Kakiku di BRAGA FESTIVAL 2010

Braga Festival 2010

Sore itu tanggal 25 Desember 2010, aku dan MJ bermaksud untuk menghabiskan waktu tepat di acara BRAGA FESTIVAL 2010. Sejenak kami duduk – duduk di depan Bank BNI seraya mengamati segelintir orang yang terkesan sibuk dengan kegiatannya masing – masing. Ada anak kecil yang merengek – rengek meminta dibelikan mainan oleh ibunya, ada remaja – remaja yang sedang bercanda dengan teman sebayanya, ada ibu – ibu dan bapak – bapak yang membeli oleh – oleh untuk kerluarganya, orang pers yang siap mendokumentasikan acara festival, dan tentunya tak ketinggalan para pengisi acara serta para panitia yang selalu terlihat semangat dalam segala kondisi apapun.

Stand BRAGA FEST'10

Setelah cukup beristirahat, kami tertarik untuk melihat stand – stand yang ada di acara BRAGA FESTIVAL 2010. Satu persatu kami telusuri. Ada beberapa stand yang kami kunjungi, seperti stand KP. Jayagiri, stand Yayasan Bordir Jabar, stand Aston Braga, stand KP. Gajah, stand Riam jeram, stand Bumbu Desa, stand Nasi Tetenong, bahkan ada pula stand khusus yang diisi oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata Jawa Barat, dan masih banyak lagi stand – stand yang menarik. Selain itu, acara ini juga menampilkan IniAku Band Feat Charly ST12, Sembilan Band, 86 Band, Tqla Band, Munthe Band, serta band indi Bandung, Perfrom Dj Freeze dan Dj Adyt, Fashion Show oleh model – model Bandung, Perfom Perkusi dan anak jalanan hari rusli, Demo dari komunitas sepeda ontel, brootherhood serta acara kesenian daerah dari Damas. Ya walaupun sudah sore, tapi stand – stand di sini jarang sekali terlihat kosong, bahkan semakin ramai.

Stage On BRAGA FEST'10

Selintas terbesit dari pikiran kami untuk meliput acara BRAGA FESTIVAL 2010. Atas kesepakatan bersama, kami mewawancarai salah satu panitia BRAGA FESTIVAL 2010. “ ART FOR SOLIDARITY. Ada dua konsep yang ditonjolkan di dalam tema tahun ini, solidarity and community ghatering. jadi, komunitas – komunitas yang ada di Bandung khususnya serta Jawa Barat umumnya dapat bersatu padu dalam satu acara, yaitu BRAGA FESTIVAL 2010” kata mas Fauzi, menegaskan. Ya, solidaritas memang harus selalu ada dalam komunitas. Baik itu komunitas besar maupun kecil. Realitanya solidaritas sangatlah susah untuk diterapkan apabila tidak ada kesadaran dari diri masing – masing.

“ Simpati masyarakat benar – benar tinggi atas diselenggarakannya BRAGA FESTIVAL 2010 ini. Saya harap untuk acara festival kedepannya, walaupun bukan dari EO kita, tapi tetap bisa lebih baik dari tahun ini. “ seru mas Fauzi bersemangat. Begitu pula yang kami rasakan sedari awal menginjakkan kaki di Jl. Braga. Sama sekali tidak ada kesan ketidak-tertarikan masyarakat dalam acara tahunan ini. Semua lapisan masyarakat bergabung, bersatu, dan saling bercengkerama satu sama lain. Dengan kata lain, BRAGA FESTIVAL 2010 dianggap telah mampu merealisasikan arti sebuah solidaritas.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam. Grup band ST12 bersiap meramaikan Jl. Braga dengan beberapa lagu yang dinyanyikan oleh Charly. Kami pun berencana untuk menonton penampilan mereka. Namun, setelah hampir se – jam kami menunggu dan ST12 pun tak kunjung menampakkan diri, kami pun memutuskan untuk pulang. Ada hal yang unik ketika kami melewati panggung kecil yang terletak di depan stand Yayasan Bordir Jabar. Seorang remaja berumur sekitar lima belas tahunan, dengan wajah polosnya sedang membacakan puisi cinta, “hidup adalah cinta dan kenyataan … Cinta adalah … “ dia kemudian diam seribu bahasa. Dalam benakku, mungkin dia sedang mencari kata – kata yang manis untuk sebuah pengertian cinta. Hahaha …

Ya, walaupun tidak menikmati acara dari awal sampai akhir, setidaknya kami bangga karena bisa menjadi bagian dari BRAGA FESTIVAL 2010.

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Advertisements

Catatan Kecil yang Tertinggal di Desa Mandalasari “PART 1”

Sangat sulit merampungkan tulisan ini padahal tidak ada kesulitan yang berarti. Seharusnya mudah saja, tinggal ku buka diary, menandai lembar demi lembar catatan tertanggal bulan Juli sampai Agustus 2009, merangkainya menjadi sebentuk cerita, dipublish di blog ini dan TAA.. DAAA.. kalian dapat membacanya.

Entah kenapa hal sederhana itu menjadi sulit. Entah disebabkan oleh kesibukan yang menyita waktuku beberapa bulan ini atau karena begitu banyak pengalaman tidak menyenangkan yang aku rasakan dalam kisah ini. Tapi bagaimanapun, kisah ini adalah sepotong puzzle dari hidupku. Dan mereka yang terlibat adalah sahabat-sahabat yang tanpa sadar, telah mempunyai ruang di hatiku. Maka.. mari kita nikmati bersama, sekelumit cerita yang aku alami ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut.

Selamat mengapresiasi! 🙂

***

30 Juli 2009
22.12

Pelatihan Bhs. Inggris

Hari ini adalah hari pertama pelatihan Bahasa Inggris untuk anak-anak SD. Untuk kegiatan pelatihan ini, kami meminjam 2 ruangan kelas di SD 04 Mandalasari. Ada sekitar 100 anak yang kami ajar tadi sore. Karena begitu banyak peserta yang berminat, kami membagi pelatihan ini menjadi 2 kelas; A dan B.

Fiuuuuuhh.. mengajar itu ternyata melelahkan.. anak-anaknya sih lucu-lucu tapi tengil. Ketika mengajarkan huruf dan angka, semuanya mudah saja. Namun ketika menginjak sesi dialog, susahnya minta ampun. Mereka sulit sekali melapalkan kata-kata percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris. Kami bekerja keras menjabarkan modul yang kami buat dan membuat mereka berani bicara di depan kelas. Kami bahkan harus ekstra keras bekerja saat menghadapi kerusuhan setiap menitnya yang disebabkan oleh anak-anak supernakal.

Hendik (nama seorang teman) sebetulnya sudah ’greget’ dengan tingkah anak-anak tapi dia tetap semangat mengajar dengan berbekal kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, haha.. Aku tidak sempat memantau kelas satunya yang dikomandoi Ilham (nama seorang teman) yang jumlah peserta didiknya lebih sedkit daripada di kelasku. Kelas anak-anak SMP belum dimulai karena peserta didiknya berhalangan hadir.

Kelas Pelatihan Komputer di Balai Desa ternyata lebih parah kondisinya, anak-anak peserta berebut menggunakan PC yang memang Cuma ada 4 unit sehingga waktu yang disediakan tidak cukup. Hal ini diperparah dengan daya listrik di Balai Desa yang tidak stabil sehingga sering anjlok dan membuat listrik padam. Hah.. kasian anak-anak peserta yang sudah mengantri lama untuk bisa ’ngoprek’ komputer.

Malam ini, aku terpaksa tidur agak larut untuk membuat modul untuk bahan ajar besok bersama si Cumi (panggilan seorang teman). Mudah-mudahan kegiatan belajar mengajar besok kelas tidak serusuh tadi.

14 Agustus 2009
21.15
Aku hampir tidak percaya kegiatan hari ini terlaksana. Dengan tubuh yang kurang fit, mempersiapkan sebuah talkshow interaktif anti penyalahgunaan alkohol dan narkoba bukanlah perkara mudah. Apalagi, persiapan talkshow ini tergolong ngebut; 1 minggu. Hari ini, taksiranku persiapan acara baru 80 %, belum optimal. Kemarin, pin dibuat mendadak di ’D Ink’ dan konsumsi pun baru dibeli pagi tadi.

Tujuan dilaksanakannya talkshow ini adalah memberikan pemahaman akan akibat penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja Mandalasari. Kejadian tidak menyenangkan dialami oleh ade Mus (nama seorang teman) ketika berkendara di jalanan Mandalasari. Ketika itu beberapa pemuda yang dipastikan sedang mabuk mencoba mengganggunya tanpa alasan yang jelas. Dari kejadian itu, kami berinisiatif untuk memberikan penyuluhan untuk mereduksi dampak negatif akibat alkohol dan narkoba.

Sedari awal talkshow, ketidaksiapan panitia sudah terlihat. Waktu pembukaan molor hingga 1 jam. Narasumber datang terlambat, peserta belum memenuhi target. Pembukaan baru dilaksanakan ketika waktu sudah menjelang ashar.

Di tengah-tengah acara, si Hendik (lagi-lagi) ditumbalkan sebagai narasumber dadakan karena 1 narasumber berhalangan hadir. Untung Hendik punya kemampuan akting yang lumayan sehingga peran pencandu narkoba bisa dilakoni dengan baik. heu.. Syalma dan Ilham juga sukses sebagai MC dan membuat talkshow ini berjalan dengan meriah hingga akhir.

