Kampung Naga

Kampung Adat

Halaman Adat Kampung Naga

Minggu, 14 November 2010. UKM LPM MOMENTUM mengadakan kunjungan ke Kampung Naga yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Selawu, 30 kilometer arah barat kota Tasikmalaya. kami mengajak anggota MOMENTUM baru mengunjungi Kampung Naga dengan tujuan mencari wawasan tentang budaya yang ada di Kampung tersebut. dimana kami akan mengetahui keunikan sebuah dusun atau kampung yang menurutnya sampai saat ini masih memegang teguh tradisi nenek moyang.

Luas Wilayah sekitar 1,5 hektar, berpenduduk 304 orang, dengan 110 rumah. Selain rumah, terdapat pula masjid, leuit atau lumbung padi serta ruang pertemuan disebut balai patemon. Dan masih ada satu bangunan dianggap keramat, terletak di Bumi Ageng di dataran lebih tinggi. Tidak setiap orang dan setiap saat boleh masuk ke bagunan tersebut. Hanya orang-orang dan waktu tertentu tempat itu boleh dimasuki yaitu ketika warga mengadakan upacara adat.

Kehidupan warga disana juga tidak berbeda dengan warga dusun lainnya. Keseharian mereka selain bercocok tanam, beternak, ada juga yang menjadi pedagang di kota. Untuk mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Saat kami sampai di area parkir disediakan cukup luas sejumlah kios kerajinan maupun makanan dan minuman pun kami dapat temui disana. Sebelum kami sampai di perkampungan kami harus menuruni anak tangga untuk bisa mencapai tujuan.

Jumlah tangga yang kami lewati sekitar kurang lebih berjumlah 300 trap yang dibuat berkelok. Sambil menuruni anak tangga, mata disuguhi pemandangan alam yang menyejukkan. Hamparan sawah di sisi kanan serta gemericiknya air sungai yang dihiasai bebatuan bulat hitam.

Kesan pertama, ketika sampai di tangga paling bawah dan akan masuk ke perkampungan, terlihat kolam ikan dan di atasnya terdapat kandang Ayam atau kambing. Awalnya kami melihat biasa saja tidak ada yang berbeda dengan perkampungan lain, dimana rutinitas yang dilakukan oleh warga sama saja. Kebetulan pada saat kami berkunjung ke Kampung Naga bertepatan pada saat panen padi, dimana kami bias melihat dari kegiatan para warganya moe pare atau menjemur padi yang sudah panen.

Ada yang membuat kami lebih merasa betah, nyaman karena lingkungan dan suasana disana sangan bersih. Kalau dalam istilah bahasa sunda “herang panon, tiis ceuli” Rumah dan halaman mereka terlihat sangat bersih. “Membersihkan rumah dan halaman menjadi kegiatan sehari-hari warga kampung,” ujar wakil kuncen (pemangku adat) Bapak Hen Hen. Semua rumah berdinding gedhek maupun bethek bambu, dan aturannya dimana semua rumah harus menghadap ke arah selatan atau utara. Atap menggunakan rumbia dilapisi ijuk.

Hal seperti ini merupakan adat yang harus dipatuhi warga. Aturan itu dimaksudkan agar penggunaan lahan lebih tertata. Kalau menghadap semaunya akan terasa sempit, dan akan terlihat semeraut ujar Bapak Hen Hen. Berbicara soal aturan yang harus ditaati, tidak hanya soal arah rumah. Ada beberapa pamali atau larangan harus dipatuhi mereka. Seperti dalam hal perlakuan terhadap hutan yang berada di sebelah barat dan timur kampung tersebut. Konon tidak ada seorang warga yang berani masuk. Bahkan aparat pemerintah pun juga dilarang masuk. Ada apa di dalam hutan, Bapak Hen Hen hanya menjawab ” ya itu pamali dan harus ditaati”.

