Merencanakan Pemotretan

BAGI media, seorang jurnalisfoto merupakan mata bagi pembacanya. Apa yang dilihat dan direkamnya mewakili peristiwa menarik yang diliputnya hari itu. Kewajiban jurnalisfoto di lapangan adalah merekam peristiwa yang terjadi. Dengan begitu, fungsi mata bagi pembacanya telah ia jalankan.

Fungsi foto dalam dunia jurnalistik kian melebar. Foto tak lagi sebagai penghias halaman atau pengganjal halaman kosong di suratkabar. Foto yang telah dimuat kerap dijadikan bukti adanya peristiwa dan dijadikan landasan hukum untuk sebuah keputusan. Sebagai ilustrasi contoh, foto di Pikiran Rakyat telah dua kali dijadikan bukti bagi PSSI untuk menjatuhkan sanksi saat terjadi keributan antar penonton dan pemain. Penonton yang meluber hingga ke belakang gawang menjadikan dan fotonya dimuat di Pikiran Rakyat menjadikan tim Persib kena sanksi main diluar kandang.

Foto merupakan penyajian realita dari sebuah peristiwa karena bisa menimbulkan efek jangka panjang. Seperti foto yang diambil dua fotografer anti perang Eddie Adams yang memotret orang ditembak di kepala di Saigon atau Nick Ut yang merekam gadis cilik yang berlari telanjang akibat bom napalm di Vietnam, juga berperan mempercepat berhentinya perang. Reaksi dari masyarakat terhadap foto yang menampilkan tawanan Irak yang disiksa tentara AS dan Inggris (yang katanya memiliki standar ketentaraan tertinggi di dunia) tahun lalu, merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah foto yang baik mampu menimbulkan empati.

Untuk membuat sebuah foto yang mampu menggugah, saat pemotretan pun tidak sekedar merekam atau melaporkan peristiwa yang terjadi. Foto yang dijepret haruslah bisa mewakili peristiwa yang diliputnya. Sesuai dengan definisi foto jurnalistik yang dikemukakan Wilson Hick, “foto jurnalistik adalah gambar dan kata”, maka foto yang ditampilkan haruslah menarik dari sisi gambar dan lengkap dari sisi berita (5W+1H).

Namun unsur 5W+1H ini tidak selalu terdapat dalam foto (gambar), dan kekurangan ini dijelaskan dalam caption foto (kata). Hal yang biasanya tidak terdapat dalam gambar diantaranya nama orang, lokasi, penyebab dan waktu peristiwa tersebut berlangsung. Karenanya, foto yang tidak disertai caption biasanya menjadi foto yang tidak menarik. Dan penggabungan gambar serta kata inilah seperti yang dimaksud Hick disebut sebagai foto jurnalistik

Saat merekam sebuah peristiwa, seorang fotojurnalis membutuhkan persiapan. Motto orang Skotlandia “be prepared” sangat cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak jam terbang (pengalaman) ini. Memotret sama halnya membaca peristiwa, jadi sebuah kejadian nggak hanya kita ikutin apa adanya. Membuat sebuah foto juga memerlukan perencanaan agar semua peristiwa yang akan kita dokumentasikan selain lebih fokus juga menghemat tenaga dan memori. Baiknya kita ingat pula bahwa jurnalisfoto bukanlah seksi dokumentasi yang menjepret segala hal. Apa yang dibidik dan direkam merupakan sesuatu yang paling menarik untuk dilihat pembacanya.

Untuk membuat foto yang menarik ini, seorang fotografer LIFE Rentmesster memberikan nasehat “buatlah foto yang lain dari pada yang lain”. Karena orang akan tertarik bila ia merasa mendapatkan sesuatu dari apa yang dilihatnya. Namun meskipun pada dasarnya foto yang menarik mudah untuk diingat, bila foto tidak mempunyai kepentingan bagi sang pembaca maka foto tersebut tidak menarik lagi. Karena foto yang menarik bagi seseorang belum tentu menarik bagi orang lain tergantung dari latar belakang pembacanya.

Foto kecelakaan berdarah-darah, gambar orang mati di kamar jenazah, mungkin menjadi foto yang sangat menarik bagi sebagian suratkabar namun akan menjadi sangat tidak menarik bagi suratkabar yang lain (contohnya Pikiran Rakyat). Karena kengerian yang ditimbulkan foto bukan menimbulkan empati tapi membuat pembaca kita mual. Coba bayangkan saat hendak sarapan dengan menu yang enak sambil membaca suratkabar pas yang dilihatnya orang mati dalam kondisi mengenaskan. Bukannya akan dilihat, tentu suratkabar kita masuk kolong meja dengan cepat dan komunikasi yang kita sampaikan tidak akan sampai.