Doorprice jam tangan yang telah disiapkan ternyata didapatkan oleh Bu RW (lupa RW berapa). Aku sempat terharu dengan pernyataannya yang akan terus memakai jam tangan itu supaya tetap ingat dengan para peserta KKN. 🙂

Meskipun dengan persiapan kurang optimal, ternyata talkshow ini bisa memberikan kesan mendalam di hati para peserta terutama para orang-tua. Mereka yang mempunyai anak yang bermasalah dengan alkohol dan narkoba sedikitnya telah mendapatkan cara yang lebih efektif menyikapi anak-anak mereka.

18 Agustus 2009
21.15

Keceriaan pagi tadi masih begitu terasa. Dengan bermodal spanduk beslogan ’Segalanya untuk Desaku, Mandalasari’, tank baja dan pesawat tempur mini, kami berjalan berarak-arakan dari Cilincing Bumi; dusun terujung di Desa Mandalasari menuju Lapangan Kecamatan Kadungora, Garut. Suara Buumm… buumm… menggelegar berkali lipat lebih ’edan’ dari suara petasan. Suara yang memekakkan telinga itu keluar dari selongsong-selongsong bambu yang diisi karbit, seringkali kami namakan ’lodom’. Anak-anak kecil kurang kerjaan memfungsikan lodom-lodom itu sehingga aku dan beberapa orang lainnya lari kocar-kacir keluar dari barisan.

Tidak hanya kami yang ikut dalam arak-arakan itu, ada juga murid SD, tim marcing band, peserta lomba gerak jalan, Pak Kades dan rengrengan, ibu-ibu PKK, bahkan ondel-ondel dan banci ’jadi-jadian’ pun turut serta.
Kurang lebih dua jam kami mengikuti arak-arakan. Kaki keram, banjir keringat dan sesak napas menjadi sahabat di siang tadi. Setibanya di lapang Kadungora, tank baja dan pesawat tempur mini yang kami buat sampai pagi berubah menjadi rongsokan sampah. Tapi tak apalah. Keceriaan yang kami rasa sudah cukup membayar kelelahan kami mempersiapkan pernak-pernik itu.

Di tengah-tengah prosesi upacara, sebagian dari kami mengendap-endap pulang. Yang tersisa mengikuti upacara hanyalah Pak Ketua kelompok dan Aji (nama seorang teman). Sialnya, kami terpaksa pulang naik angkot karena mobil hendik sudah dijejali masyarakat Mandalasari yang juga berniat pulang. :p

Jam sembilan malam, kami sambung keceriaan siang tadi dengan nonton bareng (Nobar). Beberapa film bertema kepahlawanan dan edukasi telah disiapkan. Namun acara nobar mendadak ’garing’ ketika film Laskar Pelangi diputar maka kami lekas menggantinya dengan film Setannya Ko Beneran?, penonton seperti kegirangan dan tidak beranjak dari tempat duduk hingga larut malam. Uhh.. Cuape dehh.. Ternyata di momen seperti ini kurang tepat untuk memutar film edukasi seperti Laskar Pelangi.

(Bersambung)
Oleh : Dessy Andriyani (Ilmu Pemerintahan’06)

Sejarah Pers Mahasiswa Indonesia

“There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth. (Mark Twain)”

Sebenarnya kalau kita resapi ungkapan Mark Twain diatas, tidaklah berlebihan adanya. Bahwa hanya ada dua hal yang bisa membuat terang bumi ini, yakni sinar matahari dilangit dan pers yang tumbuh berkembang di bumi ini. Pers sendiri memang tidak bisa dipisahkan kaitannya dengan macam ragam informasi yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani peradabannya. Mulai dari persoalan corak warna hidup sampai hal yang detail sekalipun tentang sebuah eksistensi kehidupan.

Dalam peradaban manusia, Pers sangat dikenal mempunyai fungsi yang essential. Mulai dari education function (fungsi pendidikan) , Information (sumber informasi), entertainment (hiburan) dan social control (fungsi kontrol sosial). Sehingga wajar kalau kita melihat pers menjadi suatu kebutuhan dan menyebabkan “momok” bagi negara yang menerapkan sistem outhoritarian. Pers menjadi kekuatan maha dahsyat yang dapat menggerakkan siapa saja untuk berbuat seperti yang kita kehendaki atau sekedar mempengaruhi/menciptakan public opinion (komunikasi massa). Dan, pers sendiri terlanjur menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Apalagi, dinegara under developed atau new born countries seperti layaknya Indonesia, negara yang nota bene masih muda, yang memerlukan banyak perbaikan sistem di semua lini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju suatu kesempurnaan tatanan hidup. Pers sangat dibutuhkan sekali peranannya dalam mengisi nuansa-nuansa yang tidak terjamah oleh “institusi” lainnya, baik yang bersifat informasi tempat sharing penemuan ide-ide cemerlang tentang sebuah kemapanan dari sebuah arti negara, atau berposisi sebagai kontrol sosial terhadap segala kebijakan yang diambil dan diterapkan oleh pemerintah.

Pers sendiripun sudah menjadi sebuah legenda sebagai sebuah sejarah yang kemudian melahirkan mitos, mulai dari para tokohnya dan peran serta aktivitasnya. Diakui atau pun tidak, kita pasti melihat ruang dan waktu, yang telah memberi tempat untuk berpikir dalam aktivitas kita sehari-hari.

PERS MAHASISWA

Sebelum kita melangkah terlalu jauh dalam bahasan-bahasan menarik tentang Pers secara luas, saya tertarik untuk mengambil inisiatif kata sepakat, mengerucutkan bahasan kita kali ini yaitu tentang Pers mahasiswa.

Kalau kita cerrmati, pers mahasiswa mengandung dua unsur kata yakni pers dan mahasiswa (lexical meaning). Pers berarti segala macam media komunikasi yang ada. Meliputi media Buku, majalah, koran, buletin, radio ataupun telivisi serta kantor berita. Dan, Pers itu sendiri identik dengan news (berita). Maka, tidak terlanjur salah apabila kita mengatakan bahwa NEWS berkaitan dengan North, East, West dan South, yang artinya suatu kabar atau berita dan informasi yang datangnya dari empat arah penjuru mata angin (berbagai tempat). Oleh karena itu, Pers/News harus mengandung suatu unsur publishita (tersebar luas dan terbuka), aktualita (hangat dan baru) dan periodesita (mengenal jenjang waktu contohnya : harian mingguan atau bulanan).

Mahasiswa sendiri mempunyai definisi bahwa kalangan muda yang berumur antara 19 – 28 tahun yang memang dalam usia itu manusia mengalami suatu peralihan dari remaja ke fase dewasa. Pada fase peralihan itu secara Psikologis Aristoteles mengatakan kaula muda mengalami suatu minat terhadap dirinya, minat terhadap sesuatu yang berbeda atas lingkungan dan realitas kesadaran akan dirinya. Disamping itu Mahasiswa adalah suatu kelompok elit marjinal dalam lingkungan suatu dilema. Seperti yang dikatakan oleh Frank. A . Pinner dalam salah satu ungkapannya yaitu “marginal elites, of which students are one species, are cought in a dilemma, between elitist and populist attitude. They are impelled to protect their distinctiveness and privilege while at the sime time documenting their concern for the common man and he community or policy as a whole their own position or the integrity of society appears to be threated” ).

Sosok Mahasiswa juga kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap keilmuannya yang dalam melihat sesuatu berdasarkan kenyataan obyektif, sistematis dan rasional. Disamping itu, Mahasiswa merupakan suatu kelompok masyarakat pemuda yang mengenyam pendidikan tinggi, tata nilai kepemudaan dan disiplin ilmu yang jelas sehingga hal ini menyebabkan keberanian dalam mereleksikan kenyataan hidup di masyarakat. Dan tata nilai itulah yang juga menyebabkan radikal, kritis, dan emosional dan secara perlahan menuju suatu peradaban/kultur baru yang signifikan dengan hal-hal yang bernuansa aktif, dinamis dan senang pada perubahan. sehingga dari dasar inilah, kawan-kawan bisa melihat ciri khas mahasiswa sebagai pengelola pers mahasiswa berbeda dengan pers umum.

PERS MAHASISWA DITINJAU DARI KAJIAN HISTORIS

Jika kita percaya terhadap ‘mahluk’ yang bernama sejarah, kemudiaan kita claim sebagai gerak dialektis antara kondisi subyektif pelaku dan kondisi obyektif dimana mereka berada, kawan-kawan akan melihat dinamika Gerakan Mahasiswa sepanjang waktu tidak lepas dari pengaruh para aktivis Pers mahasiswa. Karena kita percayai disini, Pers mahasiswa adalah suatu alat perjuangan bagi kaum aktivis gerakan mahasiswa, corong kekuatan dalam menyalurkan aspirasi kritis seorang tunas bangsa, dan kita akan melihat hubungan diantara keduannya sangat erat. Supaya lebih jelasnya saya akan mecoba menemani kawan-kawan untuk mencoba melihat sejarah Pers Mahasiswa yang berada “dibelakang” kita.

Pers Mahasiswa Indonesia Jaman Kemerdekaan Jaman Kolonial Belanda (1914-1941)

Pers mahasiswa lahir se-mainstream dengan munculnya gerakan kebangkitan Nasional yang di tulangpunggungi oleh pemuda, pelajar dan mahasiswa. Pers Mahasiswa waktu itu menjadi alat untuk menyebarkan ide-ide perubahan yang menitik beratkan pada kesadaran rakyat akan pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Dalam era ini bermunculan Hindia Putra (1908), Jong Java (1914), Oesaha pemoeda (1923) dan Soeara Indonesia Moeda (1938) yang secara gigih dan konsekuen atas keberpihakannya yang jelas pada perjuangan kemerdekaan.