Bapak Hen Hen juga menyebutkan ada hari-hari tertentu yaitu Selasa, Rabu dan Sabtu, warga tidak boleh bicara atau menceritakan soal silsilah keluarga. Sedang pada bulan-bulan tertentu tidak boleh melakukan ziarah. Cukup menarik, perkampungan itu juga menolak adanya listrik. Aneh tapi nyata, di zaman maju dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, listrik ditolak keberadaannya. Namun bagi warga mempunyai alasan kuat untuk menolak. Penolakan yang sama juga disampaikan, soal kehadiran kebudayaan atau jenis kesenian yang masuk ke kampung itu. Mereka melarang kesenian modern masuk, namun memberi kesempatan warganya untuk belajar di luar area perkampungan. Mereka tidak ingin adat yang berlaku selama ini menjadi luntur dan punah.

Adapun yang menjadi hal terpenting dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan Kampung Naga, soal pendidikan, saat ini yang paling tinggi hanya mengenyam sekolah dasar. Memang ada beberapa sampai sekolah menengah dan perguruan tinggi. Tetapi mereka kemudian meninggalkan kampung halaman untuk merantau.

Mempersoalkan Mengapa mereka enggan bersekolah tinggi, mereka berpedoman pendidikan bisa dicapai dengan luang, galuang dan uang. Luang maksudnya bisa belajar sendiri, galuang belajar dari membaca atau bertanya kepada orang lain, sedang dengan uang bisa belajar di sekolah pendidikan formal.

Tidak ada yang membedakan dalam kehidupan sehari-hari dari warga kampong adat, warga kampung adat itu sama dengan penduduk desa lainnya. Meskipun kuat dengan adat dan agamanya, mereka tetap menjunjung penyelenggaraan pemerintahan. Semua bidang yang menyangkut pemerintahan mereka patuhi, seperti pembuatan KTP, PBB maupun ketentuan lainnya. Selain itu mereka juga tetap patuh dan taat terhadap adat yang berlaku.

Kedua-duanya sama-sama dipatuhi. Namun dalam kehidupan sehari-hari yang cukup mencolok dilaksankaan adalah kepatuhannya dalam adat. Semua larangan atau aturan adat, meskipun bagi orang luar tampak sederhana, tetap dipatuhi warga. “Kata-kata pamali sangat dipatuhi warga, meskipun untuk hal yang bagi orang luar kampung sini, dianggap sederhana atau sepele.”

Dalam satu tahun, pemangku adat mengadakan enam kali upacara, setiap bulan Muharam, Maulud, Jumadilakhir, Ruwah, Syawal dan Dulkaidah. Masing-masing upacara itu mempunyai makna serta kegiatan sendiri-sendiri. Kelembagaan adat dibagi tiga yaitu kuncen (pemangku adat) yang menjalankan upacara adat, punduh mengkoordinasi kegiatan kemasyarakat serta lebe yang mengurus jenazah.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, selain bertani atau beternak ayam dan kambing, warga juga membuat kerajinan tangah dari bambu. Hasil kerajinan itu dijual dengan dipajang di depan rumahnya. Seperti kere, seruling, bermacam hiasan rumah serta kerudung lampu. Setiap rumah penduduk model panggung dan dindingnya tampak dicat putih.

Ketika masuk ke rumah, tidak dijumpai meja atau kursi atau peralatan elektronik apapun, terkecuali televisi yang dihubungkan oleh aki supaya dapat menyala, dan untuk penerangan didalam rumah pada malam hari warga kampung adat menggunakan patromak. Hanya itu yang dapat kami temui disetiap rumah adat, dan yang lebih unik lagi bagi kami saat kami melihat dapur, dimana saat memasak masih menggunakan tungku hawu masih tradisional karena menggunakan bahan kayu bakar.

Itulah kehidupan masyarakat Kampung Naga yang masih sangat kuat menjunjung dan mentaati adat yang diwariskan nenek moyangnya.

Oleh : Rica Mardiany S. (Pend. Akuntansi’09)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Karapiah, Kota Tua “Dayeuh Kolot”

Setiap orang pasti memiliki cita rasa sejarah, karena tidak bisa dipungkiri bahwa disetiap kehidupan tidak akan lepas dari sejarah. Khususnya di bumi parahyangan. Pada waktu itu Sultan Hasanudin Hijrah dari Banten ke Karapiah (Dayeuhkolot) dan singgah di gunung Haruman. Sehingga di gunung Haruman ada napak tilas Sultan Hasanudin hingga sampai saat ini. Dari masa pemerintahan Tumenggung Wirangun-angun (1641-1681) yang dikenal dengan nama Karapiah. Pada waktu itu Bupati Karapiah adalah Wirangun-angun, Karapiah berada di sekitar sungai Citarum.

Keberadaan citarum tempo dulu jauh berbeda dengan keberadaan citarum saat ini. Sungai yang memanjang sekitar 270 km, berhulu di Cisantri Gunung Wayang dan berakhir di ujung Karawang. Air sungai yang bersih, dan sejuk. Keberadaan ibu Kota di sekitar sungai tidaklah mengherankan, mengingat manusia selalu menggantungkan kehidupannya pada sumber-sumber air. Sungai Citarum bersih dan jernih sering di jadikan pemandian bagi anak-anak, maupun aktivitas rumah tangga, itu hanyalah cerita tempo dulu yang dapat di ceritakan pada anak zaman sekarang.

Kesejarahan Dayeuhkolot sebagai ibu kota Bandung pada masa lampau dilengkapi pula dengan Sejarah cerita heroik Mohammad Toha dan Mohammad Ramdhan yang telah menghancurkan gudang mesiu Belanda. Pada bulan juli 1946, Toha, disertai pasukan Hizbullah dan pasukan Pangeran Papak, berjihad dengan meledakkan diri bersama 18.000 ton amunisi dan berbagai senjata api milik Belanda. Walaupun sampai saat ini Toha dan Ramdhan belum dinobatkan sebagai pahlawan nasional, tetapi mereka merupakan spirit pejuang Bandung selatan.

Dayeuhkolot sekarang bukan Karapiah, Karapiah merupakan masa lalu. Banyak yang telah berubah dari kota tua. Contoh yang real adalah Sungai Citarum saat ini tidak mampu menopang kehidupan masyarakat secara optimal. Bila musim kemarau tiba, citarum terlihat kering tanpa air dengan sampah yang berserakan dimana-mana. Bahkan warga memanfaatkan keringnya sungai di gunakan untuk menanam sayur – mayur di sisi sunga yang tak teraliri air. Sebaliknya ketika musim hujan, luapan air citarum menggenangi kawasan Andir, Cieunteung, dan Cangkuang.

Demikian pula dengan tata kota, belum ada perubahan yang mengarah pada resposisi Dayeuhkolot sebagai kota bersejarah. Kemacetan sepertinya merupakan konsumsi harian warga Dayeuhkolot. Para pedagang kaki lima dengan kios seadanya menutupi trotoar kota. Pasar Baleendah yang tadinya ditujukan sebagai pengganti posisi pasar Dayeuhkolot dan menarik semua para PKL, tidak pernah memenuhi fungsinya, dikarenakan alasan aksesibilitas transportasi yang tidak stategi.

Menata Dayeuhkolot tentulah bukan persoalan yang mudah. Adanya pertumbuhan industri roda empat dan roda dua yang semakin menjamur dan dibarengi pula dengan pola hidup yang konsumtif masyarakat, yang sudah tidak seimbang lagi.

Pendirian Masjid Agung Dayeuhkolot masjid As Sofya yang dibangun dan dipadukan dengan tempat berdagang, yang terletak di lantai dasar pun seakan menjadi legitimasi untuk tetap mempertahankan Dayeuhkolot sebagai kota kaki lima. Wibawa karapiah sebagai pusat pemerintah tempo dulu semakin runtuh dengan kekumuhan yang tidak pernah berakhir.

