yang terbaik untuk kita semua (meskipun seringkali dengan cara yang cukup sulit kita terima dan pahami)

Mari sahabat, kita yakini bahwa berbagai macam hari semua tanggal itu baik, aku meyakini itu (semoga kawan semua berpandangan sama) berprasangka baik akan membuahkan yang manis dalam sebuah karya dan bermanfaat..

Dan semoga juga..setelah ini, tidak akan pernah terjadi lagi tragedi tanggal 26. Amin..

Oleh : @mJ_JBWKZ

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry