Kampung Naga

Kampung Adat

Halaman Adat Kampung Naga

Minggu, 14 November 2010. UKM LPM MOMENTUM mengadakan kunjungan ke Kampung Naga yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, 30 kilometer arah barat kota Tasikmalaya. kami mengajak anggota MOMENTUM baru mengunjungi Kampung Naga dengan tujuan mencari wawasan tentang budaya yang ada di Kampung tersebut. dimana kami akan mengetahui keunikan sebuah dusun atau kampung yang menurutnya sampai saat ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang.

Luas Wilayah sekitar 1,5 hektar, berpenduduk 304 orang, dengan 110 rumah. Selain rumah, terdapat pula masjid, leuit atau lumbung padi serta ruang pertemuan disebut balai patemon. Dan masih ada satu bangunan dianggap keramat, terletak di Bumi Ageng di dataran lebih tinggi. Tidak setiap orang dan setiap saat boleh masuk ke bagunan tersebut. Hanya orang-orang dan waktu tertentu tempat itu boleh dimasuki yaitu ketika warga mengadakan upacara adat.

Kehidupan warga disana juga tidak berbeda dengan warga dusun lainnya. Keseharian mereka selain bercocok tanam, beternak, ada juga yang menjadi pedagang di kota. Untuk mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Saat kami sampai di area parkir disediakan cukup luas sejumlah kios kerajinan maupun makanan dan minuman pun kami dapat temui disana. Sebelum kami sampai di perkampungan kami harus menuruni anak tangga untuk bisa mencapai tujuan.

Jumlah tangga yang kami lewati sekitar kurang lebih berjumlah 300 trap yang dibuat berkelok. Sambil menuruni anak tangga, mata disuguhi pemandangan alam yang menyejukkan. Hamparan sawah di sisi kanan serta gemericiknya air sungai yang dihiasai bebatuan bulat hitam.

Kesan pertama, ketika sampai di tangga paling bawah dan akan masuk ke perkampungan, terlihat kolam ikan dan di atasnya terdapat kandang Ayam atau kambing. Awalnya kami melihat biasa saja tidak ada yang berbeda dengan perkampungan lain, dimana rutinitas yang dilakukan oleh warga sama saja. Kebetulan pada saat kami berkunjung ke Kampung Naga bertepatan pada saat panen padi, dimana kami bias melihat dari kegiatan para warganya moe pare atau menjemur padi yang sudah panen.

Ada yang membuat kami lebih merasa betah, nyaman karena lingkungan dan suasana disana sangan bersih. Kalau dalam istilah bahasa sunda “herang panon, tiis ceuli” Rumah dan halaman mereka terlihat sangat bersih. “Membersihkan rumah dan halaman menjadi kegiatan sehari-hari warga kampung,” ujar wakil kuncen (pemangku adat) Bapak Hen Hen. Semua rumah berdinding gedhek maupun bethek bambu, dan aturannya dimana semua rumah harus menghadap ke arah selatan atau utara. Atap menggunakan rumbia dilapisi ijuk.

Hal seperti ini merupakan adat yang harus dipatuhi warga. Aturan itu dimaksudkan agar penggunaan lahan lebih tertata. Kalau menghadap semaunya akan terasa sempit, dan akan terlihat semeraut ujar Bapak Hen Hen. Berbicara soal aturan yang harus ditaati, tidak hanya soal arah rumah. Ada beberapa pamali atau larangan harus dipatuhi mereka. Seperti dalam hal perlakuan terhadap hutan yang berada di sebelah barat dan timur kampung tersebut. Konon tidak ada seorang warga yang berani masuk. Bahkan aparat pemerintah pun juga dilarang masuk. Ada apa di dalam hutan, Bapak Hen Hen hanya menjawab ” ya itu pamali dan harus ditaati”.