Dayeuhkolot merupakan daerah industri karena di kelilingi oleh pabrik-pabrik, Dayeuhkolot harus mampu mewadahi semuanya, tidak diskriminatif bagi setiap warga yang mencari penghidupan. Dayeuhkolot adalah milik semua, bila dilihat dari kacamata yang manusiawi.

Adapun persoalan lain yaitu perkara banjir tahunan. Banjir adalah penderitaan yang harus di carikan jalan keluarnya, pemerintah daerah Kab. Bandung sudah memiliki Perda Tata Ruang Wilayah. Penjabarannya dalam bentuk Rencana Detail Tata Ruang Kota Dayeuhkolot, tinggal menunggu pembahasan dengan DPRD.

Kewajiban kita sebagai penerus masa depan adalah mengembalikan bahkan menjaga dan melestarikan keindahan Dayeuhkolot kepada kenangan masa lalu, yang penuh dengan kejayaan dan citra kepahlawanan, tanpa harus bertabrakan dengan jeritan kaum proletar.

Oleh : Rica Mardiany S. (Pend. Akuntansi’09)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

Proses Pembuatan Batik

Proses pembuatan batik tulis tangan :

1. Membuat pola dasar pada kain putih dengan pensil.
2. Membatik pola dasar pada kain putih dengan lilin, sesuai garis pensil secara bolak-balik.
3. Member isian pada proses nomor 2 dengan titik-titik dan gurat-gurat dengan lilin.
4. Menutup dengan lilin bagian-bagian yang akan tetap putih sampai selesai.
5. Mencelup ke dalam warna pertama, untuk variasi.
6. Menutup bagian-bagian yang akan tetap pada warna pertama dengan lilin.
7. Mencelup dalam warna kedua.
8. Menggodog untuk menghilangkan semua lilin.
9. Mengulang membatik pada pola dassar dengan titik-titik, dan mengulang menutup (nomor 4).
10. Menutup warna-warna pertama dan warna kedua, agar tidak terkena warna berikutnya.
11. Mencelup untuk member warna pada pola dasar.
12. Mengulang menggodog untuk menghilangkan semua lilin, dan selesai.

Proses pembuatan batik dengan cap :

1. Membuat pinggiran dengan cap khusus dengan lilin pada kedua belah sisi secara bolak-balik.
2. Member lilin dasar dengan cap pola dasar, pada kedua belah sisi.
3. Mengulang member lilin bagian-bagian yang akan tetap tinggal putih hingga selesai.
4. Mencelup dalam warna dasar.
5. Meghilangkan lilin pada bagian-bagian tertentu untuk mendapatkan warna berikutnya.
6. Menutup warna dasar agar tidak terkena warna berikutnya.
7. Mencelup dalam warna terakhir, untuk member warna pada pola dasar.
8. Menggodog untuk menghilangkan semua lilin, dan selesai.

Sumber : Pesona Batik Asli Batik Indah “RARADJONGGRANG” Yogyakarta.

Oleh : Nenx Anissa C.W (Pend. Akuntansi’09)

Ditulis dengan WordPress untuk Blackberry

PENYAKIT HATI PENGKEBIRI MIMPI

Hepatitis. Apa yang ada di benak Anda ketika mendapati hasil tes laboratorium menuliskan bahwa Anda positif terjangkit penyakit tersebut? Apakah Anda akan bersikap layaknya Anda di hari – hari sebelumnya? Ataukah Anda akan banyak mengurung diri dan mengutuk diri Anda sendiri?

Ada indikasi kuat bahwasanya Anda akan lebih condong berada pada posisi yang tidak sewajarnya; pendiam, pesimis, cemas, ragu – ragu, malas, takut, krisis percaya diri, dsb. Pada intinya, hepatitis telah merenggut anda dari diri anda sendiri. Dunia serasa sudah tak berpihak lagi pada Anda. Tiada harapan maupun impian lebih selain menunggu waktu.