Untuk merencanakan peliputan atau bagaimana jalannya sebuah foto bisa sampai ke meja redaksi, biasanya kita membagi berdasarkan klasifikasi tertentu. Seperti jika berdasarkan isi berita, kita membaginya lewat dua kategori hardnews dan softnews. Hardnews merupakan peristiwa yang tidak kita duga dan kita rencanakan serta bisa terjadi kapan saja seperti kecelakaan, kebakaran, (kebanyakan musibah). Sedangkan softnews merupakan berita yang bukan hardnews atau berita yang peliputanya bisa kita rencanakan sebelumnya. Contohnya berita yang akan kita peroleh berdasarkan undangan dari lembaga humas pemerintahan atau dengan melihat kalender hari besar nasional/internasional.

Sedangkan jika berdasarkan sumber berita, bisa kita bagi dalam dua sumber. Pertama dari wartawan sendiri (wartawan foto, wartawan, dan pusdok) dan kedua dari sumber luar (humas perusahaan/pemerintahan/kepolisian/ peadam kebakaran, pembaca, stringer, internet, dan tentunya kantor berita –Antara, AP, AFP, Reuters). Karena itu kartu nama dan hp saat ini menjadi modal dalam berburu foto. Hubungan antara jurnalisfoto dengan lingkungannya haruslah terbina dengan baik agar setiap peristiwa yang terjadi bisa dengan cepat diketahuinya langsung dari sumber peristiwa.

Untuk kondisi sekarang, maraknya kamera digital (seperti yang terdapat dalam handphone) membuat sebuah media kian mudah dalam mendapatkan foto. Beberapa peristiwa yang biasanya tidak didapatkan jurnalisfoto kerap bisa didapatkan dari warga biasa yang hadir saat peristiwa terjadi. Rekaman peristiwa tsunami Aceh yang diambil seorang video amatir hingga kini menjadi salah satu bukti dahsyatnya peristiwa tersebut. Contoh lainnya, seusai peristiwa ancaman bom di Bandung Electronic Mall (BEC), redaksi menerima banyak sekali foto peristiwa tersebut yang diambil pengunjung. Untuk masa mendatang barangkali tugas fotojurnalis bisa diperingan dengan para fotografer amatir ini.

Adapun langkah-langkah perencanaan dalam pemotretan antara lain;

  • Mempersiapkan alat yang akan digunakan dan sesuaikan dengan kebutuhan. Biasanya perlengkapan standar berupa satu bodi kamera SLR dengan dua atau tiga jenis lensa (sesuai kebutuhan), dan sebuah flash/blitz. ID card, buku catatan, bolpoin, raincoat/payung/topi,  peta, air minum, scraft, senter mini, air minum botol, tetes mata ringan, serta obat-obatan kecil lainnya. Untuk pemotretan khusus/tertentu, persiapkan tangga kecil, tempat duduk kecil, tripod/monopod, juga tele converter.
  • Untuk pengguna kamera DSLR, persiapkan memory card yang cukup dan membawa batere cadangan. Kalau perlu charger batere kamera digendong sekalian.
  • Bila memiliki kamera saku, bawa sekalian untuk berjaga-jaga bila kamera kebanggaan kita mendadak ngadat. Atau kalau mau motret yang bakal mengundang banyak pemotret lainnya dan kita perkirakan bakal berdesakan memotretnya (rebutan), maka jangan lupa bawa tangga kecil atau persiapkan kursi pinjaman di lapangan.
  • Sesuaikan kostum kita dengan peristiwa yang akan dihadiri. Banyak peristiwa yang nggak perlu dan tak jadi diliput hanya gara-gara urusan pakaian. Pakai jeans, nggak pake sepatu resmi, lupa ID Card, kerap menjadi masalah lapangan. Liputan kenegaraan contohnya. Jenis liputan ini pun ada yang resmi dan tak resmi meski pejabat yang hadir sama. Bila nggak suka pakaian jas yang panas (kayak penganten), amannya sih kita berbatik ria saja.
  • Kenali wilayah, menjadi bagian yang penting untuk mempermudah pelaksanaan tugas. Kita pun musti tahu kapan jalanan macet dan jalan alternatif saat macet (kalau perlu naik ojeg). Saat tugas luarkota, kita pun musti survei lokasi dan tempat kita akan mengirim foto. Apakah bisa mengirim langsung dari lapangan (press room), hotel, atau musti nebeng warnet. Pastikan mereka bisa melayani kita saat dibutuhkan.
  • Melihat schedule acara ke protokoler akan peristiwa yang akan berlangsung sebaiknya dilakukan. Biasanya untuk acara dokumentasi kantoran sang pejabat dari atas ke bawah juga merupakan prioritas obyek yang musti diambil. Dari jadwal tersebut kita buat skala prioritas yang musti diambil sekalian foto-foto pejabat/tamu yang harus tampil dalam rekaman dokumentasi kita. Kita musti tahu pula kapan klimaks dari peristiwa yang akan kita ambil serta untuk memudahkan pembuatan prioritas pula.
  • Untuk momen tertentu, saat pengambilan gambar akan menentukan dramatisasi obyek gambar. Seperti Gedung Sate Bandung akan terlihat lebih megah bila dipotret sore menjelang malam hari (pk.18.00-18.30 WIB) saat langit agak biru dan cahaya lampu mulai menerangi  sekeliling atap dan bangunan. Bandingkan bila memotret siang hari dengan pedagang bersliweran yang terkesan kumuh. Tinggal penyampaian pesan itu obyek mau terkesan bagaimana, bisa dengan memanfaatkan waktu pemotretan (time of day). Atau misalkan motret agar langit biru (tanpa filter) bisa dilakukan bila memotret searah jatuhnya bayangan sebelum pk.09.00 atau setelah pk. 15.00 WIB. Kesan warna keemasan bisa didapat pada pemotretan sore hari, biasanya warna obyek lebih menguning tanpa bantuan filter.

