Catatan Kecil yang Tertinggal di Desa Mandalasari “PART 1”

Sangat sulit merampungkan tulisan ini padahal tidak ada kesulitan yang berarti. Seharusnya mudah saja, tinggal ku buka diary, menandai lembar demi lembar catatan tertanggal bulan Juli sampai Agustus 2009, merangkainya menjadi sebentuk cerita, dipublish di blog ini dan TAA.. DAAA.. kalian dapat membacanya.

Entah kenapa hal sederhana itu menjadi sulit. Entah disebabkan oleh kesibukan yang menyita waktuku beberapa bulan ini atau karena begitu banyak pengalaman tidak menyenangkan yang aku rasakan dalam kisah ini. Tapi bagaimanapun, kisah ini adalah sepotong puzzle dari hidupku. Dan mereka yang terlibat adalah sahabat-sahabat yang tanpa sadar, telah mempunyai ruang di hatiku. Maka.. mari kita nikmati bersama, sekelumit cerita yang aku alami ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Selamat mengapresiasi! 🙂

***

30 Juli 2009
22.12

Pelatihan Bhs. Inggris

Hari ini adalah hari pertama pelatihan Bahasa Inggris untuk anak-anak SD. Untuk kegiatan pelatihan ini, kami meminjam 2 ruangan kelas di SD 04 Mandalasari. Ada sekitar 100 anak yang kami ajar tadi sore. Karena begitu banyak peserta yang berminat, kami membagi pelatihan ini menjadi 2 kelas; A dan B.

Fiuuuuuhh.. mengajar itu ternyata melelahkan.. anak-anaknya sih lucu-lucu tapi tengil. Ketika mengajarkan huruf dan angka, semuanya mudah saja. Namun ketika menginjak sesi dialog, susahnya minta ampun. Mereka sulit sekali melapalkan kata-kata percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris. Kami bekerja keras menjabarkan modul yang kami buat dan membuat mereka berani bicara di depan kelas. Kami bahkan harus ekstra keras bekerja saat menghadapi kerusuhan setiap menitnya yang disebabkan oleh anak-anak supernakal.

Hendik (nama seorang teman) sebetulnya sudah ’greget’ dengan tingkah anak-anak tapi dia tetap semangat mengajar dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, haha.. Aku tidak sempat memantau kelas satunya yang dikomandoi Ilham (nama seorang teman) yang jumlah peserta didiknya lebih sedkit daripada di kelasku. Kelas anak-anak SMP belum dimulai karena peserta didiknya berhalangan hadir.

Kelas Pelatihan Komputer di Balai Desa ternyata lebih parah kondisinya, anak-anak peserta berebut menggunakan PC yang memang Cuma ada 4 unit sehingga waktu yang disediakan tidak cukup. Hal ini diperparah dengan daya listrik di Balai Desa yang tidak stabil sehingga sering anjlok dan membuat listrik padam. Hah.. kasian anak-anak peserta yang sudah mengantri lama untuk bisa ’ngoprek’ komputer.

Malam ini, aku terpaksa tidur agak larut untuk membuat modul untuk bahan ajar besok bersama si Cumi (panggilan seorang teman). Mudah-mudahan kegiatan belajar mengajar besok kelas tidak serusuh tadi.

14 Agustus 2009
21.15
Aku hampir tidak percaya kegiatan hari ini terlaksana. Dengan tubuh yang kurang fit, mempersiapkan sebuah talkshow interaktif anti penyalahgunaan alkohol dan narkoba bukanlah perkara mudah. Apalagi, persiapan talkshow ini tergolong ngebut; 1 minggu. Hari ini, taksiranku persiapan acara baru 80 %, belum optimal. Kemarin, pin dibuat mendadak di ’D Ink’ dan konsumsi pun baru dibeli pagi tadi.

Tujuan dilaksanakannya talkshow ini adalah memberikan pemahaman akan akibat penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Mandalasari. Kejadian tidak menyenangkan dialami oleh ade Mus (nama seorang teman) ketika berkendara di jalanan Mandalasari. Ketika itu beberapa pemuda yang dipastikan sedang mabuk mencoba mengganggunya tanpa alasan yang jelas. Dari kejadian itu, kami berinisiatif untuk memberikan penyuluhan untuk mereduksi dampak negatif akibat alkohol dan narkoba.