HEPATITIS
Masyarakat Indonesia, pada umumnya lebih mengenal penyakit hepatitis dengan sebutan penyakit kuning. Mengapa demikian? Ya, karena salah satu gejala dari penyakit hepatitis adalah timbulnya warna kuning pada kulit, kuku, serta bagian putih pada bola mata. Warna tersebut berasal dari zat warna empedu hati yang tidak berfungsi sebagaimana biasanya.
Pada fase awal, penderita hepatitis belum merasakan gejala – gejala yang begitu spesifik. Oleh karena itu, hepatitis bisa dikatakan sebagai penyakit yang bersifat laten (merusak organ hati tanpa disadari oleh penderitanya). Jadi, organ hati tidak akan menunjukkan dirinya terinfeksi kecuali jika sudah cukup parah.
Peradangan pada sel hati dapat menyebabkan kerusakan pada sel – sel, jaringan bahkan semua bagian dari organ hati. Apabila semua organ hati sudah rusak, maka akan berkembang menjadi gagal hati yang dapat mengakibatkan kematian.
Memang benar, saat ini sudah ada teknologi transplantasi organ hati. Namun, apa itu akan sangat berpengaruh untuk semua penderita hepatitis? Jawabannya tentu tidak. Selain tingginya biaya yang dipatok oleh pihak rumah sakit, persentase keberhasilan pelaksanaan transplantasi organ hati pun masih sangat minim.

STEATOHEPATITIS
Steatohepatitis adalah perlemakan hati yang mengalami peradangan. Hal ini terjadi apabila ada ketidakseimbangan dalam metabolisme lemak dan karbohidrat sehingga lemak dapat tertimbun di dalam sel hati. Dan parahnya, penyakit lain seperti diabetes melitus, hiperkolesterolemia, hipertrigliserida, obesitas, serta pecandu alkohol, dapat mempertinggi kemungkinan terkena hepatitis karena mengganggu metabolisme lemak dalam tubuh manusia.
Adapun cara untuk meminimalisir kemungkinan tersebut, seperti :
 Penderita diabetes melitus dengan teratur diberikan terapi diet rendah gula,rendah karbohidrat, pemberian insulin atau obat anti diabetes.
 Penderita hiperkolesterolemia dan hipertrigliserida dengan diet rendah lemak, olahraga, serta obat – obatan penurun kadar kolesterol dan trigliserida.
 Pendeita obesitas dengan diet rendah lemak, olahraga secara teratur, serta penurunan berat badan secara berkala.
 Pecandu alkohol dengan mengurangi konsumsi alkohol, memperbanyak konsumsi buah dan sayuran yang banyak mengandung antioksidan, vitamin c, vitamin e, dan betakaroten, seperti apel, jeruk, wortel, tomat, bayam, dsb.

REALITA
Sangat celaka ketika penyakit hepatitis termasuk peringkat 10 besar penyebab kematian di dunia. Begitupun di Indonesia, sekitar 11 juta jiwa diperkirakan mengidap penyakit hepatitis B. Asumsinya, 1 dari 20 orang di Jakarta, menderita penyakit hepatitis B. Sedangkan untuk kasus hepatitis C sendiri berkisar antara 0.5% – 4% dari jumlah penduduk di Indonesia. Jadi, jika jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah 220 juta jiwa, maka angka perkiraan penderita hepatitis C berkisar antara 1.1 – 8.8 juta penderita. Dan tentunya jumlah tersebut selalu terus bertambah untuk setiap tahunnya.
Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, prevelansi nasional hepatitis klinis sebesar 0.6%. Sebanyak 13 provinsi di Indonesia memiliki prevalansi di atas nasional. Bayangkan kalau rata – rata penderita penyakit hepatitis tersebut berada pada kisaran umur 15 – 25 tahun, seyogianya mereka berpotensi besar untuk menjadi bakal – bakal pemimpin Indonesia yang dapat diandandalkan. Berpikirlah sejenak. Renungkan. Relakah kita melihat mereka terpaksa membunuh semua mimpinya? Sanggupkah kita melihat waktu – waktu mereka terbengkalai hanya karena mereka tidak percaya lagi akan waktu yg dulu selalu berpihak padanya? TIDAK.
Apabila ditilik dari segi pelayanan kesehatan, Indonesia terbilang masih jauh dari kata “PERFECT”. Misalnya, pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat menengah ke bawah. Semuanya akan selalu berujung pada “VALUE”. Nilai yang merupakan tolok ukur dari totalitas pelayanan para pekerja kesehatan. Semakin besar nilai yang kita berikan, semakin baik pelayanannya. Sebaliknya, semakin kecil nilai yang kita berikan, semakin buruk pula pelayanannya. Intinya, timbal balik akan selalu ada.