Dalam era ini Nugroho NotoSusanto mengungkapkan bahwa Pers Mahasiswa Indonesia sesungguhnya mulai timbul dari zaman kolonial Belanda. Akan tetapi, Pers Mahasiswa dalam kurun waktu ini dipandang kurang terdapat suatu pergerakan Pers mahasiswa yang sedikit banyak profesional. Dan baru sesudah era kemerdekaan Pers Mahasiswa memulai kiprahnya ke arah profesional.

Jaman Pendudukan Jepang

Dalam era ini, tidak terlalu banyak tercatat kemajuan berarti karena masa ini para mahasiswa dan pemuda sibuk dalam perjuangan politik untuk kemerdekaan Indonesia.

Jaman Setelah Kemerdekaan

Pada jaman ini sedikit banyak Pers Mahasiswa mengalami suatu kemajuan artinya peluang untuk membentuk lermbaga-lembaga Pers Mahasiswa semakin terbuka lebar terutama buat para Mahasiswa dan Pemuda.

Jaman Demokrasi Liberal

Dari tahun 1945-1948, belum banyak Pers Mahasiswa yang lahir secara terbuka karena para Mahasiswa dan Pemuda terlibat secara fisik dalam usaha membangun bentuk Republik Indonesia. Penulis mencatat pada era Majalah IDEA yang diterbitkan oleh PMIB yang kemudian berganti PMB pada tahun 1948. Setelah Tahun 1950 barulah Pers Mahasiswa Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Kemudian komunitas Pers Mahasiswa Indonesia mengalami salah satu puncaknya di era ini.

Jumlah Pers Mahasiswa meningkat secara pesat diiringi dengana segala dinamika-dinamika yang ada. Kemudian muncul suatu hasrat dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi redaksional maupun sisi perusahaan. Dan, atas inisiatif Majalah Gama, diadakan konferensi I bagi Pers Mahasiwa Indonesia. Konferensi menghasilkan dua organisasi yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI yang ketuanya T Yacob) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI yang ketuanya adalah Nugroho Notosusanto).

Dalam era ini, opini Pers Mahasiswa dalam hal kematangannya tidak kalah dengan Pers Umum. Bahkan, era in dianggap keemasan Pers Mahasiswa Indonesia yang kemudian mengikuti Konperensi Pers Mahasiswa Asia yang diikuti oleh negara Australia, ceylon, Hongkong, India, Indonesia, Jepang, New zealand, pakistan dan Philipina. Kemudian Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia mengadakan kerjasama dengan Student Informatin of Japan dan college editors Guild of the Philipphines (perjanjian segi tiga).

Kemudian Tanggal 16-19 Juli 1958 dilaksanakan konperensi Pers Mahasiswa ke II yang menghasilkan peleburan IWMI dan SPMI menjadi IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) karena anggapan perbedaan antara kegiatan perusahaan pers mahasiswa dan dan kegiatan kewartawanan sulit dibedakan dan dipisahkan.

Jaman Demokrasi Terpimpin (1959-1966)

Dalam sistem politik terpimpin ini, pemerintah melakukan kontrol ketat terhadap kehidupan Pers. Bagi media Pers yang tidak mencantuman MANIPOL USDEK dalam AD/ART (anggaran dasar dan anggaran rumah tannga) nya akan mengalami pemberangusan. Artinya Pers kala itu harus jelas menyuarakan aspirasi partai politik tertentu.

Setelah pemberlakuan peraturan Presiden Soekarno tentang MANIPOL USDEK, IPMI sebagai lembaga yang Independen mengalami krisis eksistensi karena dalam tubuh IPMI sendiri terdapat kalangan yang menginginkan tetap independen, menyuarakan aspirasi rakyat dan ada yang mengarah ke pola partisan (memihak parpol/kelompok tertentu). Akhinya pada saat itu, banyak Lembaga Pers mahasiswa yang mengalami kemunduran dan kematian, akibat pukulan politik ekonomi ataupun dinamika kebangsaan yang berkembang saaat itu.

Jaman Orde Baru

Setelah peristiwa G.30.S/PKI IPMI sebagai Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia terlibat penuh dalam usaha pelenyapan Demokrasi Terpimpin dan akhirnya melahirkan Aliansi Segitiga (Aktivis Pers Mahasiswa, Militer dan Teknokrat) untuk menghancurkan kondisi yang membelenggu bangsa dalam Outhoritarian. Pada awal era ini, Pers Mahasiswa kembali ke lembaganya yakni IPMI. Lembaga Pers Mahasiswa se Indonesia ini beorientasi jelas memaparkan kejelekan Demokrasi Terpimpin melibatkan diri dalam kegiatan politik dengan menjadi Biro Penerangan dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Di era ini tebit harian KAMI yang terkemuka yaitu Mahasiswa Indonesia (Jabar), Mimbar Demokrasi (Bandung) dan keduanya adalah penebitan resmi IPMI.

Ternyata kehidupan Liberal yang dijanjikan oleh para “penguasa” sesudah era Demokrasi Terpimpin dirasakan ternyata hanya sementara saja. Dan format baru politik Indonesia di mulai dengan diadakan PEMILU, perlahan namun pasti Orde Baru beralih menjadi otoriter. Dengan dipengaruhi keputusan format baru perpolitikan Indonesia bahwa kegiatan politrik diatur oleh pemerintah dan ditambah kebijaksanaan bagi aktivitas dunia kemahasiswaan harus melakukan back to campus. Hal di atas itulah yang mermbuat IPMI mengalami krisis identitas. Hal ini terlihat ketika Harian KAMI, penerbitan IPMI yang ada di luar kampus terpaksa dilepas dan akhirnya menjadi Pers Umum. Hal ini dikarenakan oleh iklim perpolitikan yang dikembangkan saat itu dan ditopang oleh kebijakan pemerintah yang memaksa anggota IPMI adalah murni mahasiswa yang beraktifitas di dalam kampus. Kemudian adanya kebijaksanaan Pemerintah tentang penyerdehanaan partai Tahun 1975, dilanjutkan dengan disetujuinya keputusan pemerintah oleh sebagian anggota IPMI bahwa Pers Mahasiswa harus kembali ke kampus maka dalam Kongres III pada tahun akhirnya IPMI dipaksa untuk back to campus. Terpaksa kemunduran pun terjadi lagi dalam tubuh IPMI, perlahan-lahan Media-media pers mahasiswa yang ada di luar kampus banyak yang berguguran.

Sejalan dengan new format kondisi perpolitikan indonesia yang mengharuskan Semua Lembaga Pers Mahasiswa Indonesia harus back to campus dan kemudian direspon kembali oleh IPMI dengan mencoba berbenah diri, kemudian melakukan kongresnya yang ke IV pada bulan Maret 1976 di Medan. Dalam kongres itu, IPMI belum mampu keluar dari permasalahan hidup antara di luar atau di dalam kampus. Akhirnya, IPMI gagal dalam mencari Eksistensinya, tidak menghasilkan AD/ART baru ditambah IPMI banyak ditinggalkan oleh LPM anggota yang memang pada saat itu terlalu enjoy mengurusi urusan di dalam kampus masing-masing sehingga lupa kewajiban organisasi skala nasional yang dulu pernah dibentuk bersama..

Pada sekitar awal tahun 1978, Media Umum banyak yang di breidel sebagai cermin ketakutan penguasa waktu itu dengan institusi pers, sebagai contoh KOMPAS, SINAR HARAPAN, MERDEKA, INDONESIA TIMES dan masih banyak lagi yang lainnya. Akibatnya, “dunia” pers yang kosong diisi oleh Pers Mahasiswa Indonesia tentunya dengan pemberitaan khas sebagai cerminan Pers Mahasiswa yaitu kritis, berani dan keras. Era ini, oplah Surat Kabar Mahasiswa mencapai puncaknya. Namun, Pers Mahasiswa yang dikatakan oleh Daniel Dakidae sebagai cagar alam kebebasan pers akhirnya juga di breidel karena kekritisan dan keberanian menyuarakan kenyataan di masyatrakat. Dilanjutkan dengan kebijaksanaan NKK/BKK yang memaksa kekuatan Pers Mahasiswa untuk masuk dalam kampus, kemudian hampir semua media Pers Mahasiswa Indonesia di “matikan”. Inilah pertama kali dalam sejarah Pers Indonesia semua Pers mahasiswa Indonesia di breidel.

Selain membumihanguskan semua Lembaga pers Mahasiswa, pemerintah masih kurang terima karena masih ada IPMI yang masih bercokol dalam skala nasional. Untuk itu, pemerintah lebih mengoptimalisasi BKSPMI (Badan Kerjasama Pers Mahasiswa Indonesia) yang dibentuk 1969 sebagai tandingan IPMI. Ditambah lagi aksi penguasa yang menghabisi semua Gerakan Mahasiswa Anti Suharto yang nota bene sebagai “Underbow” IPMI Kemudian dilanjutkan peristiwa MALARI (Mala Petaka Limabelas Januari) yang sangat tragis pada tahun 1974 dan diberlakukannya NKK/BKK yang mengurung ruang gerak Aktivis Pers Mahasiswa dalam kampus pada Tahun 1978. Dengan kenyataan diatas Pers Mahasiswa (IPMI) menjadi tidak bebas merefleksikan secara tuntas kenyataan hidup dalam masyarakat kemudian menginjak padam pada menjelang pertengahan Tahun 1982.

Era 90-an

Menelusuri akar pertumbuhan dan perkembangan gerakan pers mahasiswa di Indonesia terutama kebangkitannya di era 90-an, telah banyak catatan-catatan penting yang ditinggalkan, yang selama ini perlu dikumpulkan kembali dari tempatnya yang “tersembunyi” dan barangkali belum pernah kita tengok kembali, yang memungkinkan dari catatan tersebut tersirat sebuah semangat tentang perjuangan meraih tujuan bersama, yang pernah didengungkan dalam masa-masa.