Sedari awal talkshow, ketidaksiapan panitia sudah terlihat. Waktu pembukaan molor hingga 1 jam. Narasumber datang terlambat, peserta belum memenuhi target. Pembukaan baru dilaksanakan ketika waktu sudah menjelang ashar.

Di tengah-tengah acara, si Hendik (lagi-lagi) ditumbalkan sebagai narasumber dadakan karena 1 narasumber berhalangan hadir. Untung Hendik punya kemampuan akting yang lumayan sehingga peran pencandu narkoba bisa dilakoni dengan baik. heu.. Syalma dan Ilham juga sukses sebagai MC dan membuat talkshow ini berjalan dengan meriah hingga akhir.

Doorprice jam tangan yang telah disiapkan ternyata didapatkan oleh Bu RW (lupa RW berapa). Aku sempat terharu dengan pernyataannya yang akan terus memakai jam tangan itu supaya tetap ingat dengan para peserta KKN. 🙂

Meskipun dengan persiapan kurang optimal, ternyata talkshow ini bisa memberikan kesan mendalam di hati para peserta terutama para orang-tua. Mereka yang mempunyai anak yang bermasalah dengan alkohol dan narkoba sedikitnya telah mendapatkan cara yang lebih efektif menyikapi anak-anak mereka.

18 Agustus 2009
21.15

Keceriaan pagi tadi masih begitu terasa. Dengan bermodal spanduk beslogan ’Segalanya untuk Desaku, Mandalasari’, tank baja dan pesawat tempur mini, kami berjalan berarak-arakan dari Cilincing Bumi; dusun terujung di Desa Mandalasari menuju Lapangan Kecamatan Kadungora, Garut. Suara Buumm… buumm… menggelegar berkali lipat lebih ’edan’ dari suara petasan. Suara yang memekakkan telinga itu keluar dari selongsong-selongsong bambu yang diisi karbit, seringkali kami namakan ’lodom’. Anak-anak kecil kurang kerjaan memfungsikan lodom-lodom itu sehingga aku dan beberapa orang lainnya lari kocar-kacir keluar dari barisan.

Tidak hanya kami yang ikut dalam arak-arakan itu, ada juga murid SD, tim marcing band, peserta lomba gerak jalan, Pak Kades dan rengrengan, ibu-ibu PKK, bahkan ondel-ondel dan banci ’jadi-jadian’ pun turut serta.
Kurang lebih dua jam kami mengikuti arak-arakan. Kaki keram, banjir keringat dan sesak napas menjadi sahabat di siang tadi. Setibanya di lapang Kadungora, tank baja dan pesawat tempur mini yang kami buat sampai pagi berubah menjadi rongsokan sampah. Tapi tak apalah. Keceriaan yang kami rasa sudah cukup membayar kelelahan kami mempersiapkan pernak-pernik itu.

Di tengah-tengah prosesi upacara, sebagian dari kami mengendap-endap pulang. Yang tersisa mengikuti upacara hanyalah Pak Ketua kelompok dan Aji (nama seorang teman). Sialnya, kami terpaksa pulang naik angkot karena mobil hendik sudah dijejali masyarakat Mandalasari yang juga berniat pulang. :p

Jam sembilan malam, kami sambung keceriaan siang tadi dengan nonton bareng (Nobar). Beberapa film bertema kepahlawanan dan edukasi telah disiapkan. Namun acara nobar mendadak ’garing’ ketika film Laskar Pelangi diputar maka kami lekas menggantinya dengan film Setannya Ko Beneran?, penonton seperti kegirangan dan tidak beranjak dari tempat duduk hingga larut malam. Uhh.. Cuape dehh.. Ternyata di momen seperti ini kurang tepat untuk memutar film edukasi seperti Laskar Pelangi.

(Bersambung)
Oleh : Dessy Andriyani (Ilmu Pemerintahan’06)
Advertisements

One comment on “Catatan Kecil yang Tertinggal di Desa Mandalasari “PART 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s