Lalu, bagaimana persiapan bagi seorang petugas kehumasan atau dokumentasi untuk mendokumentasikan acara-acara yang sudah terjadwalkan? Persiapannya kurang lebih hampir sama dengan yang dipaparkan di atas meski beberapa poin bisa dihilangkan.

Namun poin tambahannya, seorang fotografer acara-acara humas harus lebih percaya diri. Jika sudah memegang kamera, atasan kita sudah tidak berpangkat lagi jadi kita nggak perlu risih atau kagok bila maju untuk mengambil gambar. Biasanya perasaan risi timbul dan membuat fotografer kurang pede, padahal momen sudah tidak bisa kita ulang lagi.

Selain harus mampu mendokumentasikan sebuah acara seorang petugas kehumasan pun harus mampu me-“manage” jurnalisfoto yang hadir agar jalannya acara tidak terganggu dengan lalu lalangnya para jurnalisfoto ini. Salah satu diantaranya adalah dengan memberikan ruang foto yang layak bagi jurnalisfoto agar mereka mendapatkan sudut pengambilan yang jelas dan menarik. Sehingga gambar yang terekam bisa tampak indah dipandang.

Seperti penempatan bunga, air minum, atau mike di podium yang kerap mengganggu gambar. Sehingga mulut pejabat yang berbicara kerap terhalang mike dan menjadi pemandangan yang tidak enak untuk dilihat. Atau saat acara serahterima, pandangan pemotret seringkali terhalang petugas sehingga gambar yang dihasilkan kurang maksimal. Untuk hal ini, kerjasama dengan bagian protokoler menjadi bagian yang penting.

Tugas terakhir seorang fotografer kehumasan bagi keperluan publikasi adalah menyampaikan foto kepada media yang tidak hadir dalam acara tersebut. Kalau perlu selain mencatat nama dan alamat kantor, catat pula alamat e-mailnya sehingga pengiriman foto bisa lebih cepat dan efisien.  Kerjasama yang terjalin antara media dan lembaga kehumasan bisa saling membantu dimana media mendapatkan gambar yang bagus dan enak dilihat sedangkan bagian kehumasan pun mendapat kepuasan setelah acara yang diselenggarakan terpublikasikan dengan menarik.*

Oleh : Dudi Sugandi, Redaktur Foto Pikiran Rakyat, sarjana jurnalistik lulusan jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Menjadi kontributor kantor berita Reuters, AP, AFP, dan EPA. Menjuarai berbagai lomba foto tingkal lokal, nasional, dan asia tenggara, saat ini menjadi juri berbagai lomba foto nasional dan memberikan pelatihan fotografi. Website : dedisugandi.multiply.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s