Kemunculan Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI) pada dekade 90-an ini di tahun 1992-1993 (1995 pada kongres II-nya, istilah penerbitan digantikan pers), mempunyai makna historis tersendiri dalam upaya pembentukan jaringan gerakan pers mahasiswa di Indonesia. Walau tak dapat dipungkiri, peran dan transformasi format gerakan pers mahasiswa selama berjalannya kinerja organisasi ini seringkali dirasakan menemui kendala dan tantangan yang tidak ringan untuk dihadapi. Selain persoalan secara geografis, dan persoalan dimensi politis berhadapan dengan penguasa (baik birokrasi kampus atau negara), Terlebih pula persoalan terputusnya transformasi visi dan misi PPMI dari generasi sebelumnya, juga secara de facto keberadaan PPMI masih sering dipertanyakan oleh beberapa lembaga Pers Mahasiswa di Indonesia. Dalam lembaran-lembaran catatan kali ini, penulis ingin mencoba menyajikan suatu kerangka awal dalam upaya merekontruksikan kembali keberadaan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia secara kronologis kelahiran dan pertumbuhannya dalam kontalasi gerakan pers mahasiswa di Indonesia.

Bukan Romantisme Belaka

Paska peristiwa MALARI (malapetaka lima belas januari 1974) bisa dikatakan pemerintah mulai melakukan pendekatn represif terhadap setiap aktivitas kritis kampus. Pada kelembagaan mahasiswa, melalui NKK-BKK terjadi strukturisasi. kondisi demikian menyulut aksi-aksi protes mahasiswa sepanjang tahun 1974 – 1978, yang diantaranya juga dilakukan oleh Dewan Mahasiswa. Melalui berbagai pamlet-pamlet, ataupun media mahasiswa yang diterbitkan oleh dema saat itu, kecaman-kecaman, kritik, kontrol terhadap setiap kebijakkan pembangunan di awal orde baru mulai dilancarkan. Namun lewat kebijakkan berikutnya, penguasa orde baru dengan aliansi militer dan sipilnya telah sedemikian rupa contohnya melalui surat yang diturunkan oleh Pangkopkamtib ketika itu (1978), Dema sebagai salah satu kekuatan lembaga mahasiswa saat itu kemudian dibubarkan, menyusul kemudian de-ormasisasi kelembagaan mahasiswa baik ditingkat intra kampus maupu ekstra kampus melalui KNPI-nya, maka praktis aktivitas mahasiswa dibugkam satu-persatu.

Dan di sisi lain pers mahasiswa yang telah lama juga menjadi salah satu alat perjuangan mahasiswa meneriakkan aspirasi dan memainkan peran kontrol sosialnya juga dibungkam. IPMI ( Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia, berdiri tahun 1955) yang menjadi satu-satunya wadah nasional pers mahasiswa Indonesia dan sempat menjadi salahsatu motor gerakan mahasiswa juga secara perlahan mulai dimatikan. Hingga eksistensi organisasi ini akhirnya mulai padam menjelang pertengahan tahun 1982. Praktis beberapa elemen kekuatan mahasiswa yang diantaranya termasuk pers mahasiswa mengalami kelesuan dan kemandegan.

Di awal era menjelang tahun 90-an, munculnya kelompok studi dan forum -forum diskusi mahasiswa ataupun lembaga swadaya kemasyarakatan (LSM) baik yang didirikan oleh para aktivis mahasiswa ataupun pemuda yang prihatin terhadap kondisi lingkungan, mulai menjamur di berbagai daerah – sebagai sebuah solusi terhadap kebekuan aktivitas kritis kampus ataupun aktivitas peduli lainya. Mahasiswa mulai mendefinsikan kembali peranannya untuk menghayati setiap persoalan-persoalan kemasyarakatan dan fenomena politik yang terus berkembang seiring dengan menguatnya konsolidasi orde baru.

Demikian pula yang terjadi dalam aktivitas pers mahasiswa. Aktivitas-aktivitas penerbitan dan beberapa forum pelatihan dan pendidikan jurnalistik di tahun 1986-1989 mulai marak diadakan oleh beberapa perguruan tinggi dalam rangka menghidupkan kembali dinamika intelektual kampus. Dari sekian forum-forum pelatihan jurnalistik mahasiswa tersebut, tersirat tentang sebuah keinginan akan sebuah wadah bagi tempat sharing (tukar-menukar pengalaman) para pegiat pers mahasiswa dalam rangka untuk meningkatan mutu penerbitan mahasiswa sendiri ataupun untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pers mahasiswa. Maka mulai tahun 1986, forum-forum pertemuan para pegiat/aktivis pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai marak terjadi. Tak pelak lagi gelombang aspirasi dan akumulasi persoalan yang digagas oleh para aktivis pers mahasiswa mulai muncul dan mewarnai berbaai forum pertemuan aktivis pers mahasiswa.

Namun ada beberapa hal yang terpenting dari berbagai forum pers mahasiswa tersebut, yang sekiranya dari penelusuran data-data di bawah ini dapat menjadi catatan sebagai sebuah refleksi dan pemahaman lebih lanjut. Tetapi hal ini bukan sekedar ” romantisme belaka” yang hendak kita capai dalam penelusuran sacara historis fase-fase perkembangannya. Peranan pers mahasiswa dalam kancah pembaharuan bidang politik tentunya mempunyai dimensi sosial tersendiri. Yang terkadang terlupakan dalam arah sejarah negeri ini. Guratan visi dan misinya yang mengandung penegasan sikap mahasiswa sebagai salah satu elemen masyarakat di negeri ini, yang secara sosial terdidik dalam lingkungan intelektual kampus, yang diharapkan mampu peka terhadap perkembangan sosial di tubuh masyarakat dan negara. Dan melalui pers mahasiswa, sebagai salah satu media perjuangan mahasiswa menyampaikan suara dan nuraninya, kepekaan sosial mampu ditumbuhkan dan simultan dengan fenomena yang terjadi di negeri ini.

Di awal bagian pengantar disebutkan bahwa mulai tahun 1980- 90an, aktivitas – aktivitas mahasiswa mulai marak dengann ditandai munculnya berbagai kelompok Studi, lembaga swadaya masyarakat ataupun aktivitas-aktivitas lainnya. Begitupun yang terjadi dalam perkembangan pers mahasiswa di tanah air. Maraknya penerbitan mahasiswa mulai muncul di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Semenjak kebekuan IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) di tahun 1982, praktis aktivitas penerbitan mahasiswa tidak banyak muncul. Namun kegiatan-kegiatn off print seperti halnya pelatihan dan pendidikan jurnalistik mahasiswa ataupun diskusi masih bisa dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi. Momentumnya adalah menjelang tahun 1986 aktivitas-aktivitas ini mulai marak dilakukan dengan skala yang lebih luas, mempertemukan pegiat-pegiat pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sebagai sebuah akumulasi persoalan-persoalan yang dibahas dan dipecahkan oleh para pegiat pers mahasiswa yang sering bertemu dalam forum-forum tersebut, tercetus keinginan untuk kembali mengkonsolidasikan potensi kekuatan pers mahasiswa di berbagai daerah dalam mendorong bangkitnya aktivitas pers mahasiswa, serta mendefinisikan dan mengaskn kembali peranan yang harus dipegang pers mahasiswa dalam menghayati persoalan-persoalan yang dihadapi kontekstual dengan fenomena sosial yang berkembang.

Dari berbagai sumber yang sempat dilansir dan disarikan dari beberapa media mahasiswa, tersirat keinginan dari sekian pegiat pers mahasiswa saat itu tentang terbentuknya sebuah wadah di tingkat nasional yang diharapkan dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi pers mahasiswa. Secara kronologis fase-fase konsolidasi pers mahasiswa Indonesia dalam rangka menggalang komitmen dan mendorong upaya jaringan komunikasi dann sosialisasi pers mahasiswa bisa dicermati dari tulisan di bawah ini :

Dari Pers Mahasiswa Menuju PPMI

Setelah “Vacum” akibat pembredelan sebagai buntut peristiwa Malari, 15 Januari 1974 dan strukturisasi kelembagaan mahasiswa di bergbagi perguruan tinggi melalui NKK/BKK. Pers mahasiswa (persma) pasca 1980-an kembali. Ditandai dengan terbitnya berbagai media mahasiswa misalnya, Balairung – UGM – 1985, Solidaritas Universitas Nasional Jakarta – 1986, Sketsa Universitas Jenderal Soedirman 1988, Pendapa Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa 1988, Akademika Universitas Udayana 1983- dan lain-lainya, usaha-usah unutk menata kembali jaringan komunikasi dann penggalangan komitmenn pers mahasiswa mulai dirintis.

Usaha-usaha itu meliputi :

Pendidikan Pers Mahasiswa Se Indonesia : tanggal 27 – 29 Agustus 1987 diselenggarakan oleh majalah Balairung, tercetus ide untuk kembali mewujudkan wadah pers mahasiswa. Juga terbentuk poros Yogya – Jakarta sebagai koordinator menuju kongres yang dimandatkan kepada Rizal Pahlevi Nasution (Universitas Moestopa) Abdulhamid Dipopramono (UGM)

Pertemuan dengan mantan aktivis IPMI/Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (Diantaranya Adi Sasono, Makmur Makka, Wikrama Abidin, Ina Mariani, Masmiar Mangiang, Razak Manan) tanggal 19-22 September 1987 di Jakarta. Hasil dari pertemuann ini dibentuk panitia ad-hoc konsolidasi pers mahasiswa yang terdiri dari : Rizal Pahlevi Nasution, Imran Zein Rollas, M.Imam Aziz, dan Abdulhamid Dipopramono. Disepakati untuk melakukan sosialisasi ide kelembagaan pers mahasiswa tingkat nasional.