PENGOBATAN HEPATITIS
Tindakan medis maupun non medis telah diupayakan untuk proses penyembuhan penyakit hepatitis. Namun, pada dasarnya semua kembali pada penderita. Adakah kemauan mereka untuk sembuh? Atau tetap membiarkan hepatitis membunuhnya secara perlahan – lahan? Bukan hanya fisik, tapi psikis, dan impian/cita – cita.
• Tindakan medis, seperti terapi suportif (terapi yang membantu agar fungsi – fungsi penting tubuh tetap bekerja dengan baik), terapi simtomasis (terapi yang diberikan kepada pasien untuk meringankan gejala – gejala penyakit), dan terapi kausatif (terapi yang berguna untuk menghilangkan penyebab dari hepatitis itu sendiri, seperti virus, dsb)
• Tindakan non medis, seperti akupuntur, akupresure, reflesiologi, pengobatan herbal, dll. Biasanya, tindakan ini bertindak sebagai jalan alternatif /komplementer dari tindakan medis.

KENALI SEJAK AWAL
Deteksi. Hindari hepatitis dan cegah kedatangannya sejak dini. Lakukanlah imunisasi serta pemeriksaan rutin seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti USG, sinar X, CT scan, atau MRI.
Hati merupakan aset terbesar yang dimiliki oleh manusia. Dengan hati, manusia dapat merubah dunia. Baik itu bayi, balita, anak – anak, remaja, bahkan orang tua pun dapat melakukannya. Seperti yang diketahui, walaupun hepatitis bersifat laten atau susah dideteksi, tapi pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Dan pastinya, lebih murah daripada pengobatan.
Dari fakta dan realita di atas, apakah hepatitis akan selalu menjadi pemenang? Mengapa hepatitis harus selalu mendoktrin masa depan kita? Bukankah kita masih memiliki jutaan mimpi yang siap direalisasikan? Untuk apa kita ada kalau selalu berpikir tiada? Hidup itu untuk kita, kita yang menentukan hidup dan mimpi kita. Bukan orang lain, dan pastinya bukan pula oleh sebuah penyakit.
Jadi, apa kalian siap untuk menjadi pemenang? Apa kalian siap mewujudkan mimpi – mimpi kalian?
Jawabannya, TENTU SIAP.

Oleh : Lisna Kristianti (IKOM’10)

Dasar – Dasar Jurnalistik

1. Jurnalistik
Jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada khalayak melalui saluran media tertentu. Ditelusur dari akar katanya (diurma harian, Latin; jour hari, Prancis), jurnalistik adalah kegiatan membuat laporan harian, mulai dari tahap peliputan sampai dengan penyebarannya. Jurnalistik sering disebut juga sebagai jurnalisme (journalism). Berdasarkan media yang digunakannya, jurnalistik sering dibedakan menjadi jurnalistik cetak (print journalism) dan jurnalistik elektronik (electronic journalism). Beberapa tahun belakangan ini muncul pula jurnalistik online (online journalism).

