PENYAKIT HATI PENGKEBIRI MIMPI

Hepatitis. Apa yang ada di benak Anda ketika mendapati hasil tes laboratorium menuliskan bahwa Anda positif terjangkit penyakit tersebut? Apakah Anda akan bersikap layaknya Anda di hari – hari sebelumnya? Ataukah Anda akan banyak mengurung diri dan mengutuk diri Anda sendiri?

Ada indikasi kuat bahwasanya Anda akan lebih condong berada pada posisi yang tidak sewajarnya; pendiam, pesimis, cemas, ragu – ragu, malas, takut, krisis percaya diri, dsb. Pada intinya, hepatitis telah merenggut anda dari diri anda sendiri. Dunia serasa sudah tak berpihak lagi pada Anda. Tiada harapan maupun impian lebih selain menunggu waktu.

HEPATITIS
Masyarakat Indonesia, pada umumnya lebih mengenal penyakit hepatitis dengan sebutan penyakit kuning. Mengapa demikian? Ya, karena salah satu gejala dari penyakit hepatitis adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku, serta bagian putih pada bola mata. Warna tersebut berasal dari zat warna empedu hati yang tidak berfungsi sebagaimana biasanya.
Pada fase awal, penderita hepatitis belum merasakan gejala – gejala yang begitu spesifik. Oleh karena itu, hepatitis bisa dikatakan sebagai penyakit yang bersifat laten (merusak organ hati tanpa disadari oleh penderitanya). Jadi, organ hati tidak akan menunjukkan dirinya terinfeksi kecuali jika sudah cukup parah.
Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan pada sel – sel, jaringan bahkan semua bagian dari organ hati. Apabila semua organ hati sudah rusak, maka akan berkembang menjadi gagal hati yang dapat mengakibatkan kematian.
Memang benar, saat ini sudah ada teknologi transplantasi organ hati. Namun, apa itu akan sangat berpengaruh untuk semua penderita hepatitis? Jawabannya tentu tidak. Selain tingginya biaya yang dipatok oleh pihak rumah sakit, persentase keberhasilan pelaksanaan transplantasi organ hati pun masih sangat minim.

STEATOHEPATITIS
Steatohepatitis adalah perlemakan hati yang mengalami peradangan. Hal ini terjadi apabila ada ketidakseimbangan dalam metabolisme lemak dan karbohidrat sehingga lemak dapat tertimbun di dalam sel hati. Dan parahnya, penyakit lain seperti diabetes melitus, hiperkolesterolemia, hipertrigliserida, obesitas, serta pecandu alkohol, dapat mempertinggi kemungkinan terkena hepatitis karena mengganggu metabolisme lemak dalam tubuh manusia.
Adapun cara untuk meminimalisir kemungkinan tersebut, seperti :
 Penderita diabetes melitus dengan teratur diberikan terapi diet rendah gula,rendah karbohidrat, pemberian insulin atau obat anti diabetes.
 Penderita hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida dengan diet rendah lemak, olahraga, serta obat – obatan penurun kadar kolesterol dan trigliserida.
 Pendeita obesitas dengan diet rendah lemak, olahraga secara teratur, serta penurunan berat badan secara berkala.
 Pecandu alkohol dengan mengurangi konsumsi alkohol, memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung antioksidan, vitamin c, vitamin e, dan betakaroten, seperti apel, jeruk, wortel, tomat, bayam, dsb.

REALITA
Sangat celaka ketika penyakit hepatitis termasuk peringkat 10 besar penyebab kematian di dunia. Begitupun di Indonesia, sekitar 11 juta jiwa diperkirakan mengidap penyakit hepatitis B. Asumsinya, 1 dari 20 orang di Jakarta, menderita penyakit hepatitis B. Sedangkan untuk kasus hepatitis C sendiri berkisar antara 0.5% – 4% dari jumlah penduduk di Indonesia. Jadi, jika jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 220 juta jiwa, maka angka perkiraan penderita hepatitis C berkisar antara 1.1 – 8.8 juta penderita. Dan tentunya jumlah tersebut selalu terus bertambah untuk setiap tahunnya.
Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, prevelansi nasional hepatitis klinis sebesar 0.6%. Sebanyak 13 provinsi di Indonesia memiliki prevalansi di atas nasional. Bayangkan kalau rata – rata penderita penyakit hepatitis tersebut berada pada kisaran umur 15 – 25 tahun, seyogianya mereka berpotensi besar untuk menjadi bakal – bakal pemimpin Indonesia yang dapat diandandalkan. Berpikirlah sejenak. Renungkan. Relakah kita melihat mereka terpaksa membunuh semua mimpinya? Sanggupkah kita melihat waktu – waktu mereka terbengkalai hanya karena mereka tidak percaya lagi akan waktu yg dulu selalu berpihak padanya? TIDAK.
Apabila ditilik dari segi pelayanan kesehatan, Indonesia terbilang masih jauh dari kata “PERFECT”. Misalnya, pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat menengah ke bawah. Semuanya akan selalu berujung pada “VALUE”. Nilai yang merupakan tolok ukur dari totalitas pelayanan para pekerja kesehatan. Semakin besar nilai yang kita berikan, semakin baik pelayanannya. Sebaliknya, semakin kecil nilai yang kita berikan, semakin buruk pula pelayanannya. Intinya, timbal balik akan selalu ada.

PENGOBATAN HEPATITIS
Tindakan medis maupun non medis telah diupayakan untuk proses penyembuhan penyakit hepatitis. Namun, pada dasarnya semua kembali pada penderita. Adakah kemauan mereka untuk sembuh? Atau tetap membiarkan hepatitis membunuhnya secara perlahan – lahan? Bukan hanya fisik, tapi psikis, dan impian/cita – cita.
• Tindakan medis, seperti terapi suportif (terapi yang membantu agar fungsi – fungsi penting tubuh tetap bekerja dengan baik), terapi simtomasis (terapi yang diberikan kepada pasien untuk meringankan gejala – gejala penyakit), dan terapi kausatif (terapi yang berguna untuk menghilangkan penyebab dari hepatitis itu sendiri, seperti virus, dsb)
• Tindakan non medis, seperti akupuntur, akupresure, reflesiologi, pengobatan herbal, dll. Biasanya, tindakan ini bertindak sebagai jalan alternatif /komplementer dari tindakan medis.

KENALI SEJAK AWAL
Deteksi. Hindari hepatitis dan cegah kedatangannya sejak dini. Lakukanlah imunisasi serta pemeriksaan rutin seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti USG, sinar X, CT scan, atau MRI.
Hati merupakan aset terbesar yang dimiliki oleh manusia. Dengan hati, manusia dapat merubah dunia. Baik itu bayi, balita, anak – anak, remaja, bahkan orang tua pun dapat melakukannya. Seperti yang diketahui, walaupun hepatitis bersifat laten atau susah dideteksi, tapi pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Dan pastinya, lebih murah daripada pengobatan.
Dari fakta dan realita di atas, apakah hepatitis akan selalu menjadi pemenang? Mengapa hepatitis harus selalu mendoktrin masa depan kita? Bukankah kita masih memiliki jutaan mimpi yang siap direalisasikan? Untuk apa kita ada kalau selalu berpikir tiada? Hidup itu untuk kita, kita yang menentukan hidup dan mimpi kita. Bukan orang lain, dan pastinya bukan pula oleh sebuah penyakit.
Jadi, apa kalian siap untuk menjadi pemenang? Apa kalian siap mewujudkan mimpi – mimpi kalian?
Jawabannya, TENTU SIAP.

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s