Sarasehan Pengelola Pers Mahasiswa Indonesia di Kaliurang – Yogyakarta tanggal 11 – 13 Oktober 1987 oleh lembaga pers mahasiswa Universitas Nasional.

Pekan Orientasi Jurnalistik Mahasiswa Nasional II di Jakarta, tanggal 17 – 27 Oktober 1988 oleh lembaga pers mahasiswa Universitas Nasional

Sarasehan Pers Mahasiswa Nasional di Bandar Lampung tanggal 26 – 27 Maret 1987 diselenggarakan oleh SKM Teknokra Universitas Lampung.

Orientasi Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa di Jakarta tanggal 21 – 28 Mei 1988 oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Sarasehan Aktivis Pers Mahasiswa IAIN se-Indonesia di Yogyakarta tanggal 11 – 12 April 1988 oleh IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Puwokerto Informal Meeting di Purwokerto, tanggal 6 – 7 Agustus 1988 oleh SKM Sketsa Universitas Jenderal Soedirman.

Pertemuan dengan pimpinan IPMI pusat di Jakarta, 10 Agustus 1988 oleh tim kerja persiapan kongres.

Latihan Ketrampilan Pers Mahasiswa tingkat Pembina se-Indonesia di Yogyakarta, tanggal 28 Agustus – 1 September 1988.

Panel diskusi Sarasehan Pers Mahasiswa Indonesia di Purwokerto, 19 – 22 September 1988 di Universitas Jenderal Soedirman (disebut : Pra kongres IPMI VI). Hasil penting dari sarasehan ini berupa DEKLARASI BATU RADEN, yangdiantaranya ditandatangani oleh 18 wakil aktivis pers mahasiswa kota yang hadir. Deklarasi berbunyi :

” Sadar bahwa demokrasi, keadilan dan kebenaran yang hakiki merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang harus selalu diupayakan secara berkesinambungan oleh seluruh komponennya yang bertanggungjawab dan sebagai salah satu komponennya bertanggungjawab dan memperjuangkan cita-cita tersebut secara kritis, konstruktif dan independen. Dengan didorong semangat kebersamaan, dann disorong oleh keinginan luhur untuk melestarikan dan mengembangkan pers mahasiswa di Indonesia, maka seluruh aktivis pers mahasiswa menyatakan perlu dihidupkannya kembali wadah nasioal yang bernama Ikatan Pers Mahasiswa Idonesia (IPMI)”.

Juga disepakati untuk menyelenggarakan Kongres IPMI ke VI di Bandar Lampung tanggal 15 – 18 Februari 1989.

Kongres IPMI ke VI di Bandar Lampung, 15 – 18 Rebruari 1989. Kegiatan ini gagal karena:

Pertama, legalitas pelaksanaan Kongres tidak turun.

Kedua, kondisi daerah Bandar Lampung muncul peristiwa GPK Warsidi. Ketiga, terdapat perbedaan persepsi tentang persma di kalangan aktivis persm

Traianing Pers Mahasiswa se-Indonesia di Kaliuranng, 6 – 10 Januari 1990 oleh Majalah Himmah Universitas Islam Indonesia Yogykarta.

Balairung kembali mengadakan Pendidikan dan Latihan Jurnnalistik Tinngkat Lanjut di UGM, 24 – 29 September 1990.

Selama tahun 1990, juga dilaksanakan Temu Aktivis Persma di Pabelan – UMS dan Universitas Jember.

Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Pembina dan Temu Aktivis Penerbitan Mahasiswa,

tanggal 3 – 9 Februari 1991 oleh Balairung UGM. Kegiatan ini menghasilkann keputusan :

Menerima tanpa catatan semua hasil rumusan komisi I dan II Temu Aktivis Persma Se- Indonesia.

Pembentukan Panitia Ad Hoc yang bertugas mempersiapkan forum pertemuan berikutnya sebagai tindak lanjut butir I Panitia Ad Hoc secara otomatis menjadi Steering Comitee (SC).

Panitia Ad Hoc (SC) Pra-Kongres Terdiri atas : Koordinator: Tri Suparyanto, Pendapa – Tamansiswa Sarjanawiyata (Delegasi DIY) Wakil: Okky Satrio, Komentar – Univ. Mustopo (Delegasi DKI Jakarta) Anggota: Zainul Aryadi, Kreatif – IKIP Medan (Delegasi DI Aceh, Sumut, Riau, Sumbar), Ariansyah, Teknokra Univ. Lampung ( Delegasi Lampung, Jambi, Sumsel, dan Bengkulu), Tugas Supriyanto, Isola Pos IKIP Bandung (Delegasi Jawa Barat), Adi Nugroho, Manunggal Univ. Diponegoro (Delegasi Jawa Tengah), Heyder Affan Akkaf – Mimbar Univ. Brawijaya (Delegasi Jawa Timur), I Gusti Putu Artha, Akademika – Univ. Udayana Bali (Delegasi Bali, NTB, NTT, dan Timor-Timur), Mulawarman, Identitas – Univ. Hasanudin (Delegasi Sulsel, Sulteng, Sultra, Sulut) Alimun Hakim,Kinday – Univ. Lambung Mangkurat (Delegasi Kalteng, Kaltim), RH. Siahainena, Unpati Univ. Patimura (Delegasi Maluku dan Irian Jaya).

Hasil rapat terbatas SC/Panitia Ad Hoc menetapkan IKIP Bandung Penyelenggara Pra Kongres, dan sebagai alternatif kedua Universitas Udayanna – Denpasar Bali.

Rapat Konsolidasi terbatas Steering Comitee di IKIP Bandung tanggal 22 Maret 1991. Hasil, Pra Kongres Persma se Indonnesia diselenggarakan di IKIP Bandung

Sarasehan Penerbitan Mahasiswa Indonesia di IKIP Bandung, 8 – 10 Juli 1991, dibatalkan setelah peserta tibadi Bandung, pembatalan dilakukan oleh Dirjen Dikti. Tetapi pertemuan sempat berjalan dan menghasilkan beberapa keputusan yang sampai ditingkat komisi:

Komisi I : menghasilkan rancangan Anggaran Dasar dan Anggarann Rumah Tangga Perhimpunan Penerbit Pers mahasiswa Indonesia.

Komisi II : Membahas tentang Program Kerja.

Komisi III : Memutuskan tanggapan terhadap Surat Dirmawa nomor: 574/D5.5/U/1991.

Latihan Ketrampilan Penerbitan kampus Mahasiswa Tingkat Pembina Se- Indonesia tahun 1991 di Bandar Lampung, Univ. lampung, 19 – 23 November 1991. Hasil yang penting: Mendesak SC yang terbentuk di Wanagama untuk melaksanakan pertemuann bagi terbentuknya wadah penerbitann kampus mahasiswa sesegera mungkin. Jika tuntutan tidak dipenuhi maka, Pertama, SC harus mempertanggungjawabkan tugas yang telah dimandatkan kepada seluruh aktivis penerbitan kampus se- Indonesia. Kedua, SC harus menyerahkan mandat yang ada kepada aktivis penerbitan kampus se- Indonesia.

Sarasehan Penerbitan Mahasiswa Indonesia di Universitas Gajayana Malang tanggal 20 Desember 1991. Hasilnya di antaranya, rancangan program kerja PPMI. Selama 10 bulan SC terus mengadakan konsolidasi dan sosialisasi serta usaha-usaha pertemuan tingkat nasional. Muncul kemudian beberapa forum komunikasi, di antaranya PPMY (perhimpunan Penerbit Mahasiswa Yogyakarta), FKPMM (Forum Komunikasi Penerbit Mahasiswa Malang), dan Ujung Pandang juga terbentuk.

Setelah melewati proses panjang dan lewat negosiasi dann perjalanan keliling Jawa oleh pegiat persma Malang, akhirnya dapat diselenggarakan Lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se-Indonesia di Malang. Sehari sebelumnya, 14 Oktober 1992 diselenggarakan Pertemuan Steering Comitee di Malang. Hasilnya :

Menyepakati dan menyetujui dibentuk wadah tingkat nasional bernama PPMI.

Kongres I akan diselenggarakan di kota-kota dengan alternatif Palu, Semarang, Yogyakarta Mataram, Denpasar, Banjarmasin.

Hasil-hasil Lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se-Indonesia segera dilaporkan secepat mungkin untuk kelancaran Kongres.

Panitia Lokakarya, SC Nasional, dan Panitia Kongres segera mengadakan konsolidasi dan mengkoordinasi lembaga penerbitan mahasiswa serta pihak-pihak terkait untuk melaksanakan Kongres I.

Hasil-hasil Lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se-Indonesia:

1. Menyepakati terbentuknya wadah tingkat nasional yang bernama “Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia” yang disingkat PPMI tanggal 15 Oktber 1992 Pukul 16.29 WIB yang disahkan pada sidang pleno 17 Oktober 1992.

Menerima hasil rumusan Sidang Komisi I LPMI (Lokakarya Penerbit Mahasiswa Indonesia yang membahas AD/ART PPMI.

Menerima hasil rumusan Sidang Komisi II LPMI yang membahas Program Kerja PPMI.

Menerima hasil sidang komisi III yang membahas Kurikulum Pendidikan dan latihan (Diklat)Jurnalistik Mahasiswa.