Bapak Hen Hen juga menyebutkan ada hari-hari tertentu yaitu Selasa, Rabu dan Sabtu, warga tidak boleh bicara atau menceritakan soal silsilah keluarga. Sedang pada bulan-bulan tertentu tidak boleh melakukan ziarah. Cukup menarik, perkampungan itu juga menolak adanya listrik. Aneh tapi nyata, di zaman maju dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, listrik ditolak keberadaannya. Namun bagi warga mempunyai alasan kuat untuk menolak. Penolakan yang sama juga disampaikan, soal kehadiran kebudayaan atau jenis kesenian yang masuk ke kampung itu. Mereka melarang kesenian modern masuk, namun memberi kesempatan warganya untuk belajar di luar area perkampungan. Mereka tidak ingin adat yang berlaku selama ini menjadi luntur dan punah.

Adapun yang menjadi hal terpenting dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan Kampung Naga, soal pendidikan, saat ini yang paling tinggi hanya mengenyam sekolah dasar. Memang ada beberapa sampai sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tetapi mereka kemudian meninggalkan kampung halaman untuk merantau.

Mempersoalkan Mengapa mereka enggan bersekolah tinggi, mereka berpedoman pendidikan bisa dicapai dengan luang, galuang dan uang. Luang maksudnya bisa belajar sendiri, galuang belajar dari membaca atau bertanya kepada orang lain, sedang dengan uang bisa belajar di sekolah pendidikan formal.

Tidak ada yang membedakan dalam kehidupan sehari-hari dari warga kampong adat, warga kampung adat itu sama dengan penduduk desa lainnya. Meskipun kuat dengan adat dan agamanya, mereka tetap menjunjung penyelenggaraan pemerintahan. Semua bidang yang menyangkut pemerintahan mereka patuhi, seperti pembuatan KTP, PBB maupun ketentuan lainnya. Selain itu mereka juga tetap patuh dan taat terhadap adat yang berlaku.

Kedua-duanya sama-sama dipatuhi. Namun dalam kehidupan sehari-hari yang cukup mencolok dilaksankaan adalah kepatuhannya dalam adat. Semua larangan atau aturan adat, meskipun bagi orang luar tampak sederhana, tetap dipatuhi warga. “Kata-kata pamali sangat dipatuhi warga, meskipun untuk hal yang bagi orang luar kampung sini, dianggap sederhana atau sepele.”

Dalam satu tahun, pemangku adat mengadakan enam kali upacara, setiap bulan Muharam, Maulud, Jumadilakhir, Ruwah, Syawal dan Dulkaidah. Masing-masing upacara itu mempunyai makna serta kegiatan sendiri-sendiri. Kelembagaan adat dibagi tiga yaitu kuncen (pemangku adat) yang menjalankan upacara adat, punduh mengkoordinasi kegiatan kemasyarakat serta lebe yang mengurus jenazah.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, selain bertani atau beternak ayam dan kambing, warga juga membuat kerajinan tangah dari bambu. Hasil kerajinan itu dijual dengan dipajang di depan rumahnya. Seperti kere, seruling, bermacam hiasan rumah serta kerudung lampu. Setiap rumah penduduk model panggung dan dindingnya tampak dicat putih.

Ketika masuk ke rumah, tidak dijumpai meja atau kursi atau peralatan elektronik apapun, terkecuali televisi yang dihubungkan oleh aki supaya dapat menyala, dan untuk penerangan didalam rumah pada malam hari warga kampung adat menggunakan patromak. Hanya itu yang dapat kami temui disetiap rumah adat, dan yang lebih unik lagi bagi kami saat kami melihat dapur, dimana saat memasak masih menggunakan tungku hawu masih tradisional karena menggunakan bahan kayu bakar.

Itulah kehidupan masyarakat Kampung Naga yang masih sangat kuat menjunjung dan mentaati adat yang diwariskan nenek moyangnya.

Oleh : Rica Mardiany S. (Pend. Akuntansi’09)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s