Karapiah, Kota Tua “Dayeuh Kolot”

Setiap orang pasti memiliki cita rasa sejarah, karena tidak bisa dipungkiri bahwa disetiap kehidupan tidak akan lepas dari sejarah. Khususnya di bumi parahyangan. Pada waktu itu Sultan Hasanudin Hijrah dari Banten ke Karapiah (Dayeuhkolot) dan singgah di gunung Haruman. Sehingga di gunung Haruman ada napak tilas Sultan Hasanudin hingga sampai saat ini. Dari masa pemerintahan Tumenggung Wirangun-angun (1641-1681) yang dikenal dengan nama Karapiah. Pada waktu itu Bupati Karapiah adalah Wirangun-angun, Karapiah berada di sekitar sungai Citarum.

Keberadaan citarum tempo dulu jauh berbeda dengan keberadaan citarum saat ini. Sungai yang memanjang sekitar 270 km, berhulu di Cisantri Gunung Wayang dan berakhir di ujung Karawang. Air sungai yang bersih, dan sejuk. Keberadaan ibu Kota di sekitar sungai tidaklah mengherankan, mengingat manusia selalu menggantungkan kehidupannya pada sumber-sumber air. Sungai Citarum bersih dan jernih sering di jadikan pemandian bagi anak-anak, maupun aktivitas rumah tangga, itu hanyalah cerita tempo dulu yang dapat di ceritakan pada anak zaman sekarang.

Kesejarahan Dayeuhkolot sebagai ibu kota Bandung pada masa lampau dilengkapi pula dengan Sejarah cerita heroik Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan yang telah menghancurkan gudang mesiu Belanda. Pada bulan juli 1946, Toha, disertai pasukan Hizbullah dan pasukan Pangeran Papak, berjihad dengan meledakkan diri bersama 18.000 ton amunisi dan berbagai senjata api milik Belanda. Walaupun sampai saat ini Toha dan Ramdhan belum dinobatkan sebagai pahlawan nasional, tetapi mereka merupakan spirit pejuang Bandung selatan.

Dayeuhkolot sekarang bukan Karapiah, Karapiah merupakan masa lalu. Banyak yang telah berubah dari kota tua. Contoh yang real adalah Sungai Citarum saat ini tidak mampu menopang kehidupan masyarakat secara optimal. Bila musim kemarau tiba, citarum terlihat kering tanpa air dengan sampah yang berserakan dimana-mana. Bahkan warga memanfaatkan keringnya sungai di gunakan untuk menanam sayur – mayur di sisi sunga yang tak teraliri air. Sebaliknya ketika musim hujan, luapan air citarum menggenangi kawasan Andir, Cieunteung, dan Cangkuang.

Demikian pula dengan tata kota, belum ada perubahan yang mengarah pada resposisi Dayeuhkolot sebagai kota bersejarah. Kemacetan sepertinya merupakan konsumsi harian warga Dayeuhkolot. Para pedagang kaki lima dengan kios seadanya menutupi trotoar kota. Pasar Baleendah yang tadinya ditujukan sebagai pengganti posisi pasar Dayeuhkolot dan menarik semua para PKL, tidak pernah memenuhi fungsinya, dikarenakan alasan aksesibilitas transportasi yang tidak stategi.

Menata Dayeuhkolot tentulah bukan persoalan yang mudah. Adanya pertumbuhan industri roda empat dan roda dua yang semakin menjamur dan dibarengi pula dengan pola hidup yang konsumtif masyarakat, yang sudah tidak seimbang lagi.

Pendirian Masjid Agung Dayeuhkolot masjid As Sofya yang dibangun dan dipadukan dengan tempat berdagang, yang terletak di lantai dasar pun seakan menjadi legitimasi untuk tetap mempertahankan Dayeuhkolot sebagai kota kaki lima. Wibawa karapiah sebagai pusat pemerintah tempo dulu semakin runtuh dengan kekumuhan yang tidak pernah berakhir.

Dayeuhkolot merupakan daerah industri karena di kelilingi oleh pabrik-pabrik, Dayeuhkolot harus mampu mewadahi semuanya, tidak diskriminatif bagi setiap warga yang mencari penghidupan. Dayeuhkolot adalah milik semua, bila dilihat dari kacamata yang manusiawi.

Adapun persoalan lain yaitu perkara banjir tahunan. Banjir adalah penderitaan yang harus di carikan jalan keluarnya, pemerintah daerah Kab. Bandung sudah memiliki Perda Tata Ruang Wilayah. Penjabarannya dalam bentuk Rencana Detail Tata Ruang Kota Dayeuhkolot, tinggal menunggu pembahasan dengan DPRD.

Kewajiban kita sebagai penerus masa depan adalah mengembalikan bahkan menjaga dan melestarikan keindahan Dayeuhkolot kepada kenangan masa lalu, yang penuh dengan kejayaan dan citra kepahlawanan, tanpa harus bertabrakan dengan jeritan kaum proletar.

Oleh : Rica Mardiany S. (Pend. Akuntansi’09)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Advertisements

2 comments on “Karapiah, Kota Tua “Dayeuh Kolot”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s