Menerima hasil-hasil sidang komisi IV membahas tempat pertemuan lanjutan PPMI. Kota yang dijadikan tempat penyelenggaraan pertemuan dean berdasarkan prioritas adalah :

Denpasar – Bali

Semarang – Jawa Tengah

Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Yogyakarta – DIY

Palu – Sulawesi Tengah

Jakarta DKI Jakarta

Dili – Tomor-Timur

Kongres I yang sekiranya akan diselenggarakan pada bulan April – Mei 1993, maka untuk mempersiapkan Kongres tersebut dibentuk Panitia Ad Hoc yang bertindak sebagai SC Kongres I, yakni:

Koordinator : Tri Suparyanto/Pendapa – Univ. Sarjanawiyata Tamanansiswa

(Delegasi Daerah Istimewa Yogyakarta),

Anggota :

Tugas Suparyanto/Isola Pos – IKIP Bandung (Delegasi Jabar)

Arief Adi Kuswardono/Manunggal – Undip (Delegasi Jateng) —- TEMPO

Wignyo Adiyoso/Ketawang Gede – UNIBRAW (Delegasi Jatim) —- BAPPENAS

Okky satrio/Komentas – Univ. Mustopo (Delegasi Jakarta),

Aldrin Jaya Hirpathano/Teknokra -UNILA (Delegasi Sumbagsel),

I Wayan Ananta Widjaya/Akademika – UNUD (Delegasi Bali, NTT,NTB, TIMTIM), BALI POST

M. Ridha Saleh/Format – Univ. Tadulako (Delegasi Sulawesi),

Alimun Hakim/Kinday – Univ. Lambung Mangkurat (delegasi kalimantan),

Yon Soukotta/Unpati Univ. Patimuraa (Delegasi Maluku dan Irian Jaya).

Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan Kongres I untuk menentukan derap langkah Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia.

II. Menuju Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia

Lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se- Indonesia di Malang telah menorehkan pena emas bagi perjalanan ke depan aktivitas pers mahasiswa di Indonesia. Terutama telah disepakatinya sebuah organ baru – wadah pers mahasiswa Indonesia yaitu Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI). Sebuah wadah alternatif dan bukan satu-satunya wadah pers mahasiswa di Indonesia, diharapkan mampu mengakomodir dan menyikapi setiap persoalan dan perkembangan yang menyangkut kehidupan pers mahasiswa dann masyarakat pada umumnya. Sebuah sandaran bagi pemupukan arah gerakan pers mahasiswa yang juga diharapkan mampu merespon fenomena sosial politik yang berkembang serta menegaskan sikap sebagai bagian dari elemen gerakan mahasiswa pada umumnya. Beberapa pandangan dan harapan ditumpukan pada organisasi ini untuk memperteguh visi dan misi gerakan pers mahasiswa di Indonesia.

Perkembangan yang terjadi di era 80-an hingga 90-an, ditandai dengan maraknya kemunculan penerbitan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Hal ini seiring dengan laju perkembangan sosial kontemporer pada dimensi masyarakat di Indonesia. Namun di antara kemajuan tersebut ternyata di sisi-sisi lain nampak terdapat kehidupan yang memprihatinkan. Banyak kesenjangan yang terjadi di tubuh masyarakat. Pengaruh strukturalisasi yang represif orde baru dengan ideologi pembangunannya diberbagai bidang telah menciptakan sebagian besar masyarakat yang tidak perduli terhadap perkembangan sosialnya. Sementara itu penguasa orde baru dengan kekuatan militeristiknya semakin kokoh melakukan konsolidasi kekuasaanya. Mahasiswa sebagai salah satu tumpuan harapan bangsa yang terdidik dalam nuansa inteletual kampus dan mempunyai potensi kritis dan diharapkan mampu berpikir obyektif intelektual hendaklah peka dalam merespon segala ketimpangan-ketimpangan yang terjadi pada masyarakat, serta menyikapi berbagai kebijakkan negara yang telah membuat berbagai kesenjangann yang terjadi. Tatanan demokratis harus ditegakkan dan diupayakan melalui transformasi sosial yang sinergis dengan wacana demokratisasi berkehidupan.

Dalam tujuan pendirian PPMI, dua tekanan yang hendak dicapai adalah :

Pertama, Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945.

Kedua, Membina daya upaya perhimpunan untuk turut mengarahkan pandangan umum di kalangan mahasiswa dengan berorientasi kemasyarakatan, dan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pers Mahasiswa bukanlah sama dengan pers umum yang mencover berita-berita yang bersifat informatif saja, namun pers mahasiswa diharapkan mampu mengkaji permasalahan sosial yang diberitakan dengan analisis keilmuan dan kemasyarakatan secara kritis akademis serta obyektif. Pers Mahasiswa harus berani memberitakan fakta yang benar dan jujur kepada masyarakat dengan tidak meninggalkan kandungan nilai-nilai humanitas yang harus tetap dipegangnya. Beberapa pandangan dari para perintis PPMI menginginkan bahwa PPMI diharapkan mampu mendorong tercapainya pers mahasiswa yang simultan dengann fungsi mahasiswa (sebagai intelektual yang kritis, obyektif, terbuka dan etis. Kemudian untuk mensosialisasikan format gerakan dalam perhimpunan ini, PPMI dalam kinerjanya hendaknya terus menerus melakukan konsolidasi ke tiap-tiap penerbitan pers mahasiswa diberbagai daerah. Hal ini tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang panjang dan merupakan tantangan yang tidak ringan untuk diselesaikan PPMI dalam waktu singkat dan membutuhkan partisipasi dari pegiat PPMI dalam mengupayakannya.

KONGRES PERHIMPUNAN PENERBIT MAHASISWA INDONESIA (PPMI) I

Tak pelak sudah, fase-fase yang berliku telah dilalui, konsolidasi, sosialisasi, perdebatan dan perumusan berbagai format kelembagaan pers mahasiswa akhirnya telah sampai pada titik kulminasi – pertemuan aktisvis pers mahasiswa pers mahasiswa akhirnya telah berhasil membuahkan suatu tekat untuk berjuang bersama dalam satu integralitas gerakan yang membuahkan deklarasi Kaliurang dan terbentuknya kepengurusan Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia pada kongres I PPMI – September 1993. Rommy Fibri dari Universitas Gajah Mada akhirnya terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PPMII (yang pertama) untuk mengemban amanat sosialisasi organisasi lebih lanjut. Sebuah perjalanan ke depan yang tentunya akan menghadapi sekian persoalan yang tidak ringan untuk diselesaikan. Fenomena politik yang tidak menentu, banyaknya pembrdelan terhadap pers Indonesia, tak terkecuali pers mahasiswa, menjadi agenda yang senantiasa harus direspon PPMI untuk melakukan advokasinya. Selain itu PPMI sebagai wadah alternatif pers mahasiswa diharapkan mampu memberikan dorongan terhadap pertumbuhan beberapa pers kampus mahasiswa di berbagai wilayah yang belum tersentuh sosialisasi PPMI.

Tercatat beberapa nama presidium/ Mediator PPMI yang diberikan amanah untuk mengemban tugas menorehkan sejarah dan melakukan sosialisasi PPMi ke berbagai wilayah di antaranya :

Presidium / Mediator Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI)

Periode I 1993 – 1995

Sekretaris Jenderal : Romy Fibri ( Dentisia – FKG UGM)

Mediator DKI Jakarta : E.S – Tyas A.Zain

Mediator Jawa Barat : Andreas ” Item ” Ambar

Presidium Jawa Tengah : Hasan Aoni Aziz (SKM Amanat IAIN Wali Songo Semarang)

Mediator Kalimantan Barat : Nur Iskandar (Mimbar Untan – Universitas Tanjung Pura)

Presidium Jawa Timur : Asep Wahyu SP (UAPKM – MM. Ketawang Gede – UAPKM UNIBRAW Malang)

Presidium Wilayah Bali : I Gede Budana (PKM AKADEMIKA UNUD Bali)

Mediator Sulawesi, Maluku

dan Indonesia Timur : M. Hasyim

Presidium Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI)

Periode II 1995 – 1997

Sekretaris Jenderal : Dwidjo Utomo Maksum (UKPKM-Tegalboto Universitas Jember)

Presidium Lampung : Mohammad Ridwan

Presidium Jawa Timur : Ahmad Amrullah (LPM – Ecpose FE -UNEJ)

Presidium Bali : I Made Sarjana (PKM Akademika UNUD)

Presidium Sulawesi Selatan : Arqam Azikin – Universitas Hassanudin

Presidium Sulawesi Tengah : Mohammad Iqbal (Universitas Tadulako)

Presid. Sulawesi Tenggara : Muhrim Bay

Presidium Yogyakarta : Anton Yuliandri ( Himmah UII) —–

Mediator Jawa Tengah :Nana Rukmana (UniversitasJenderal Soedirman – Purwokerto)

Mediator Jawa Barat : Dewan Kota Bandung

Mediator Kalimantan Barat : Syafarudin Usman

Presidium / Mediator Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI)

Periode III 1997 – 1998

Sekretaris Jenderal : Eka SatiaLaksmana (Tabloid Jumpa – UPM Universitas Pasundan- Bandung)

Mediator Jawa Timur : Dwi Muntaha (UKMP – Civitas UNMER – Malang)

Mediator Yogyakarta : Ade (GEMA Intan )

Presidium Sumatra Selatan : Komariah (IAIN Raden Patah – Palembang)

Presidium Sulawesi Selatan : Suparno (Catatan Kaki – Univ. Hasanuddin Ujungpandang)

Presidium / Mediator Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI)

Periode IV 1998 – 2000

Sekretaris Jenderal : Edie Soetopo ( Ekspresi – BPKM IKIP Yogyakarta)

Presidium Jawa Timur : M. Abdul Kholik (Arrisalah – IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Presidium Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia(PPMI)

Periode V

Koordinator : Saiful Muslim ( KKM Media Universitas Mataram)

PresiNas Jatim : Agus Susantoro (UKPKM – Tegalboto Universitas Jember)

PresNas JaTeng + DIY : Noer Mustari (Pabelan Pos – Univ. Muhammadiyah Solo)

PresNas Jawa Barat + DKI : Agutine Melanie ( UPM Isola Pos – UPI Bandung)

PresNas Palembang +sekitarnya : Adi Helmy Nando

PresNas Aceh : Darmadi ( IAIN Araniri Aceh )

Presnas Mataran +Bali : Saiful Muslim (KKMmedia Universitas Mataram)

Staff Nasional PPMI : Iwan Kurniawan ( LPM Wahana Care taker PPMY), Indra Ramos (LPM HIMMAH,Supatno (Pabelan Pos), M.Jaelani (LPM HIMMAH UII).