Di samping jurnalistik atau jurnalisme dikenal pula istilah pers (press). Dalam pengertian sempit
pers adalah publikasi secara tercetak (printed publication), melalui media cetak, baik suratkabar, majalah, buletin, dsb. Pengertian ini kemudian meluas sehingga mencakup segala penerbitan, bahkan yang tidak tercetak sekalipun, misalnya publikasi melalui media elektronik semacam radio dan televisi. Berdasarkan pengertian ini, dapat dikatakan bahwa jurnalistik tercakup sebagai bidang kegiatan pers; sementara tidak semua kerja pers tercakup sebagai jurnalistik. Walaupun begitu, sering kali keduanya dipersamakan atau dicampuradukkan.

2. Berita
Lalu, apa itu berita? Berita (news) adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang
terbaru (aktual); laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting,
atau luar biasa. Kecuali itu, masih banyak batasan lain mengenai berita. Beberapa batasan yang
sudah sangat terkenal, sehingga perlu kita ketahui juga, adalah

– Baris Tanggal
– Teras Berita
– Tubuh
– Berita

5. Unsur – Unsur Berita
Khususnya bagian tubuh berita dan teras (bila ada) diharapkan hanya mengandung unsur-unsur yang berupa fakta, unsur-unsur faktual, dengan meminimalkan unsur-unsur non-faktual yang berupa opini. Apa yang disebut sebagai fakta di dalam kerja jurnalistik terurai menjadi enam unsur yang biasa diringkas dalam sebuah rumusan klasik 5W + 1H.

(1) What apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
(2) Who siapa yang terlibat di dalamnya?
(3) Where di mana terjadinya peristiwa itu?
(4) When kapan terjadinya?
(5) Why mengapa peristiwa itu terjadi?
(6) How bagaimana terjadinya?

6. Jenis – Jenis Berita
Berita dalam pengertian di atas secara lebih spesifik dinamakan sebagai straight news. Straight news yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering disebut sebagai berita keras (hard news). Simak sekali lagi ketiga contoh berita di atas. Sementara straight news tentang hal-hal lain semisal olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau lunak (soft news). Mengenai berita lunak ini, silakan Anda mencari contohnya sendiri. Di samping itu dikenal juga jenis berita yang dinamakan feature, berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human interest). Berbeda dengan penulisan straight news, sebuah feature tidak menerapkan teknik piramida terbalik dan tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas.

Ada lagi yang dinamakan berita investigatif (investigative news; kerjanya disebut sebagai investigative reporting), yang merupakan hasil penyelidikan seorang atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dengan lebih mengedepankan unsur why dalam pelaporannya.
Contohnya bisa dicari dengan mudah di majalah berita sejenis Tempo dll. Di televisi juga bisa ditemukan di dalam program semacam Fakta, Kupas Tuntas, dsb.

7. Opini
Di dalam sebuah media massa cetak, khususnya suratkabar dan majalah berita, biasa kita temukan juga halaman khusus yang diperuntukkan bagi karangan-karangan yang berupa opini. Karangan-karangan ini di dalam tradisi jurnalistik biasa dibedakan menjadi tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom (column), dan surat pembaca. Tajuk rencana berisi opini pihak pengelola suratkabar yang diwakili oleh seorang redaktur, biasanya yang sudah senior, mengenai suatu peristiwa aktual.

Sementara artikel opini atau kolom berisi opini seseorang (bisa orang dalam, bisa juga orang luar, entah intelektual, praktisi, pakar, mahasiswa, atau apapun) atas persoalan-persoalan yang
dianggap aktual.

Terakhir, surat pembaca, sesuai dengan namanya, adalah surat yang dikirimkan oleh pembaca yang berisi komentar, pendapat, atau apapun, mengenai suatu masalah.

Di luar ketiganya, di dalam jurnalistik Indonesia dikenal juga satu jenis karangan opini yang sangat khas, ditulis dalam beberapa kalimat ringkas, pendek, dan nakal, sering sebut sebagai pojok, yang ditulis oleh pihak redaktur untuk menyentil beberapa peristiwa aktual. Contohnya, silakan cari sendiri.

@mJ_JBWKZ