Belajar dari sejarah, belajar dari masa lalu merupakan suatu hal yang sangat bermanfaat untuk merumuskan sesuatu yang baru. Tiap jaman mempunyai realitas yang berbeda. Untuk itu, kita harus selalu mencoba untuk melakukan evaluasi dari segala sesuatu yang pernah terjadi buat pers Mahasiswa masa lalu dan mencoba melontarkan beberapa gagasan sehingga akhirnya pers mahasiswa Indonesia kini dan akan datang dapat merumuskan sesuatu yang baru berdasarkan realitas yang bekembang dan hidup dengan maksud menatap suatu masa depan.

Harapan terhadap PPMI yakni Pers Mahasiswa kini harus hidup di dunia BERPIKIR kita sebagai aktivis pers mahasiswa indonesia sesuai dsengan potensi intelektual masing-masing. Dunia berpikir dan dunia intelektual bukanlah bentuk menara gading, asalkan selalu kondusif dengan situasi masyarakat dan setia pada penderitaan rakyat, negara dan semesta manusia. Semoga Kita tidak bosan untuk selalu mencoba mengasah PPMI dengan pemikiran melalui pendekatan-pendekatan kritis dan futuristik. Dan bila kita memiliki ilmu dan teknologi, maka kitalah yang memiliki masa.

Dan, senantiasa Pers mahasiswa mampu memfungsikan secara arif konsepsi “Critism of what exist” yang memang terlanjur akrab dalam lingkungan intelektual kita. Semoga Pers Mahasiswa indonesia menjadi wahana polaritas, dimana kesatuan ataupun keanekaragaman dianggap sebagai kutub-kutub dari esensi yang sama, yang harus ada secara bersama.

VIVA PERS MAHASISWA ………

“Pecahan jambangan dan cinta yang menyatukan keping-kepingnya adalah lebih kuat dari cinta yang menerima begitu saja keadaanya. Ketika benda itu masih merupakan keseluruhan perekat yang menyatakan keping-keping itu adalah segel dari bentuk aslinya”.

(Derek Walcott penerima nobel kesusastraan 1993)

Presidium Nasional PPMI periode 2000-2001 dari wilayah Jawa Timur / Oleh : Agus Gussan Susantoro

Pendidikan Bermutu di tengah Pentas Budaya Instan

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone. Bagi cewek-cewek yang ingin rambut panjang tidak perlu harus menunggu sampai berbulan-bulan. Cukup tunggu ½ jam saja dengan teknik hair extension, rambut bisa panjang sesuai keinginan.

Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet. Maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam, serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses. Alias malas. Yang penting cepat !. Bermutu atau tidak, itu urusan nanti. Berorientasi hanya pada hasil. Proses tidak penting. Parahnya, “virus” itu sudah menyebar ke berbagai aspek kehidupan. Ingin sukses dengan cara instan. Jadilah, banyak orang korupsi, punya gelar palsu, beli skripsi, ijazah aspal, asal lulus, cepat kaya lewat penggandaan uang dan lain sebagainya. Kalau memang berat, membosankan dan ketinggalan zaman mengapa kita harus bermutu? Kalau ada cara cepat yang memberi hasil, mengapa tidak dicoba?. Lebih lanjut, sekarang ini sudah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. Orang makin individualis dan cenderung melecehkan hak orang lain. Untuk mengejar kesuksesannya, orang tak ragu-ragu mengorbankan orang lain.

 

Pendidikan Cenderung Dibisniskan.

Munculnya berbagai cara yang mengarah pada pelanggaran etika akademik yang dilakukan perguruan tinggi kita untuk memenangkan persaingan, menunjukkan bahwa pendidikan kini cenderung dipakai sebagai ajang bisnis. Pola promosi yang memberikan kemudahan dan iming-iming hadiah merupakan suatu gambaran bahwa perguruan tinggi tersebut tidak ada inovasi dalam hal kualitas pendidikan. Kecenderungan tersebut akan menghancurkan dunia pendidikan, karena akhirnya masyarakat bukan kuliah untuk meningkatkan kualitas diri, melainkan hanya mengejar gelar untuk prestise. Kondisi pendidikan tinggi saat ini cukup memprihatinkan. Ada PTS yang mengabaikan proses pendidikan. Bahkan ada PTS yang hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal Ini yang membuat persaingan menjadi semakin tidak sehat. Produk lulusan perguruan tinggi yang proses pendidikannya asal-asalan dan bahkan akal-akalan, juga cenderung menghalalkan segala cara untuk merekrut calon mahasiswa sebanyak-banyaknya, dengan promosi yang terkadang menjebak dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan. Apakah ini gambaran pendidikan berkualitas ?. Bahkan ada beberapa PTS di Jakarta yang memainkan range nilai untuk meluluskan mahasiswanya, karena mereka takut, ketika selesai ujian akhir (UTS/UAS) banyak mahasiswanya yang tidak lulus alias IP/IPK nasakom. Sehingga mereka lulus dengan angka pas-pasan yang sebenarnya mahasiswa tersebut tidak lulus. Dalam hal ini semua pihak harus melakukan introspeksi untuk bisa memberi pelayanan pendidikan yang berkualitas. Kopertis, harus bersikap tegas menindak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang melanggar dan mensosialisasikan aturan yang tak boleh dilanggar oleh PTS. Pengelola perguruan tinggi juga harus menghentikan semua langkah yang melanggar aturan. Kunci pengawasan itu ada secara bertahap di tangan Ketua Program Studi, Direktur, Dekan, Rektor dan Ketua Yayasan.

 

Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi.

Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama “gencarnya” dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ? Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.

Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai “paling dicari” oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang “paling menentukan” diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan. Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan. Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.

Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja “mengabaikan” bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, “Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus.” Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.

Oleh : Tata Sutabri S.Kom, MMDeputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA, Pemerhati Dunia Pendidikan TI, Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969, e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id .

Merencanakan Pemotretan

BAGI media, seorang jurnalisfoto merupakan mata bagi pembacanya. Apa yang dilihat dan direkamnya mewakili peristiwa menarik yang diliputnya hari itu. Kewajiban jurnalisfoto di lapangan adalah merekam peristiwa yang terjadi. Dengan begitu, fungsi mata bagi pembacanya telah ia jalankan.

Fungsi foto dalam dunia jurnalistik kian melebar. Foto tak lagi sebagai penghias halaman atau pengganjal halaman kosong di suratkabar. Foto yang telah dimuat kerap dijadikan bukti adanya peristiwa dan dijadikan landasan hukum untuk sebuah keputusan. Sebagai ilustrasi contoh, foto di Pikiran Rakyat telah dua kali dijadikan bukti bagi PSSI untuk menjatuhkan sanksi saat terjadi keributan antar penonton dan pemain. Penonton yang meluber hingga ke belakang gawang menjadikan dan fotonya dimuat di Pikiran Rakyat menjadikan tim Persib kena sanksi main diluar kandang.

Foto merupakan penyajian realita dari sebuah peristiwa karena bisa menimbulkan efek jangka panjang. Seperti foto yang diambil dua fotografer anti perang Eddie Adams yang memotret orang ditembak di kepala di Saigon atau Nick Ut yang merekam gadis cilik yang berlari telanjang akibat bom napalm di Vietnam, juga berperan mempercepat berhentinya perang. Reaksi dari masyarakat terhadap foto yang menampilkan tawanan Irak yang disiksa tentara AS dan Inggris (yang katanya memiliki standar ketentaraan tertinggi di dunia) tahun lalu, merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah foto yang baik mampu menimbulkan empati.

Untuk membuat sebuah foto yang mampu menggugah, saat pemotretan pun tidak sekedar merekam atau melaporkan peristiwa yang terjadi. Foto yang dijepret haruslah bisa mewakili peristiwa yang diliputnya. Sesuai dengan definisi foto jurnalistik yang dikemukakan Wilson Hick, “foto jurnalistik adalah gambar dan kata”, maka foto yang ditampilkan haruslah menarik dari sisi gambar dan lengkap dari sisi berita (5W+1H).

Namun unsur 5W+1H ini tidak selalu terdapat dalam foto (gambar), dan kekurangan ini dijelaskan dalam caption foto (kata). Hal yang biasanya tidak terdapat dalam gambar diantaranya nama orang, lokasi, penyebab dan waktu peristiwa tersebut berlangsung. Karenanya, foto yang tidak disertai caption biasanya menjadi foto yang tidak menarik. Dan penggabungan gambar serta kata inilah seperti yang dimaksud Hick disebut sebagai foto jurnalistik

Saat merekam sebuah peristiwa, seorang fotojurnalis membutuhkan persiapan. Motto orang Skotlandia “be prepared” sangat cocok untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak jam terbang (pengalaman) ini. Memotret sama halnya membaca peristiwa, jadi sebuah kejadian nggak hanya kita ikutin apa adanya. Membuat sebuah foto juga memerlukan perencanaan agar semua peristiwa yang akan kita dokumentasikan selain lebih fokus juga menghemat tenaga dan memori. Baiknya kita ingat pula bahwa jurnalisfoto bukanlah seksi dokumentasi yang menjepret segala hal. Apa yang dibidik dan direkam merupakan sesuatu yang paling menarik untuk dilihat pembacanya.

Untuk membuat foto yang menarik ini, seorang fotografer LIFE Rentmesster memberikan nasehat “buatlah foto yang lain dari pada yang lain”. Karena orang akan tertarik bila ia merasa mendapatkan sesuatu dari apa yang dilihatnya. Namun meskipun pada dasarnya foto yang menarik mudah untuk diingat, bila foto tidak mempunyai kepentingan bagi sang pembaca maka foto tersebut tidak menarik lagi. Karena foto yang menarik bagi seseorang belum tentu menarik bagi orang lain tergantung dari latar belakang pembacanya.

Foto kecelakaan berdarah-darah, gambar orang mati di kamar jenazah, mungkin menjadi foto yang sangat menarik bagi sebagian suratkabar namun akan menjadi sangat tidak menarik bagi suratkabar yang lain (contohnya Pikiran Rakyat). Karena kengerian yang ditimbulkan foto bukan menimbulkan empati tapi membuat pembaca kita mual. Coba bayangkan saat hendak sarapan dengan menu yang enak sambil membaca suratkabar pas yang dilihatnya orang mati dalam kondisi mengenaskan. Bukannya akan dilihat, tentu suratkabar kita masuk kolong meja dengan cepat dan komunikasi yang kita sampaikan tidak akan sampai.

Untuk merencanakan peliputan atau bagaimana jalannya sebuah foto bisa sampai ke meja redaksi, biasanya kita membagi berdasarkan klasifikasi tertentu. Seperti jika berdasarkan isi berita, kita membaginya lewat dua kategori hardnews dan softnews. Hardnews merupakan peristiwa yang tidak kita duga dan kita rencanakan serta bisa terjadi kapan saja seperti kecelakaan, kebakaran, (kebanyakan musibah). Sedangkan softnews merupakan berita yang bukan hardnews atau berita yang peliputanya bisa kita rencanakan sebelumnya. Contohnya berita yang akan kita peroleh berdasarkan undangan dari lembaga humas pemerintahan atau dengan melihat kalender hari besar nasional/internasional.

Sedangkan jika berdasarkan sumber berita, bisa kita bagi dalam dua sumber. Pertama dari wartawan sendiri (wartawan foto, wartawan, dan pusdok) dan kedua dari sumber luar (humas perusahaan/pemerintahan/kepolisian/ peadam kebakaran, pembaca, stringer, internet, dan tentunya kantor berita –Antara, AP, AFP, Reuters). Karena itu kartu nama dan hp saat ini menjadi modal dalam berburu foto. Hubungan antara jurnalisfoto dengan lingkungannya haruslah terbina dengan baik agar setiap peristiwa yang terjadi bisa dengan cepat diketahuinya langsung dari sumber peristiwa.

Untuk kondisi sekarang, maraknya kamera digital (seperti yang terdapat dalam handphone) membuat sebuah media kian mudah dalam mendapatkan foto. Beberapa peristiwa yang biasanya tidak didapatkan jurnalisfoto kerap bisa didapatkan dari warga biasa yang hadir saat peristiwa terjadi. Rekaman peristiwa tsunami Aceh yang diambil seorang video amatir hingga kini menjadi salah satu bukti dahsyatnya peristiwa tersebut. Contoh lainnya, seusai peristiwa ancaman bom di Bandung Electronic Mall (BEC), redaksi menerima banyak sekali foto peristiwa tersebut yang diambil pengunjung. Untuk masa mendatang barangkali tugas fotojurnalis bisa diperingan dengan para fotografer amatir ini.

Adapun langkah-langkah perencanaan dalam pemotretan antara lain;

  • Mempersiapkan alat yang akan digunakan dan sesuaikan dengan kebutuhan. Biasanya perlengkapan standar berupa satu bodi kamera SLR dengan dua atau tiga jenis lensa (sesuai kebutuhan), dan sebuah flash/blitz. ID card, buku catatan, bolpoin, raincoat/payung/topi,  peta, air minum, scraft, senter mini, air minum botol, tetes mata ringan, serta obat-obatan kecil lainnya. Untuk pemotretan khusus/tertentu, persiapkan tangga kecil, tempat duduk kecil, tripod/monopod, juga tele converter.
  • Untuk pengguna kamera DSLR, persiapkan memory card yang cukup dan membawa batere cadangan. Kalau perlu charger batere kamera digendong sekalian.
  • Bila memiliki kamera saku, bawa sekalian untuk berjaga-jaga bila kamera kebanggaan kita mendadak ngadat. Atau kalau mau motret yang bakal mengundang banyak pemotret lainnya dan kita perkirakan bakal berdesakan memotretnya (rebutan), maka jangan lupa bawa tangga kecil atau persiapkan kursi pinjaman di lapangan.
  • Sesuaikan kostum kita dengan peristiwa yang akan dihadiri. Banyak peristiwa yang nggak perlu dan tak jadi diliput hanya gara-gara urusan pakaian. Pakai jeans, nggak pake sepatu resmi, lupa ID Card, kerap menjadi masalah lapangan. Liputan kenegaraan contohnya. Jenis liputan ini pun ada yang resmi dan tak resmi meski pejabat yang hadir sama. Bila nggak suka pakaian jas yang panas (kayak penganten), amannya sih kita berbatik ria saja.
  • Kenali wilayah, menjadi bagian yang penting untuk mempermudah pelaksanaan tugas. Kita pun musti tahu kapan jalanan macet dan jalan alternatif saat macet (kalau perlu naik ojeg). Saat tugas luarkota, kita pun musti survei lokasi dan tempat kita akan mengirim foto. Apakah bisa mengirim langsung dari lapangan (press room), hotel, atau musti nebeng warnet. Pastikan mereka bisa melayani kita saat dibutuhkan.
  • Melihat schedule acara ke protokoler akan peristiwa yang akan berlangsung sebaiknya dilakukan. Biasanya untuk acara dokumentasi kantoran sang pejabat dari atas ke bawah juga merupakan prioritas obyek yang musti diambil. Dari jadwal tersebut kita buat skala prioritas yang musti diambil sekalian foto-foto pejabat/tamu yang harus tampil dalam rekaman dokumentasi kita. Kita musti tahu pula kapan klimaks dari peristiwa yang akan kita ambil serta untuk memudahkan pembuatan prioritas pula.
  • Untuk momen tertentu, saat pengambilan gambar akan menentukan dramatisasi obyek gambar. Seperti Gedung Sate Bandung akan terlihat lebih megah bila dipotret sore menjelang malam hari (pk.18.00-18.30 WIB) saat langit agak biru dan cahaya lampu mulai menerangi  sekeliling atap dan bangunan. Bandingkan bila memotret siang hari dengan pedagang bersliweran yang terkesan kumuh. Tinggal penyampaian pesan itu obyek mau terkesan bagaimana, bisa dengan memanfaatkan waktu pemotretan (time of day). Atau misalkan motret agar langit biru (tanpa filter) bisa dilakukan bila memotret searah jatuhnya bayangan sebelum pk.09.00 atau setelah pk. 15.00 WIB. Kesan warna keemasan bisa didapat pada pemotretan sore hari, biasanya warna obyek lebih menguning tanpa bantuan filter.

Lalu, bagaimana persiapan bagi seorang petugas kehumasan atau dokumentasi untuk mendokumentasikan acara-acara yang sudah terjadwalkan? Persiapannya kurang lebih hampir sama dengan yang dipaparkan di atas meski beberapa poin bisa dihilangkan.

Namun poin tambahannya, seorang fotografer acara-acara humas harus lebih percaya diri. Jika sudah memegang kamera, atasan kita sudah tidak berpangkat lagi jadi kita nggak perlu risih atau kagok bila maju untuk mengambil gambar. Biasanya perasaan risi timbul dan membuat fotografer kurang pede, padahal momen sudah tidak bisa kita ulang lagi.

Selain harus mampu mendokumentasikan sebuah acara seorang petugas kehumasan pun harus mampu me-“manage” jurnalisfoto yang hadir agar jalannya acara tidak terganggu dengan lalu lalangnya para jurnalisfoto ini. Salah satu diantaranya adalah dengan memberikan ruang foto yang layak bagi jurnalisfoto agar mereka mendapatkan sudut pengambilan yang jelas dan menarik. Sehingga gambar yang terekam bisa tampak indah dipandang.

Seperti penempatan bunga, air minum, atau mike di podium yang kerap mengganggu gambar. Sehingga mulut pejabat yang berbicara kerap terhalang mike dan menjadi pemandangan yang tidak enak untuk dilihat. Atau saat acara serahterima, pandangan pemotret seringkali terhalang petugas sehingga gambar yang dihasilkan kurang maksimal. Untuk hal ini, kerjasama dengan bagian protokoler menjadi bagian yang penting.

Tugas terakhir seorang fotografer kehumasan bagi keperluan publikasi adalah menyampaikan foto kepada media yang tidak hadir dalam acara tersebut. Kalau perlu selain mencatat nama dan alamat kantor, catat pula alamat e-mailnya sehingga pengiriman foto bisa lebih cepat dan efisien.  Kerjasama yang terjalin antara media dan lembaga kehumasan bisa saling membantu dimana media mendapatkan gambar yang bagus dan enak dilihat sedangkan bagian kehumasan pun mendapat kepuasan setelah acara yang diselenggarakan terpublikasikan dengan menarik.*

Oleh : Dudi Sugandi, Redaktur Foto Pikiran Rakyat, sarjana jurnalistik lulusan jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Menjadi kontributor kantor berita Reuters, AP, AFP, dan EPA. Menjuarai berbagai lomba foto tingkal lokal, nasional, dan asia tenggara, saat ini menjadi juri berbagai lomba foto nasional dan memberikan pelatihan fotografi. Website : dedisugandi.multiply.com